
"Kamu dijodohkan dengannya?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku tahu kamu, Ara. Pria ini bukan tipe kamu sama sekali."
Ara melirik Marco, sedangkan Marco menatap tidak suka pada Vana.
"Jangan sampai kamu menyesal menikah dengannya, Ara!"
"Cukup, Vana. Kenapa kamu harus kembali lagi dan merusak acaraku?"
"Jangan membentak mommy aku!"
Semua mata langsung memandang pada anak laki-laki yang berteriak itu.
Deg
Deg
Deg
Anak itu menghampiri Vana, dan menatap tajam pada Marco.
"Jangan pernah membentak mommy!"
Mata anak itu menatap tajam pada Marco. Marco benar-benar kehilangan kata-kata.
Bukan hanya Marco, yang lain pun juga begitu.
Wajah anak itu ... wajah anak itu sangat mirip dengan Ken.
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
Ara merasa udara dalam paru-parunya menipis, melihat anak kecil berwajah tampan dan benar-benar copy paste dari Ken.
Ken, Vara, dan keluarga mereka sangat syok dengan apa yang mereka lihat.
"Sayang, kenapa kamu ke sini? Kan mommy Sidah bilang untuk menunggu mommy."
"Aku takut akan ada yang menggangu dan menyakiti mommy."
"Tenang, Sayang. Tidak akan ada yang akan menggangu dan menyakiti mommy, karena mommy sudah punya kamu di sisi mommy."
Vana tersenyum pada anaknya, mengusap kepala anak itu dengan penuh kasih sayang, yang tentu saja tetap diperhatikan oleh semua orang yang ada di sana.
Ken diam saja, pikirannya kalut. Apa dia salah melihat?
"Vana, ini ... ini ...."
"Ara, kenalkan, ini anakku. Namanya Geandra, dipanggil Gean."
Air mata Ara langsung menetes. Dia kembali memeluk Vana.
"Vana, kenapa kamu ...."
"Mommy, kenapa aunty ini memanggil mommy dengan nama Vana?" tanya Gean.
Vana tersenyum.
__ADS_1
"Ara, sekarang namaku Kheara. Panggil aku Khea. Kamu mengerti, kan?"
Ara mengangguk, dia tidak akan bertanya soal nama. Melihat kenyataan yang ada, membuat hati Ara sangat terpukul dan tentu saja sangat sakit. Dirinya saja bisa sesakit ini, apalagi Khea yang harus menjalaninya selama enam tahun.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kejadian enam tahu yang lalu kini terekam lagi dalam ingatan mereka.
Ken benar-benar bungkam. Dia bingung harus mengatakan apa. Wajah anak itu ... tanpa melakukan tes DNA pun, mereka sudah tahu kalau itu adalah anak Ken.
Vara dan kedua orang tuanya menatap Ken, begitu juga dengan kedua orang tua Ken. Mereka menatap bergantian Vana yang sudah mengubah namanya menjadi Khea, Gean dan Ken.
Jantung Ken kini berdetak tak karuan melihat Khea dan Gean. Lututnya sangat lemas.
Orang-orang juga menatap tajam Ken. Pria brengsek yang dulu tidak mengakui perbuatannya. Sekarang, mereka melihat sendiri bukti nyata dari perkataan Khea enam tahun silam. Orang-orang yang dulunya membicarakan hal yang buruk-buruk tentang Khea, kini merasa bersalah dan kasihan pada perempuan itu.
Marco yang berdiri sangat dekat dengan Gean, terus menatap anak laki-laki itu, yang usianya masih lima tahunan. Dia melirik Khea dan Ken.
"Kenapa kamu tidak menemui aku, Khea? Kenapa kamu harus melewati semua ini seorang diri? Apa kamu tidak percaya padaku? Apa kamu takut aku tidak akan mempercayai kamu dan menghakimi kamu?"
Perkataan Ara itu membuat yang lain tersadar. Dulu, tidak ada satu orang pun dalam acara itu yang membantu Khea, tidak ada juga yang percaya padanya. Hanya satu orang, yang menawarkan diri untuk menikahi perempuan itu dan menjadi ayah untuk anaknya. Dan saat ini pun pria itu ada di sana. Menatap Khea dan Gean dengan tatapan sendu.
"Kamu kan saat itu lagi di luar negeri," ucap Khea. Hati Ara semakin hancur mendengarnya. Seharusnya dia berada di sisi sahabatnya di saat terburuk yang perempuan itu alami.
Nio dan Rissa juga bungkam. Rissa yang selama ini tidak menyukai Khea, tidak bisa lagi mengatai perempuan itu berbohong, tukang tipu atau penjahat.
Ken perlahan mendekati Khea dan Gean. Dihampirinya Gean, dan tangan itu ingin sekali mengusap lembut kepala Gean. Rasa hangat menyelimuti hati Ken. Matanya berkaca-kaca.
Perlahan, dia menyentuh Gean.
"Jangan sentuh aku!" teriak Gean.
Deg
__ADS_1