
Tidak perlu banyak bertanya atau mencari-cari, Khea sudah tahu di mana ruangan pria itu. Arka, tangan kanan Ken kebetulan juga baru keluar dari ruangan bosnya itu.
"Nona ...."
Khea langsung mendorong Arka dan masuk ke dalam begitu saja.
"Vana, kamu ...?" Belum selesai Ken bicara, Khea langsung melempar barang-barang itu ke wajah Ken. Untung saja pria itu bisa menghindarinya.
"Sudah aku katakan, berhenti mengganggu aku dan Gean, brengsek!"
"Vana, aku tidak mengganggu kalian, aku hanya membelikan anak aku apa yang dia butuhkan."
"Anak kamu? Sejak kapan anak aku jadi anak kamu?"
"Vana, bagaimana pun juga, Gean itu anak aku, darah daging aku. Kalau kamu mau menyangkalnya, aku akan meminta tes DNA."
"Tes DNA? Tes DNA tidak akan membuktikan kalau dia anak kamu, bangsat!"
"Jangan bicara kasar, Vana!"
"Berhenti memanggil aku Vana, namaku Khea."
__ADS_1
"Baiklah, Khea. Khea, tolong pertemukan aku dengan anak kita. Jangan larang aku bertemu dengannya!"
"Anak kita? Jangan berkhayal, Tuan! Aku tidak pernah punya anak darimu, dan kamu tidak pernah punya anak dariku!"
Seenaknya saja sekarang dia mengakui Gean sebagai anaknya. Dia pikir aku akan bahagia dan menangis terharu saat dia mengatakan itu? Cuih, dasar pria laknat!
Khea menatap tajam Ken, sedangkan Ken yang ditatap seperti itu, merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya. Perlahan Ken mendekati Khea, memandang lekat wajah yang tidak bisa dia elak, semakin cantik dan mempesona.
Matanya, bibirnya, hidungnya, alisnya ... semua, semuanya yang ada pada diri Khea membuat jantungnya berdetak kencang.
Aku kenapa?
"Jangan pernah lagi mengakui apa yang bukan menjadi milikmu!"
Khea langsung tertawa terbahak, mengejek Ken yang penuh percaya diri mengakui Gean sebagai anaknya. Tawa renyah itu memenuhi gendang telinga Ken.
"Apa Anda sedang melawak? Aku akui memang sangat lucu."
Khea memegang perutnya, dan sebelah tangannya mengusap sudut matanya yang berair.
"Dengar ini baik-baik, sampai kapan pun, Gean tidak akan pernah menjadi anak Anda. Kalau pun nanti dia membutuhkan seorang ayah, aku akan memberikan ayah yang jauh lebih baik dari Anda."
__ADS_1
Tangan Ken terkepal, dia tidak suka anaknya memanggil daddy pada pria lain. Dia saja yang ayah kandungnya belum pernah dipanggil Daddy.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
"Memangnya Anda siapa yang bisa melarang aku dan Gean? Anda hanyalah orang asing yang kebetulan saja kami temui di acara pertunangan Ara!"
"Apa tidak ada lagi cinta darimu untuk aku, Khea? Aku sangat yakin kamu masih sangat mencintai aku."
Apa itu penghiburan untuk dirinya sendiri, atau memang Ken yang terlalu percaya diri?
"Bahkan kamu mengganti namamu seperti namaku."
Apanya yang mirip? Khea dan Ken, hanya huruf depannya saja yang sama. Apa itu berarti kingkong juga menyukai dirinya?
"Jangan terlalu percaya diri! Aku tegaskan sekali lagi, Jagan pernah muncul di hadapan kami!"
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Ken semakin mendekati Khea, bahkan kini tangannya menyentuh pipi mulus Khea. Khea yang mendapat perlakuan seperti itu, merasa tubuhnya menegang. Jantungnya berdetak tak karuan.
Bukan, bukan karena dia terbuai akan sentuhan Ken.
"Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku!"
__ADS_1
Wajah cantik itu kini memucat disertai keringat dingin, padahal AC di dalam ruangan itu sangat dingin.