
28 Tiga Anak Muda
Pagi-pagi sekali Khea bangun, dia melihat Ken masih tidur di sofa, sama sekali tidak merasa tidak nyaman.
Khea mengguncang tubuh Ken, membangunkan pria itu.
"Kamu tidak pergi bekerja?"
"Ya, sebentar lagi." Pria itu malah membalik tubuhnya, mencari posisi yang lebih nyaman dan terlihat enggan untuk bangun. Khea mendengus, merasa kesal dengan pria yang ada di hadapannya itu.
Ponsel Ken terjatuh, dan Khea melihat foto-foto editan yang dikirimkan oleh Arka. Perempuan itu menghela nafas panjang.
Khea lalu membuat sarapan. Selagi Khea membuat sarapan, Gean keluar dari kamar dan juga melihat Ken. Melihat ponsel pria itu yang menampilkan foto-foto editan mereka bertiga.
"Mom."
"Gean mau sarapan pakai apa?"
"Pakai roti bakar saja."
Khea memberikan tiga lapis roti bakar dengan isian daging dan sayuran.
"Aku juga mau yang seperti Gean."
Khea memberi seperti apa yang Ken inginkan. Juga memberikan kopi, meski pria itu tidak memintanya.
"Enggak usah GeEr, aku memberikan ini sebagai tanda terima kasih karena sudah mendonorkan darah untuk Gean."
Ken menghela nafas. Kenapa harus berterima kasih, Gean juga anaknya, bukan orang lain. Ken lebih suka Khea tidak perlu berterima kasih, baik dengan ucapan atau tindakan. Karena baginya, itu berarti Khea menganggap dia.
__ADS_1
Ibaratnya, apa seorang suami akan berterima kasih pada sang istri saat istrinya memasak makanan untuk anaknya?
Ya, seperti itulah Ken mengibaratkannya.
"Tidak perlu berterima kasih, aku memberikan darahku untuk anak kandungku sendiri."
Ken lalu makan. Terasa sangat enak di lidahnya. Dia melihat Khea yang makan salad, lagi-lagi terlihat enak baginya.
"Aku juga mau itu."
"Jangan numpang mandi di sini juga."
"Iya, iya. Tapi aku mau makan di sini setiap hari."
Lagi-lagi Khea mendengkus. Apa pria ini ingin memanfaatkan keadaan?
Ken pulang setelah selesai sarapan. Dia merasa pagi ini energinya sangat full. Merasa tubuhnya lebih ringan dan lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya.
💕💕💕
Vara memilih pakaian kerja dengan sedikit bingung. Hari ini dia akan ada rapat dengan Ken. Ken memang telah memutuskan pertunangan mereka, tapi bukan berarti memutuskan kerja sama antara dua perusahaan. Apalagi hubungan kedua keluarga tetap terjalin dengan baik.
Selama perjalanan, Ken senyum-senyum sendiri. Dia teringat dengan foto-foto yang dikirimkan oleh Arka.
"Ka."
"Ya, Tuan?"
"Nanti kamu cetak foto-foto itu."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Hufft, kapan aku bisa foto bertiga bersama kalian?
Arka diam-diam mengamati Ken, yang terlihat sangat bahagia.
"Kenapa kamu selalu melirik aku seperti itu?"
"Tidak apa, Tuan."
"Katakan saja. Jangan menutupi sesuatu dariku!"
"Hmmm ... maafkan saya, Tuan, kalau saya lancang." Arka berdehem pelan.
"Apa ... apa Anda benar-benar mencintai nona Vara?"
"Apa maksud kamu? Aku sudah memutuskan pertunangan aku dengan Vara."
"Maksud saya, apa Anda dulu benar-benar menyukai nona Vara?"
"Kenapa kamu malah bertanya seperti itu?"
"Saya melihat, sikap Tuan pada nona Vara dan nona Khea sangat berbeda ...."
"Tentu saja berbeda. Khea adalah ibu dari anakku."
"Apa kalau nona Khea bukan ibu dari anak Anda, Anda akan melepaskan nona Khea? Jika Anda tidak mencintai nona Khea, lebih baik Anda fokus saja pada tuan muda Gean."
Ken berpikir, apa kalau Khea bukan ibu dari anaknya, dia akan melepaskan Khea?
__ADS_1
Ken kembali ke masa-masa itu. Mengingat bagaimana dia, Vara, dan Vana. Kakak adik yang sangat bertolak belakang. Sangat jauh berbeda. Dia dan Vara punya banyak kesamaan. Sedangkan Vana penuh gejolak jiwa anak muda, melakukan apa saja yang dia mau tanpa memikirkan apa pun.
Ken menghela nafas. Dia tidak sadar sebentar lagi akan tiba di perusahaan. Pikiran pria itu ke mana-mana. Memikirkan Vara dan Vana juga dirinya di masa lalu. Tiga anak muda yang selalu bersama karena keluarga mereka yang bersahabat baik.