
Tibalah saat untuk melahirkan. Vana dibawa ke rumah sakit untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Vana dibawa secara diam-diam dan dijaga kerahasiaannya.
"Air ketubannya sudah pecah, Dok!" seru salah satu perawat.
Dokter langsung memeriksa Vana, yang ternyata sudah mengalami pembukaan sempurna. Tidak banyak drama, sepertinya anak yang akan segera dilahirkan ini sangat memahami kondisi psikis ibunya.
"Apa ada yang akan mendampingi dia melahirkan?" tanya sang dokter.
"Biar saya saja," ucap Yuri.
"Rileks ya, Vana!"
"Ikuti instruksi Saya."
Tidak membutuhkan banyak waktu, bayi itu pun lahir, dengan berat badan yang normal, panjang yang cukup, juga utuh tanpa kekurangan sesuatu apa pun.
Bayi laki-laki yang tampan, berkulit putih bersih, hidung mancung, bibir mungil, mata bening. Bahkan rambutnya sudah tebal dan hitam.
Mendengar suara bayi, Vana panik seketika. Tiba-tiba saja dia mengalami goncangan yang hebat, dan akhirnya membuat Vana mengalami pendarahan.
Perempuan itu membutuhkan transfusi darah, dan sahabat-sahabatnya yang memiliki golongan darah yang sama, tanpa pikir panjang langsung mendonorkan darah mereka.
Keesokan harinya, Vana sudah bisa menyusui bayi tampannya. Wajahnya berbinar bahagia, tapi juga terlihat sendu. Entahlah, mereka sulit untuk mendeskripsikan semuanya.
"Vana, siapa namanya?"
__ADS_1
"Vana? Siapa Vana?" tanya Vana.
Sahabat-sahabatnya saling menatap. Apa Vana mengalami salah satu jenis amnesia, akibat perasaan tertekan yang berlebihan?
"Khea."
"Ya?"
"Sekarang namaku Khea, dan anakku bernama Gean."
"Khea?"
"Aku, ingin membuang semua masa laluku. Bersama dengan darah yang keluar dari tubuhku, saat itu juga, semua masa laluku sudah kubuang jauh-jauh. Mulai sekarang, kalian dan anakku lah, keluargaku yang sebenarnya."
"Baiklah, Khea. Selamat atas kehadiran Gean, kami akan menjaga kalian sebaik mungkin."
💕💕💕
Mereka pikir, semuanya akan kembali normal. Akan berjalan lancar dan baik-baik saja.
Ternyata tidak.
Ada kalanya, Khea akan kembali kumat. Dia akan menyakiti dirinya sendiri. Menusuk-nusuk jarinya dengan jarum, menjedotkan keningnya pada tembok, mengigit tangannya, menjambak rambutnya hingga rontok, atau apa pun.
"Ini bisa berbahaya untuk Gean."
__ADS_1
Austin pun memang telah tinggal bersama mereka, untuk ikut menjaga Khea. Hubungan mereka semua kini layaknya keluarga yang saling menyayangi dan melindungi.
Tidak bisa diprediksi kapan Khea akan kumat. Kadang perempuan itu terlihat normal dan baik-baik saja. Tersenyum bahkan tertawa.
Ada kalanya dia berteriak histeris.
Ada kalanya saat Gean menangis, Khea akan menjadi ibu yang siaga.
Tapi ada juga saat Gean menangis, maka Khea akan seperti orang linglung dan lepas kontrol.
"Sampai kapan Khea akan seperti ini? Aku jadi tidak tega. Jangan sampai Gean mulai besar, keadaan masih seperti ini."
Para perempuan hanya bisa menangis. Segala upaya sudah mereka lakukan, ada perasaan takut kalau Khea akan benar-benar menjadi penghuni rumah sakit jiwa seumur hidup.
Bagaimana bisa, sahabat mereka yang cantik, ceria, mandiri dan memiliki impian menjadi seorang model internasional, berakhir di rumah sakit jiwa?
"Aku bersumpah akan membalas Ken dan mereka semua!" ucap Chia, yang diangguki oleh Airu dan Yuri.
"Kalian jangan khawatir, kami akan membalas mereka," ucap Deo yang juga diangguki oleh Gara dan Qavi.
Awal pertemuan Yuri, Chia dan Airu dengan Vana sudah sangat lama. Mereka tidak satu sekolah, tapi sering bertemu di rumah panti. Dari situlah mereka berteman dan bertemu saat ada waktu luang.
Beberapa bulan telah berlalu, mereka selalu diliputi dengan perasaan was-was.
"Aku akan mengajak seorang teman ke sini, dia akan membantu aku. Ini juga akan baik untuk pertumbuhan Gean kelak."
__ADS_1