
27 FOTO
"Aku ingin bertemu dengan Gean."
"Gean sudah tidur, kamu bisa melihatnya sebentar."
Tidak apa, yang penting dia bisa melihat anaknya. Ken berdiri di depan pintu, melihat tubuh Gean yang hampir semuanya tertutup oleh selimut.
Gean membalik tubuhnya, merapatkan selimut itu dan bergumam pelan. Ken tersenyum, hanya dengan melihatnya Gean tidur saja, hatinya menjadi tenang. Dia lalu menutup pintu itu dengan pelan.
"Aku ... ehem ... aku tidur di sini, boleh?"
"Aku tidak akan macam-macam. Janji!"
"Cukup tidur di sofa saja," tambahnya lagi.
Khea tidak menjawab, tapi perempuan itu masuk ke kamarnya. Ken membaringkan tubuhnya di atas sofa, memejamkan matanya meski dia tidak tidur.
Ken memindai ruangan ini. Banyak lukisan, dan rata-rata adalah lukisan abstrak. Dia bangkit, mendekati lukisan-lukisan itu dan memperhatikannya.
"Ini lukisan Gean?"
Ken menyentuh lukisan itu dan terasa timbul di tangannya. Lalu pandangan matanya beralih pada foto ibu dan anak itu, yang sedang berpelukan di pantai.
__ADS_1
Ken mengambil ponselnya, dan memfoto lagi foto itu. Dia mengirimkan foto itu pada Arka.
[Edit foto-foto ini, dan masukkan fotoku di dalamnya. Ingat, hasilnya harus bagus.]
Setidaknya, kalau belum bisa foto bersama, editan pun tak masalah.
Arka menghela nafas. Dia benar-benar kasihan pada bosnya. Sampai-sampai mau foto bersama pun, harus editan.
Hufft, apa yang bisa aku lakukan untuk tuan Ken?
Mau kesalahan apa pun bosnya di masa lalu, tetap bagi Arka, Ken pria yang baik. Selama bertunangan dengan Vara, Ken selalu setia. Bukan seorang pemain. Mau digoda seperti apa pun, dia tidak terpengaruh.
Aku harus melakukan sesuatu untuk tuan Ken.
Arka tersenyum melihatnya. Hasilnya sangat memuaskan, tidak seperti editan. Untuk masalah seperti ini, tidak perlu menyuruh orang lain, dia cukup mahir mengerjakannya.
Setelah melihat semua hasilnya yang baginya sempurna, dia lalu langsung mengirimkan kepada bosnya itu.
Ken tersenyum melihat foto-foto editan itu. Dia lalu mengirim sejumlah uang pada Arka.
[Bonus untuk kamu.]
[Terima kasih banyak, Tuan.]
__ADS_1
Ken kembali duduk di sofa. Melihat semua foto sambil tersenyum. Padahal hanya foto editan saja, tapi sudah benar-benar membuat hatinya senang.
Ken meletakkan ponsel itu di atas dadanya, dan tidak lama tertidur dengan hati yang senang dan wajah tersenyum.
Khea masih sibuk membuat design. Di saat-saat hening seperti ini memang waktu yang tepat untuk merancang. Banyak ide yang keluar di otaknya.
Khea keluar kamar, ingin membuat segelas wedang jahe dan cemilan. Dilihatnya Ken yang tidur di sofa.
Khea mendekati Ken.
Dulu, aku pernah sangat berharap kita dapat bersama ....
Tapi semua keinginan itu hancur karena kalian. Aku mungkin bisa memaafkan kalian, tapi tidak bisa melupakannya. Jejak rasa sakit itu akan tetap ada.
Khea sedikit menjauh, namun sebelum dia melangkah, tangannya sudah diraih lebih dulu oleh Ken.
"Tolong berikan aku kesempatan. Ayo kita menikah, aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Juga menjadi Daddy yang baik untuk Gean dan adik-adiknya. Tolong, Khea ... tolong berikan aku kesempatan lagi."
"Sudah malam, aku mau istirahat dulu." Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Khea.
Ken menghela nafas. Kalau dulu Ken mengatakan itu pada Khea, pasti perempuan itu akan kesenangan dan langsung menerimanya tanpa perlu memikirkan dua kali.
Sekarang, jangankan memikirkan dua kali, berpikir puluhan kali pun, belum tentu Khea akan menerimanya. Tapi Ken tidak akan menyerah. Dia akan terus mengejar Khea.
__ADS_1
Ini bukan obsesi, tapi memang keinginan yang ada di hatinya untuk membahagiakan Khea dan Gean, juga memiliki anak lain yang lucu-lucu.