Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
64 Karena Obat


__ADS_3

"Di mana aku menyimpan data kesehatan milikku, ya?" tanya Ken.


Dia memang tidak pernah peduli dengan hasil medical check up-nya, karena dia merasa baik-baik saja, hanya kelelahan karena terlalu banyak bekerja, pikirnya saat itu.


"Saya sudah mendapatkan riwayat medis Anda, Tuan."


Arka menyerahkan amplop berwarna putih, yang ada lambang rumah sakit di luar negeri, tempat Ken melakukan pemeriksaan beberapa tahun yang lalu.


"Ck, aku tidak mengerti."


Tidak lama kemudian, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang ada di luar negeri datang. Arka memang meminta dokter itu datang dari luar negeri secepat mungkin.


Dokter itu langsung menjelaskan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


"Dari hasil pemeriksaan saat itu, tubuh Anda terdeteksi menimbun beberapa jenis obat yang bisa menyebabkan kehilangan daya ingat, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Selain itu, terdeteksi juga obat perangsang dan alkohol."


"Saat itu, Anda sering mengeluhkan kalau terkadang melupakan beberapa hal. Semua jenis obat-obatan ini yang mengakibatkan hal itu, yang menyebabkan saya ingat yang melemah dan menghilang."


"Apa itu penyebabnya aku jadi tidak dapat mengingat apa yang terjadi malam itu?"

__ADS_1


"Sepertinya obat yang diberikan saat itu dalam dosis yang tinggi."


"Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana bisa aku mengkonsumsi obat, itu?"


"Obat itu sepertinya diracik sedemikian rupa, agar dapat mengecoh Anda. Anda juga tidak lagi melakukan pemeriksaan seperti yang saya minta, jadi saya tidak bisa mengetahui apa tubuh Anda sudah bersih dari obat-obatan itu."


"Tapi, apa tujuan orang itu? Apa dia ingin menjebak aku? Tapi ... apa ini ada hubungannya dengan Khea? Dari mana orang itu tahu kalau Khea akan datang ke apartemen ku?"


"Khea mungkin saja dijebak, siapa yang tahu kalau dia akan ke apartemen kamu?" tanya opa.


"Vara. Vara mengatakan kalau dia yang memaksa Khea untuk datang ke apartemen ku dan menyerahkan berkas perusahaan saat itu juga. Khea awalnya menolak, kan? Tapi dipaksa oleh Vara, begitu kan yang diceritakan oleh Vara kepada kita?"


"Tapi, rasanya juga tidak mungkin. Kenapa Vara harus melakukannya, Opa? Mereka kan bersaudara."


"Jangan naif, Ken. Harta, kekuasaan dan cinta, tidak mengenal saudara. Orang-orang bisa saling menghancurkan meski mereka adalah keluarga."


"Tapi tidak mungkin Vara setega itu. Apalagi aku yang dilibatkan di sini."


Ken menolak mentah-mentah untuk mempercayai kalau Vara yang melakukan perbuatan itu.

__ADS_1


"Opa harap itu memang tidak benar. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, kalau Vara yang nampak mencurigakan di sini. Apa kamu tidak mencurigai orang lain? Apa ada yang aneh saat kamu bertemu dengan rekan bisnis kamu malam itu?"


"Aku tidak terlalu ingat, Opa."


"Begini, Tuan," sela sang dokter.


"Kapan terakhir kali Anda mengeluhkan tentang gangguan ingatan dan kecemasan Anda?"


"Gangguan ingatan? Hm, sekitar beberapa tahun yang lalu, tepatnya aku lupa. Arka, apa kamu tahu?" Ken malah bertanya pada asistennya itu.


"Saya akan menghubungi seorang dokter dulu, Tuan, untuk memastikannya."


"Siapa sebenarnya yang tega melakukan ini? Kenapa harus aku dan Khea? Apa ini saling berhubungan, apa musuh keluarga Khea dan musuhku sama?"


"Opa juga masih terus menyelidikinya. Opa mau tahu, ini musuh keluarga kita, atau musuh pribadi kamu, Ken. Apa kamu pernah menyakiti hati seseorang?"


"Hanya Khea dan Gean saja, selanjutnya Vara. Tapi untuk orang lain, aku juga tidak tahu. Bisa saja tanpa aku sadari, ada seseorang yang sakit hati dan membenciku."


"Apa ada orang yang kamu curigai?"

__ADS_1


__ADS_2