Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
36 Mendengar Diam-Diam


__ADS_3

36 MENDENGAR DIAM-DIAM


"Ayo, nambah lagi. Makan yang banyak, Gean. Kamu juga Khea."


"Gean mau makan apa lagi?" tanya Khea.


"Sudah kenyang, Mom."


Ken memperhatikan Khea yang banyak makan. Bukannya ilfil atau apa, karena Ken berpikir biasanya perempuan yang berkecimpung di dunia entertainment, terutama seorang model, akan memperhatikan pola makannya. Tapi tidak begitu dengan Khea, dia makan cukup banyak, dan tidak jaga image, dan Ken menyukai itu.


"Opa, maaf, tapi aku dan Gean harus segera pergi. Aku masih banyak pekerjaan."


"Baiklah. Kapan-kapan kita makan bersama lagi ya, Gean?"


Gean diam saja. Opa juga tidak masalah. Gean tidak menolak makan bersama saja, sudah bagus, dan opa sangat bersyukur akan hal itu.


Begitu Khea dan Gean pergi, opa baru menatap Ken.


"Apa kamu sudah puas memandangi mereka?"


"Belum."


Opa mendengkus mendengar jawaban Ken.

__ADS_1


"Nikmati rasa penyesalan kamu itu, Ken. Bertaubat lah dengan sebaik mungkin. Memohon ampun pada Tuhan. Ingat, hanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati seseorang."


"Lagipula, sampai sekarang opa masih tidak habis pikir, kenapa kamu bisa melakukan hal itu. Apa yang terjadi padamu saat itu?"


"Aku ... juga tidak tahu, opa. Aku benar-benar lupa setelah kejadian itu. Kalau aku ingat, aku pasti akan langsung menikahi Vana. Bukan malah pergi begitu saja."


Opa melihat keseriusan di mata Ken. Cucunya itu memang berkata jujur.


Lupa, bukan pura-pura lupa.


Memang itulah yang terjadi. Ken tidak mengada-ada. Apa karena efek kelelahan dan stress.


"Lagipula, kalau memang aku brengsek, dan tidak mau mengakuinya, maka sampai sekarang pun, aku tetap tidak akan mau mengakuinya. Akan selalu mencari-cari alasan dan pembenaran terhadap diri sendiri, Opa."


"Aku tidak meminta untuk melakukan tes DNA, hanya untuk membuktikan kalau Gean memang anakku. Aku mengakui kesalahanku di depan orang-orang. Meski harus menerima hujatan dan makian. Meski perusahaan harus mengalami guncangan."


Lebih baik seorang pendosa tapi mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf, daripada bersikap seperti orang baik-baik tapi munafik dan tetap tidak merasa bersalah, meski bukti ada di depan mata.


"Opa dan Oma akan selalu mendoakan kamu, Ken."


Di luar pintu, Gean mendengar semua itu. Tadinya dia ingin mengambil kunci mobil Khea yang sepertinya terjatuh di sana, sedangkan Khea saat ini sedang berada di toilet.


Gean mengetuk pintu, lalu masuk. Dilihatnya kunci mobil Khea yang terjatuh di bawah kursi. Anak itu mengambilnya, dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan opa dan Ken yang terlihat bingung dengan kehadiran anak itu.

__ADS_1


"Ayo, Mom," ucap Gean begitu tiba di dekat pintu masuk restoran.


"Kita pergi ke penyiaran radio dulu, ya."


"Ya."


Khea akan diwawancarai oleh salah satu radio ternama. Karirnya semakin cemerlang, semakin banyak orang-orang yang mengenal dirinya, karena prestasi. Tapi tentu saja, semakin banyak juga orang-orang yang iri padanya.


Pernah memiliki anak haram aja, bangga.


Komentar seseorang pada postingan akun gosip, yang memberitakan tentang Khea.


Jaga tuh bicara. Sesama perempuan, kok mulutnya lemes.


Balas orang lainnya.


Ya begitulah orang-orang, banyak yang pro, banyak juga yang kontra.


Khea sendiri tidak peduli apa kata orang. Bisa gila dia, kalau meladeni orang-orang seperti itu. Dia juga tidak punya kuasa untuk membuat semua orang menyukai dia.


Mereka tiba di tempat siaran. Para penyiar radio dan operator yang melihat Khea dan Gean, tersenyum.


Mulus banget tuh kulit.

__ADS_1


Khea memang sangat cantik. Kalau saja dia mau, dia bisa mendapatkan seorang pengusaha muda, atau mungkin anak pejabat. Wajah cantik, body idaman para perempuan, karir cemerlang, dan mandiri. Siapa yang tidak mau?


Itulah yang membuat Ken ketar-ketir. Ken mengakui semua itu. Pesona Khea memang luar biasa, belum lagi ada Gean yang juga sangat mempesona sebagai seorang anak laki-laki.


__ADS_2