
Sahabat-sahabat Khea juga merasa geram. Mereka ingin menuntut orang-orang itu yang mencemarkan nama baik dan tindakan tidak menyenangkan.
Khea sendiri biasa saja, hanya saja dia tidak suka jika anaknya dibawa-bawa. Apa yang terjadi dalam hidupnya di masa lalu, bukanlah salah Gean.
"Gean mau ke taman bermain?" ajak Khea. Khea tahu anaknya itu suka membuka internet, jadi ada kemungkinan besar Gean sudah mengetahui berita tentang mereka.
"Tidak, nanti uang mommy cepat habis, terus mommy jadi harus bekerja lebih keras lagi. Gean tidak mau."
Khea mengacak rambut Gean gemas, lalu mengecup kedua pipi Gean.
"Mommy kan punya banyak uang. Kamu tahu sendiri kan kalau butik mommy sangat laris dan terkenal."
"Mommy, bagaimana kalau kita ke supermarket. Kita belanja untuk masak bersama saja."
"Gean mau makan apa?"
"Mie rebus."
Khea kembali tertawa. Entah kenapa anaknya ini sangat ngirit. Mungkin Gean benar-benar takut mommy dia akan kehabisan uang dan akhirnya harus banting tulang untuk kebutuhan dirinya sampai dewasa nanti.
"Bagaimana kalau kita mengajak para aunty dan uncle, lalu kita rampok mereka?"
Tanpa menunggu jawaban dari Gean, Khea lalu menghubungi para sahabatnya yang ada di dalam grup.
__ADS_1
[Ayo jalan sama Gean.]
[Ayo!]
[Oke.]
[Jam makan siang, ya.]
[Asyik, ditraktir.]
[Dasar!]
Mendekati jam makan siang, Khea dan Gean ke mall. Mereka memang lebih suka makan di restoran yang ada di dalam mall, karena biar bisa sekalian jalan-jalan dan membeli kebutuhan dapur.
Ibu dan anak itu selalu terlihat kompak dalam berbusana. Seorang CEO dan produser film melihat Khea dan Gean, ingin sekali mengajak mereka untuk melakukan kerja sama. Dia lalu mendekati ibu dan anak itu.
"Ya?"
"Perkenalkan, saya Dennis Jang, produser dari Jang Entertainment. Boleh saya duduk di sini?"
"Silahkan."
Tentu saja Khea tidak akan bersikap arogan dengan mengatakan tidak. Kalau bisa menjalin kerja sama dengan Jang Entertainment, dia bisa memperluas bisnisnya dan mungkin akan merambat ke jalur lainnya.
__ADS_1
"Begini, saya. ingin mengajak Anda dan anak Anda untuk bergabung dengan perusahaan saya."
"Bisa lebih diperjelas lagi?"
"Saya ingin kalian berdua menjadi model dan bermain dalam film yang masih dalam perencanaan. Tapi saya jamin, film ini sangat pas dibintangi oleh kalian berdua."
"Tapi saya tidak tertarik untuk bermain film. Saya pikir Anda ingin mengajak kerja sama untuk butik saya. Anda bisa menggunakan brand saya pada artis-artis Anda. Begini, saya tahu perusahaan Anda memiliki beberapa bintang baru yang sedang naik daun. Kalau mereka memakai brand saya, tentu saja itu akan menarik perhatian banyak orang. Pendatang baru yang memakai barang branded, bukankah itu sangat menarik?"
Mr Jang berpikir arah dari pembicaraan ini, selain masalah bisnis.
"Maksud Anda ...."
"Pasti banyak netizen yang akan membicarakan mereka. Bagaimana bisa pendatang baru memiliki barang semahal itu? Yang sudah lebih senior saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Pasti mereka adalah sugar baby dari para pengusaha."
"Maksud Anda, Anda ingin memanfaatkan komentar publik untuk menaikkan pamor mereka?"
"Bukan hanya pamor mereka, tapi juga brand milikku."
"Bukankah itu sangat beresiko? Bisa saja yang terjadi malah sebaliknya. Karir mereka bisa hancur."
"Bukankah itu resiko? Selalu ada perjuangan untuk mencapai sesuatu. Toh mereka tidak benar-benar menjadi sugar baby atau perusak rumah tangga orang, kan? Dan apa Anda pikir saya bisa menjadi seperti sekarang ini tidak ada rintangan? Sebagai orang yang terjun di dunia entertainment, Anda pasti sudah mendengar berita tentang saya?"
Dennis menatap perempuan yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Kalau takut, maka jangan pernah memulainya!" lanjut Khea.
Dennis kini tahu kenapa perempuan ini bisa mencapai kesuksesannya sekarang.