Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
92 Trauma


__ADS_3

Haruskah dia berpamitan pada mereka?


Atau pergi begitu saja?


Vara menghela nafas berkali-kali, bimbang sendiri. Entah dia pergi karena ingin lari dari kenyataan, atau karena tidak sanggup dengan semua ini, atau ingin memulai hidup baru.


Dia ingin move on. Bukan hanya move on dari Ken, tapi move on dari semua masalah hidupnya. Menjadi sosok yang lebih baik lagi, dari segala hal.


Ternyata memang benar, usia tidak menjamin kedewasaan dan kepintaran seseorang. Mungkin dengan semua yang terjadi ini, bisa lebih mendewasakan dirinya, dalam bersikap dan berpikir.


Barang-barang yang yang menurut Vara penting dan yang akan dia bawa, semuanya sudah dia masukkan ke dalam koper, kecuali tiga bingkai foto.


Foto dia bersama Vara dan Ken, foto bersama Ken, dan foto dia bersama sahabat-sahabatnya. Dia masih menimbang-nimbang, apakah harus membawanya atau tidak.


Vara memejamkan matanya, mengingat potongan-potongan memori dia dan Khea saat masih kecil dulu. Adiknya yang sejak masih balita sudah suka bersolek dan terlihat sangat cantik.

__ADS_1


Vara juga cantik, dengan wajah kalem dan terlihat dewasa. Itulah salah satu yang membuat Rissa membenci kakak beradik itu, yang memiliki pesonanya masing-masing.


Dalam hati, dia berdoa semoga suatu saat nanti, hubungan dia dan adik satu-satunya itu akan kembali membaik. Menjadi kakak beradik yang saling menyayangi dan menjaga, entah siapa pun pasangan mereka nanti.


Tapi, Vara ingin menutup hatinya rapat-rapat. Dia sedikit trauma.


Takut kalau ternyata hanya menjaga jodoh orang—lagi.


Takut terlibat cinta segitiga—lagi.


Takut patah hati—lagi.


Nio ada di apartemennya. Dia sampai sekarang masih tidak menyangka, kalau dia juga menjadi salah satu penyebab perbuatan kejam Rissa pada tiga orang yang dia kenal dengan baik. Ya memang benar juga apa yang dikatakan oleh Rissa, kalau dia berteman dengan perempuan itu karena Rissa adalah sahabat Vara.


Dia tidak pernah menyangka Rissa akan berbuat jauh seperti itu.

__ADS_1


Rissa tidak pernah menyatakan suka padanya, jadi dari mana Nio akan tahu? Sekedar memberikan perhatian, bukan berarti orang itu memiliki perasaan khusus, kan?


Pria itu memijat keningnya, merasa sakit kepala karena harus ikut terseret dalam masalah besar ini. Mamanya pun sampai ikut-ikutan sakit kepala, khawatir ada Rissa-Rissa lain di sekitarnya.


Marco pun begitu. Dia merasa marah, dan yang paling utama, malu. Malu pada Khea dan Ara. Ara terus saja memberikan tatapan mengejek setiap mereka bertemu. Seolah berkata, "Tuh, lihat. Cewek yang selama ini kamu bela, ternyata iblis!"


Dia jadi teringat dengan Khea. Khea yang dulu selalu menyukai Ken saja, tidak pernah melakukan muslihat kejam untuk menyakiti orang lain, atau menjebak Ken.


Untung saja semuanya terbongkar, kalau tidak entah apa jadinya, bisa-bisa Rissa semakin berbuat kejahatan yang Marco sendiri tidak pernah membayangkan kejahatan seperti apa lagi. Dia jadi bergidik ngeri.


Dia juga jadi harus waspada, jangan sampai ada Rissa-Rissa lain di sekitar dia dan orang-orang terdekatnya.


Sepertinya semua ini, memberikan pelajaran dan trauma untuk mereka semua.


Khea memandang wajah Gean yang sudah tidur. Entah sudah berapa lama dia seperti ini. Dia ingin sekali bertanya kepada Gean, apakah anak itu menginginkan sosok ayah. Tapi dia tahu, itu adalah pertanyaan bodoh. Siapa sih di dunia ini yang tidak menginginkan orang tua?

__ADS_1


Dia juga berpikir, apa yang dia inginkan dan lakukan jika menjadi Gean? Jika dia yang ada di posisi Gean, apa yang harus dia lakukan?


Apa dia akan bersama Ken demi Gean?


__ADS_2