Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
80 Tidak Ada Istilah Daddy, Opa dan Oma


__ADS_3

"Setelah selesai syuting nanti, mommy akan mendaftarkan Gean sekolah."


Gean seharusnya memang sudah TK, tapi anak itu menolaknya. Dulu, dia pernah sekolah, tapi hanya dua hari saja, anak itu tidak mau kembali lagi ke sekolahnya. Saat ditanya kenapa alasannya, dia hanya bilang membosankan, dan lebih baik belajar sendiri saja di rumah.


Memang, Gean sudah bisa membaca dan menulis sendiri, bahkan dia bisa menghitung tanpa didampingi oleh seorang guru.


"Sekolah?"


"Iya, sudah saatnya Gean sekolah. Sekolah dasar."


"Tidak mau, Mommy. Gean mau belajar sendir saja di rumah."


"Kalau di sekolah kan, ada guru yang menemani."


"Gean tidak perlu guru. Gean bisa belajar sendir dari internet atau membaca buku."


"Kalau di sekolah, Gean bisa punya banyak teman. Bisa main bola, makan bersama."


"Gean tidak suka main bola, dan Gean lebih suka makan sendiri."


Khea menghela nafas. Bagaimana lagi caranya agar anaknya itu mau sekolah.


"Memang kenapa Gean tidak suka pergi sekolah?"


"Bosan."

__ADS_1


"Kan pelajarannya beda dengan yang di TK."


"Tapi Gean sudah bisa semua. Lima kali lima sama dengan dua puluh lima. Empat puluh sembilan kurang tujuh jadi empat puluh dua. Lima puluh lima tambah tiga jadi lima puluh delapan."


Khea sampai mengerjapkan matanya, anaknya itu memang pintar. Jadi, alasan apa lagi yang Haris dia gunakan?


"Gean mau apa, biar sekolah?"


"Tidak ada. Atau Gesn bisa home schooling, sama saja kan, Mom?"


Khea menghela nafas, kalau home schooling, berarti anaknya tidak akan berinteraksi dengan teman sebayanya.


"Tapi itu beda, Gean."


"Kenapa Mommy menyuruh Gean sekolah? Apa Gean menyusahkan Mommy?"


Anak itu menatap Khea, tatapan teduh yang selalu membuat hati Khea terenyuh.


Merasakan damai tapi sedih.


Merasakan bahagia, tapi terluka.


"Ya sudah, kalau Gana tidak mau, tidak apa-apa."


"Gean mau sekolah, yang penting Mommy bahagia."

__ADS_1


"Mommy akan bahagia melihat Gean bahagia. Tidak perlu memaksakan diri kalau memang Gean tidak nyaman. Tidak sekolah formal bukan berarti menjadi anak yang bodoh dan tak berilmu."


"Nanti kalau Gean tidak sekolah, orang-orang akan mengira mommy menelantarkan Gean dan menganggap Mommy miskin."


Khea tertawa, dari mana anaknya itu punya pemikiran seperti itu?


"Jangan pedulikan apa kata orang, yang tahu hanya kita."


Jangan pedulikan apa kata orang?


Ya, itulah yang selalu Gean lakukan, tidak mempedulikan apa kata orang. Membuatnya juga tidak peduli dengan orang-orang itu.


"Gean mau sekolah. Mommy jangan khawatir."


Yang selalu anak itu tanamkan dalam hatinya adalah menyenangkan sang mommy, tidak mau membuat Khea khawatir dan bersedih.


Mommy adalah seseorang yang sangat dia sayangi.


Tidak ada istilah daddy, apalagi opa dan oma dalam hidupnya


Uncle dan aunty yang dia panggil pun, itu sahabat-sahabat Khea yang selalu bersikap baik kepada mereka berdua.


"Ayo kita ke mall setelah syuting nanti, Gean. Mommy mau membeli perlengkapan sekolah untuk Gean."


"Gean sudah punya banyak."

__ADS_1


"No, yang itu untuk di rumah. Mommy ingin membelikan yang baru, biar Gean semangat pergi ke sekolahnya."


Gean mengangguk dan tersenyum, meski dalam hati dia tidak yakin apakah dengan memilki barang baru dia akan semangat pergi ke sekolah nanti.


__ADS_2