Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
23 CCTV


__ADS_3

"Katakan yang sebenarnya, Ken," ucap opa Ken. Saat pertunangan Ken dulu, opa dan omanya memang tidak datang karena sang oma yang ada di luar negeri tiba-tiba saja masuk rumah sakit.


"Aku ... aku juga tidak tahu, Opa."


"Jangan berbohong lagi!"


"Benar Opa, aku juga tidak tahu."


"Ivan!"


"Ya, Tuan."


"Cari tahu kejadian yang sebenarnya enam tahun yang lalu. Aku butuh sekarang."


Ivan, anak buah opa Ken langsung menyuruh anak buahnya untuk memeriksa semua CCTV yang berhubungan dengan Ken enam tahun yang lalu.


Flashback On


"Vana, aku minta tolong antarkan contoh kartu undangan dan berkas ini ke apartemen Ken."


"Cih, kamu mau pamer padaku kalau kamu akan bertunangan dengan Ken?"


"Vana, tolonglah aku. Begini saja, kamu tidak perlu membawa kartu undangan ini, cukup berkas ini saja. Bagaimana?"


"Enggak mau, aku bukan babu kamu."

__ADS_1


"Vana, tolong aku. Aku harus menemani papa dan mama yang akan bertemu dengan rekan bisnisnya."


"Aku bilang enggak mau, ya enggak mau. Kamu kan anak kesayangan mereka, jadi lakukan saja sendiri."


Tidak lama ponsel Cara berbunyi.


"Iya, Pa. Sebentar lagi aku akan ke sana."


Vara memuluskan sambungan telepon itu, dan kembali menatap Vana.


"Vana, aku janji setelah ini tidak akan meminta tolong lagi padamu."


"Aku mau bertemu dengan teman-teman aku. Bukan kamu saja yang punya urusan. Suruh orang lain, kek!"


"Vana, ini berkas penting. Lagi pula semua ini juga untuk kamu. Kamu juga nantinya akan mewarisi perusahaan papa."


"Vana, lupakan masalah pribadi kita. Tolong lah, ini demi papa, bukan demi aku."


Vana berpikir, lalu mengambil berkas itu dan melempar dengan kasar contoh undangan pesta pertunangan itu.


Tanpa mengatakan apa pun, Vana langsung pergi untuk ke apartemen Ken. Selama perjalanan, gadis itu terus saja mengoceh.


Flashback Off


"Tuan, Saya sudah mendapatkan CCTV yang dibutuhkan," ucap Ivan dengan gugup. Melihat reaksi Ivan, mereka yakin pasti ada yang tidak baik telah terjadi dalam rekaman CCTV itu.

__ADS_1


Mereka lalu memotori video itu.


Malam itu, Vana tiba di apartemen Ken, Vana membunyikan bel, tapi tidak ada tanggapan. Dia lalu mengetuk dengan kencang, tetap saja tidak ada yang membuka pintu. Vana menendang pintu dengan kesal.


"Membuang-buang waktu aku saja."


Ponsel Vana berbunyi, gadis itu langsung bicara dengan orang yang menghubunginya.


"Vana, kamu di mana? Kenapa belum datang?"


"Iya, sebentar lagi aku datang. Maaf, aku agak telat."


Vana kembali menendang pintu apartemen Ken. Gadis itu lalu menyelipkan berkas itu di celah bawah pintu. Merasa yakin kalau tidak bisa ditarik lagi dari luar, gadis itu lalu berdiri. Baru saja dia membalikkan badan, Ken sudah ada di belakangnya.


Tanpa diduga, Ken langsung menarik tengkuk Vana dan mencium gadis itu. Bukannya merasa senang, gadis itu malah mendorong Ken dan menampar pria itu.


"Dasar pria gila. Menolaknya mentah-mentah tapi malah menciumiku semaunya."


Vana lalu meninggalkan Ken. Pria itu malah menarik Vana, berusaha menciumi kembali bibir dan leher Vana.


"Aaaa ... lepas!"


Vana bisa mencium bau alkohol dari mulut pria itu. Ken membuka pintu apartemennya, lalu mendorong Vana hingga terjatuh dan mengunci pintu.


Pria itu mendekati Vana, gadis itu mundur, merasa kalau keadaan tidak baik.

__ADS_1


"Jangan mendekat, mau apa kamu, hah?"


__ADS_2