
Satu minggu tidak ada kabar. Ken tidak bisa menghubungi Khea atau pun sahabat-sahabat Khea.
Apa dia melarikan diri lagi dariku?
Vara pun mengurung diri di kamarnya. Dia lalu, sangat malu. Bahkan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya saja, dia seperti tidak memiliki wajah.
Mereka semua seperti dilanda musibah kematian massal. Tidak ada yang berselera untuk makan, minum bahkan bicara. Tidur tak nyenyak, bahkan untuk bernafas pun terasa sesak.
Para pelayan di dua mansion mewah itu hanya bisa diam. Merasakan suasana tak nyaman selama satu minggu ini. Tidak ada keceriaan, tawa, bahkan senyum pun tak ada. Seperti bekerja di rumah hantu.
Vara menatap pisau kecil di atas mejanya. Rasanya dia ingin mati saja. Tidak sanggup menerima semua ini. Dia frustasi, bahkan hampir gila.
Bodoh
Bodoh
Bodoh
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Tidak ada lagi yang bisa dia banggakan. Segala prestasi dan pencapaian, terasa tak ada gunanya.
Tak berarti sama sekali.
Orang-orang menganggapnya bodoh, menyalahkan dirinya, dan mungkin jijik. Opa Ronald kini semakin tidak suka padanya.
__ADS_1
Ya meski rasa tidak suka opa Ronald bukan karena dia miskin atau jelek atau pun jahat. Tidak suka karena Vara memang bukan kriteria yang tepat untuk Ken.
Seperti yang opa Ronald katakan, bagaimana kalau Vara sampai dimanfaatkan orang untuk menghancurkan Ken? Menghancurkan perusahaan. Mudah dihasut dan diprovokasi.
Hanya pintar secara akademik saja. Hanya pintar menjalankan perusahaan. Tapi ada yang lebih penting dari itu.
Kini mereka semua tahu apa arti sikap opa Ronald.
Khea yang tidak mau mengalah, tidak mau diatur oleh keluarganya, keras kepala, tidak mudah dikasih tahu, tapi dibalik itu, bukankah Vara punya prinsip? Tidak mudah dipengaruhi atau pun diiming-imingi. Tidak mudah terhasut dan diprovokasi.
Dan yang lebih membuat Vara merasa bodoh, kenapa dia tidak pernah merasa kalau sebenarnya Ken tidak pernah mencintainya. Hanya merasa nyaman sebagai teman curhat karena sama-sama mendapatkan tuntutan dari pihak keluarga. Hanya sebagai pelarian.
Dan yang menyadari itu justru orang lain.
Ya, dia memang mencintai Khea sejak dulu, tanpa dia sadari, bahkan dia membohongi diri sendiri. Kalau saja sejak dulu dia menyadari semuanya, mungkin tidak akan seperti ini.
Tidak!
Yang seperti ini lebih baik.
Karena apa?
Karena Rissa tetaplah Rissa.
__ADS_1
Karena dendamnya akan tetap berjalan meski dengan cara yang berbeda.
Bisa saja Rissa membuatnya tidur dengan Vara, dan menghancurkan hubungan Ken dengan Vana.
Dan itu, pasti akan lebih menyakitkan lagi. Bukan hanya untuk Vana, tapi untuk Ken sendiri.
Mungkin dengan cara ini, Ken dan Vana disatukan. Rissa membuat Ken dan Vana memiliki keterikatan karena kehadiran Gean.
Di dalam kamarnya, Khea sedang berpikir. Dia tidak tahu harus merasa apa. Dia bukan ya menyesali kehadiran Gean, hanya saja merasa kasihan dengan nasib anak itu. Lahir dengan cara yang tidak tepat. Lahir karena aksi dendam bodoh seseorang.
Tapi dia tetap bersyukur memiliki Gean.
Ken pun sama, dia tidak menyesali kehadiran Gean.
Haruskah mereka berdua kini merasa bersyukur?
Gean adalah anugerah terindah dalam hidup mereka.
Tanpa Gean, semuanya akan berbeda.
Tanpa Gean, mereka tidak akan terikat.
Ada hikmah di balik semuanya.
__ADS_1
Dan apa ini yang namanya hikmah di balik tragedi?