Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
85 Membuat Sarapan Berdua


__ADS_3

Ken sudah tidak kuat lagi. Dia tidak bisa terus menerus gelisah seperti ini. Dia harus bertemu dengan Khea dan Gean, memastikan keduanya baik-baik saja. Dia takut Rissa kembali berbuat ulah. Mungkin bukan Rissa sendiri yang melakukannya, tapi menyuruh orang lain seperti kejahatannya yang lain.


Ken menggedor-gedor pintu unit Khea dengan kencang. Tidak ada yang membuka.


"Sayang, Sayang. Vana, Khea, Gean!"


Ken tidak perduli dengan tangannya yang mulai terasa sakit. Pria itu bahkan menendang-nendang pintu.


"Buka pintunya! Buka!"


"Apa, sih? Berisik banget!" Khea membuka pintu dengan wajah bantalnya. Dia menggunakan baju tidur berbahan satin.


Ken langsung memeluk perempuan itu. Khea langsung mendorong Ken dan ingin menendang ******** pria itu. Ken yang sudah sangat tahu bagaimana sikap Khea, langsung menghindar.


"Jangan kurang ajar!"


"Kenapa lama sekali membuka pintu?"


"Kamu pikir sekarang jam berapa?"

__ADS_1


Ken melirik jam di dinding, ternyata jam setengah tiga pagi.


"Maaf, aku hanya terlalu cemas dengan kalian."


"Pulang!"


"Tidak. Ini sudah sangat malam dan gelap, juga sepi."


"Tempat tinggal kamu itu ada di depan. Kamu bisa gelindingan ke sana."


Ken tertawa, dan dia langsung duduk di sofa.


Khea mendengus, dia lalu masuk ke kamar Gean dan mengunci pintunya. Sebenarnya Khea tahu, Ken tidak mungkin melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik padanya, apalagi ada Gean.


Paginya, Gean bangun lebih dulu. Dia keluar dari kamarnya dan melihat ada Ken. Anak itu menghela nafas berat. Setelah semuanya menjadi jelas, pasti Ken akan semakin mengejar sang mommy.


Apa aku harus memaafkannya? Tapi bagaimana pun juga, aku ini lahir karena kesalahan.


Gean dilema. Dia masih tidak terima mommy-nya dulu diusir oleh mereka. Anak itu memejamkan mata. Lalu mendekati Ken dan menatap dalam pada pria yang menarik ayah biologisnya.

__ADS_1


Ken terbangun, dan langsung bertatapan dengan Gean. Wajah keduanya begitu mirip. Ken seperti Gean versi dewasa nanti. Dan Gean versi Ken saat kecil dulu.


Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan pada mereka, tanpa perlu melakukan tes DNA, kalau Gean adalah anak Ken. Setidaknya, jika masalah ini tidak terbongkar, mereka—orang-orang yang tidak mau mengakui itu—akan mencari tahu sendiri kebenarannya.


Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Gean lalu ke dapur, dan Ken tidak mau melepaskan kesempatan ini. Pria itu ikut ke dapur setelah mencuci muka.


Gean menyiapkan sarapan. Ken benar-benar tidak tahu harus berkata apa melihat hal ini. Tangan kecil itu dengan terampil membuat teh lemon untuk Khea, dan susu untuk dirinya sendiri. Lalu dia mengeluarkan roti.


"Biar Daddy saja."


Ken membuat roti bakar, lalu membuat salad sayur. Dia juga membuat kopi untuk dirinya sendiri. Gean hanya melirik dari ujung matanya. Ken membuat roti dengan bakar dengan olesan berbagai rasa, juga membuat sandwich dengan isian daging asap.


"Kamu dan mommy harus makan yang banyak. Kalian menjadi kurus selama satu minggu ini."


Ken tidak akan heran kalau Gean hanya diam saja. Setidaknya itu lebih baik, karena Gean tidak mengusirnya.


"Sekarang Gean bangunkan mommy. Daddy mau mandi dulu."

__ADS_1


Gean mendengus saat melihat Ken yang masuk ke dalam kamar mandi, padahal tempat tinggalnya ada di depan.


__ADS_2