Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
80 Speechless


__ADS_3

Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Vara saat ini. Dia merasa ditelanjangi di depan orang-orang.


"Kamu benar-benar perempuan gila! Kalau kamu menyukai seseorang, ya katakan padanya, tunjukkan dan juga kejar dia! Bukannya malah menyalahkan orang lain dan berbuat jahat. Ck, kamu sendiri pasti merasa rendah diri, kan? Takut kalau Nio tahu kalau kamu sudah tidak perawan lagi? Takut kalau dia tahu ternyata kamu hanyalah anak orang biasa-biasa saja. Kamu sendiri, yang sebenarnya menurunkan kualitas hidupmu!"


Rissa tertawa saja. Tapi kali ini tertawa miris. Dia sudah tidak perawan lagi sebelum mengenal Nio. Dia sudah terlanjur menunjukkan kepada orang-orang kalau dirinya adalah anak dari orang kaya yang tinggal di luar negeri.


"Andai saja kalian tidak terus merebut apa yang aku inginkan, aku tidak akan seperti ini."

__ADS_1


"Masih saja kamu menyalahkan orang lain."


"Bahkan Nio masih saja, dan selalu membela kamu, Vana. Apa kalian tahu rasanya seperti apa? Dan aku akan selalu melakukan apa yang kalian lakukan padaku. Aku membuat Ken lebih membela Vara dibandingkan kamu, agar kamu sakit. Lalu, aku bahagia saat Ken lebih membela kamu daripada Vara, agar dia pun merasakan sakit. Bukankah ini permainan yang sangat menyenangkan? Mengadu domba kalian semua. Rasanya puas, sangat puas. Seharusnya kamu berterima kasih padaku, Vana, karena berkat aku, mereka pun bisa merasakan apa yang kamu rasakan."


Vana menggelengkan kepalanya, entah takjub atau apa.


"Kenapa, Rissa? Kenapa kamu sampai begitu tega kepadaku?" tanya Vara.

__ADS_1


Akhirnya suaranya bisa keluar juga, setelah sejak tadi hanya mampu diam, mencerna semua kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut beracun Rissa.


"Jangan menyalahkan aku, karena kamu lah yang sebenarnya salah. Aku hanya memberikan saran-saran, tapi yang mengambil keputusan, tetap kamu, kan? Andai saja kamu tetap menikah dengan Ken, mungkin saja kalian sudah memiliki satu atau dua anak. Ken pasti tidak akan meninggalkan kamu begitu saja meski Vana kembali dengan membawa anaknya. Kamu sendiri yang memilih jalan, jadi jangan menyalahkan orang lain. Aku akui, sebenarnya Vana memang lebih pintar dari kamu. Kalau kamu sepintar dia, kamu tidak akan seperti ini."


Rasanya Vara ingin menenggelamkan diri ke lautan.


"Aku menyarankan agar kamu tidak mengalah pada Vana, kamu nurut. Aku mencegah kamu mencari Vana, kamu nurut. Aku menginginkan masa depan yang cerah sebagai pengusaha, kamu nurut dan merasa paling sukses. Kamu terlalu terbuai dengan keadaan dan diri sendiri. Kamu pikir hati tidak akan berubah. Kamu pikir hidup hanya tentang kamu dan Ken. Kamu tidak pernah berpikir kalau Vana akan kembali. Kamu tidak pernah benar-benar memahami Ken, tapi bersikap seolah kamu yang paling tahu Ken luar dalam. Aku hanya menunggu Vana kembali dan memporak-porandakan hubungan kamu dan Ken. Ken tidak akan mungkin melepaskan Vana lagi. Nio tidak akan direbut oleh Vana, itu yang aku inginkan. Aku selalu menunggu Nio, menunjukkan rasa cintaku padanya, tapi dia tidak peduli."

__ADS_1


Nio pun speechless. Jadi semua ini juga ada hubungannya dengan dirinya? Nio memang selalu baik pada orang-orang. Marco pun menghela nafas, sama sekali tidak menduga ternyata Rissa adalah musuh dalam selimut. Bagaimana bisa Rissa merencanakan semua ini, hanya karena rasa iri dan cemburu, juga rasa dendam.


__ADS_2