
Ken memperhatikan satu persatu foto-foto itu.
"Ini ...."
Rasanya dia tidak percaya. Bagaimana bisa orang yang sangat dia kenal, tega melakukan semua ini. Menikam dirinya, menusuk dari belakang bahkan hingga saat ini, masih saja bersikap seolah tidak pernah melakukan apa-apa.
Tubuh Vara sudah sangat lemas. Dia tidak bertenaga. Kakinya seolah jeli, tangannya seperti tersengat listrik tegangan tinggi.
"Rissa, kamu melakukan itu semua? Tapi kenapa? Apa salahku?" tanya Ken murka.
"Tega sekali kamu menjebak aku!"
"Masih mau mengelak? Aku juga punya bukti lainnya."
Rissa masih diam saja. Semua mata memandang tajam pada dirinya.
"Apa salahku padamu, Rissa? Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?" tanya Ken sekali lagi.
"Tidak, kamu tidak punya salah apa-apa padaku."
__ADS_1
"Tapi kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?"
"Tapi masalahnya, aku sangat membenci kakak beradik perempuan ini! Aku membenci mereka berdua sampai ke tulang-tulang!"
"Rissa? Kamu membenciku? Tapi kenapa? Bukankah kita berdua bersahabat?"
"Cih, sahabat? Siapa yang sudi menjadi sahabat kamu!"
Air mata Vara bercucuran, dia sungguh tidak menyangka orang yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya sejak sekolah menengah atas, tega melakukan semua ini padanya.
"Apa? Kenapa? Apa masalahnya?"
"Merebut apa? Apa yang aku rebut darimu, Rissa? Kamu kaya, kamu punya segalanya. Apa ... apa jangan-jangan kamu menyukai Ken?" tanya Vara.
"Dengar sialan! Aku selama ini tahu rahasia terbesarmu, tapi aku diam saja. Aku tidak pernah mengusik hidupmu selama kamu tidak pernah menjerumuskan Vara seperti dirimu!" ucap Khea.
"Jangan mengada-ada, tahu apa kamu tentang aku, hah!"
"Aku tahu kamu itu hanya anak seorang pembantu, bukan seperti apa yang kamu katakan pada orang-orang. Juga ... kamu itu hanya menjadi simpanan pria-pria tua yang kaya."
__ADS_1
Deg
"A ... apa?"
Rissa, adalah anak seorang pelayan. Ibunya menjadi asisten rumah tangga untuk salah satu keluarga kaya. Saat masih sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, Rissa memang sering memakai pakaian mahal yang sebenarnya adalah pakaian bekas anak majikannya yang sudah tidak muat lagi.
Meskipun pakaian bekas, tapi tentu saja masih layak pakai dan sangat bagus. Dia merasa malu dan minder dengan pekerjaan kedua orang tuanya. Ibunya seorang pelayan, dan ayahnya seorang supir.
Saat sekolah menengah pertama, sekolah Rissa mengadakan lomba basket antar sekolah. Di situlah pertama kali dia melihat Ken dan Vara. Dia begitu terpesona saat melihat Ken, tapi merasa kesal saat teman-teman sekolahnya yang laki-laki, terpesona dengan Vara.
Rissa begitu terobsesi memiliki kekasih kaya dan tampan, untuk mengubah status sosialnya. Dia mulai mencari tahu siapa itu Vara dan Ken.
Bahkan saat sekolah menengah pertama, dia menjual keperawanannya untuk bisa memiliki gadget keluaran terbaru, agar tidak malu apa teman-temannya. Rissa mengatakan kepada orang tuanya kalau itu pemberian sahabatnya.
Memasuki sekolah menengah atas, keluarga Rissa kembali ke kampung halaman mereka. Rissa tetap di kota dan tinggal di kosan elit, yang dari pria-pria hidung belang.
Di sekolah itu, Rissa berteman dengan Vara dan Ken, karena dia tahu mereka akan memasuki sekolah itu.
Dari cerita Vara, Rissa tahu Ken pria seperti apa, akan sulit baginya meraih Ken.
__ADS_1