Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
34 Opa Di Masa Lalu


__ADS_3

34 OPA DI MASA LALU


"Apaan sih, dia terus yang muncul. Gak bosan apa!" Rissa terus bersungut-sungut melihat Khea yang terus muncul di layar televisi.


"Seperti tidak ada orang lain saja, yang lebih bagus," lanjutnya, bicara pada diri sendiri.


Rissa mematikan televisi saat semua saluran mengiklankan Khea, yang terlihat cantik. Bagi dia, wajah Khea itu membosankan, kenapa banyak produk iklan yang menjadikan Khea sebagai modelnya?


Dia belum tahu saja, kalau Khea pun akan mengiklankan produk kecantikan baru dan produk-produk lainnya. Kalau Rissa sudah melihatnya, pasti hatinya akan semakin panas.


Di tempat lain, Ken juga sama, meski dengan sedikit perasaan yang berbeda.


Ken menatap wajah cantik itu, yang setiap hari menjadi perbincangan di media sosial, dan sering berseliweran di layar televisi. Dia mematikan televisi itu, tidak mau terus-terusan melihatnya.


Bisa-bisa aku tidak bekerja, kalau selalu melihat dirinya.


Ken mulai membuka berkas-berkas, setiap membaca, seolah tulisan itu menuliskan nama Khea. Setiap membubuhkan tanda tangan, seolah wajah Khea yang dia lihat.


Namun, justru karena itulah, Ken merasa bisa mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Dia bisa begitu bersemangat, seolah ada yang menggenggam tangannya dan mendorongnya untuk terus, dan terus bekerja.


Sampai-sampai dia tidak tahu, kalau opanya sudah duduk di hadapannya, dan memperhatikan dirinya yang terlihat sangat gesit.

__ADS_1


Pria tua itu berdehem, tapi Ken diam saja. Tetap fokus dengan apa yang dia lakukan. Opa bukannya marah, justru merasa senang, karena memang inilah yang dia sukai, yang dia harapkan dari cucu satu-satunya itu.


"Opa senang kamu seperti ini."


Ken langsung mengangkat wajahnya.


"Opa? Kapan opa datang?"


"Sudah beberapa saat yang lalu."


"Maaf Opa, Ken tidak tahu."


"Ya, tidak masalah. Opa tahu pekerjaan kamu sudah sangat banyak, dan opa senang kamu bisa giat bekerja."


Ambisius, bukan berarti opa akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara kotor sekali pun. Bukan, tapi bekerja lebih banyak dari orang-orang pada umumnya.


Disiplin, karena waktu sangat berharga. Bayangkan saja, hanya setelah beberapa detik pintu gerbang sekolah ditutup, dan kamu baru datang, efeknya akan sangat panjang. Mendapatkan hukuman, teguran, ketinggalan pelajaran, dan sebagainya. Bahkan jika terlalu sering, kamu akan mendapatkan surat panggilan untuk orang tua karena tidak disiplin.


Hanya karena sepersekian detik yang kamu abaikan.


Itu yang selalu opa tekankan pada Ken, jangan sampai terlambat, karena waktu sedetik pun, akan sangat berharga dan bisa fatal.

__ADS_1


Opa selalu keras pada Ken.


"Suatu saat nanti, kamu yang akan menggantikan opa dan ayah kamu. Kamu harus memimpin semua perusahaan. Kalau kamu tidak menyiapkan diri dari sekarang, bisa-bisa nanti kamu gila karena tertekan dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan!"


Ken juga memiliki perusahaan sendiri, yang bukan dari keluarga, dan itu semakin membuat opa bangga.


Tapi ....


Yang opa tidak terima, Ken dan kedua orang tuanya melakukan kesalahan.


Menjodohkan Ken dengan Vara tanpa ijin dari opa. Meskipun saat itu, mereka bertunangan juga karena keinginan mereka sendiri, bukan sekedar karena perjodohan.


"Apa sampai sekarang kamu masih bodoh juga, Ken? Opa menyesal sudah lalai mengawasi kamu!"


Itu yang dulu opa katakan saat tahu Ken telah bertunangan dengan Vara.


Tapi ke mana Vana? Vana yang sejak kecil sering ada dalam pangkuan opa. Vana yang selalu mendapatkan hadiah yang mahal-mahal dari opa. Vana yang suka diajak jalan-jalan oleh opa dan Oma Ken.


Lalu ....


Saat opa tahu, kalau Ken sudah menghamili Vana, tidak mau mengakui apalagi bertanggung jawab, hancur sudah rasa bangga pada cucunya itu.

__ADS_1


Opa merasa gagal dan sangat kecewa dengan cucu satu-satunya yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan dia.


__ADS_2