Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
35 Kemarahan Ronald


__ADS_3

Pagi ini, Khea mendapat kabar dari asistennya kalau butik mereka mendapatkan banyak pesanan gaun dan jas. Padahal acara fashion itu baru kemarin diadakan, tapi dia langsung mendapatkan keuntungan yang membludak.


Khea mulai sibuk merancang, sedangkan Gean sibuk dengan laptopnya. Dia membawa laptop itu ke kamarnya, dan melihat video acara fashion show kemarin.


Banyak netizen yang memberikan komentar.


Arumi


Itu anaknya ganteng banget, papanya juga pasti ganteng.


Siska


Enggak punya Daddy? Daddy-nya sudah meninggal, ya?


Ani


Jangan-jangan anak haram.


...Cahya membalas: Eh, jangan sembarangan kalau komentar, nanti dituntut baru tahu rasa....


...Ani membalas Cahya: Kan dia sendiri yang bilang enggak punya ayah....


...Cahya membalas Ani: Ya kali saja Sidah meninggal. Jadi orang kok nyinyir amat. Awas nanti kena karma, anaknya enggak punya bapak....


Masih banyak lagi komentar dari para warga net. Gean memang masih berumur lima tahun, tapi dia sudah bisa membaca dengan lancar.

__ADS_1


Karena masalah yang mengatakan Gean tidak punya ayah, banyak yang akhirnya membicarakan tentang Khea. Banyak yang mengatakan kalau Khea itu adalah simpanan pengusaha beristri, makanya masih muda tali bisa punya butik terkenal. Kan tidak murah membuatnya.


Banyak juga yang mengatakan kalau Gean itu anak haram.


Ada lagi yang lebih kejam, ada yang bilang kalau Gean itu tidak jelas siapa ayah biologisnya, karena Khea yang sering bergonta-ganti pria untuk menunjang kesukaannya.


Gean membaca itu dengan penuh kebencian.


Mereka semua menyakiti mommy!


Di lain tempat, banyak yang geram dengan komentar para netizen. Mereka yang tidak tahu apa-apa tapi malah menghakimi, sekolah hidup mereka sudah sangat sempurna dan jauh dari dosa.


Ken dan keluarganya, juga Vara dan keluarganya, merasa sedih membaca itu. Memang benar Gean anak hasil di luar nikah, tapi haruskah dihakimi seperti itu?


Satu kenyataan menyakiti diri mereka sendiri.


Bukankah dulu mereka juga seperti itu? Mereka menghakimi Vara. Mengatakan kalau Vara melakukan pergaulan bebas. Siapa yang menghamili, tapi siapa yang yang dimintai pertanggung jawaban?


Ken memejamkan matanya. Dia dulu juga berpikir kalau Khea melakukan hubungan intim dengan banyak pria, hanya karena dia sering melihat Khea jalan dengan pria yang berbeda-beda.


Sekarang anaknya dihina, itu sama saja dengan menghina dirinya.


Sekarang anak dan cucu mereka dihina, itu sama saja dengan menghina mereka.


Lagi-lagi mereka tersadar, kalau dulu juga mereka melakukan hal yang sama. Mereka lah pendahulunya.

__ADS_1


Mereka menghina keturunan mereka sendir, bahkan tidak mau mengakuinya.


"Aaaa ... aaaarrgghh!"


Ken melemparkan apa saja yang ada di atas mejanya. Membuang berkas-berkas penting yang baru saja dia tanda tangani.


Kini dia hanya bisa menangis dan menyesali semuanya.


"Maafkan aku, maafkan aku!"


Begitu juga hal yang sama dirasakan oleh kedua orang tua Khea dan Ken.


"Maafkan opa dan Oma yang tidak mau mengakui cucu kami."


Vanya menepuk dadanya, rasanya sakit sekali saat mengetahui anak dan cucunya dihina seperti itu, dan dia juga salah satu penyebabnya.


Di kediaman keluarga Ken


Ronald menggebrak meja. Meskipun sudah tua, pria itu masih memiliki kekuatan dan fisik yang sehat.


"Kalian lihat sendir kan? Inilah hasil dari kesalahan kalian. Seharusnya saat itu kalian mencari tahu dulu masalahnya! Bukannya malah melakukan keputusan sepihak tanpa meminta pendapat dariku."


"Maafkan kami, Pa. Papa kan tahu saat itu mama sedang sakit. Kami tidak mau membuat papa semakin banyak pikiran dan malah jatuh sakit seperti mama."


"Jangan banyak alasan! Bagaimana nantinya jika orang-orang tahu kalau Gean itu ternyata cicitku? Cicit yang sudah ditelantarkan oleh ayah dan kakek neneknya sendiri!"

__ADS_1


__ADS_2