Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
33 Bibir


__ADS_3

33 BIBIR


Jika orang-orang bergandengan tangan dengan pasangan mereka, maka Khea bergandengan tangan dengan Gean.


"Mommy, semua orang menatap Mommy."


"Tidak, semua orang menatap Gean, karena Gean pria yang paling tampan di sini."


Banyak kalangan yang diundang, termasuk sahabat-sahabat Khea, juga Nio dan Marco. Ya, ada di lingkaran seperti ini, tentu saja membuat mereka akan sering bertemu. Banyak pengusaha dan artis juga model yang diundang. Perusahaan yang mengeluarkan produk ini, bukan perusahaan kecil, tapi perusahaan cabang yang pusatnya ada di luar negeri.


Untung saja tidak ada Rissa, di sini, batin Nio dan Marco.


"Selamat ya, Khea."


"Terima kasih, Nio."


"Halo jagoan," sapa Nio pada Gean. Gean diam saja, tapi anak itu menoleh pada Nio, seseorang yang pernah menjadi Daddy pura-puranya.


"Kamu cantik banget," ucap Jessica.


"Kalian juga," balas Khea pada Jessica dan Ara.


Pelayan memberikan mereka minuman. Gean mengambil orange juice, sedangkan Khea mengambil minuman lain.


"Gean, aunty baru mendapatkan satu set alat lukis. Nanti aunty bawakan untuk kamu, ya."


Gean hanya mengangguk dengan perkataan Ara.


Ken terus menatap Khea. Khea yang memegang gelas minuman, membuat Ken merasa Dejavu dengan sesuatu, tapi apa?


💕💕💕


Hari ini syuting produk lipstik. Dhea menatap cermin, memain-mainkan bibirnya sendiri di depan cermin itu. Jessica yang melihatnya tertawa.


"Kaya ikan maskoki."


"Iklan lipstik, bibirku jadi harus kelihatan sensual, kan?"


"Kaya minta di-kiss."


Khea tertawa saja mendengar perkataan Jessica. Khea kembali melanjutkan olahraga bibir lebih dulu, agar nanti saat memainkan iklannya, tidak terlihat kaku.


"Oya, aku harus mengolesi madu dulu."


"Ish, kalau aku cowok, sudah aku kiss kamu, Khea."

__ADS_1


"Dasar mesum!"


Kini giliran Jessica yang tertawa.


"Apa menurut kamu, bibirku harus begini? Atau seperti ini?"


"Ya ampun, Khea. Hati-hati jika ada pria yang melihat kamu seperti itu. Bisa-bisa kamu langsung disosor."


"Kaya soang, ya?"


Mereka berdua tertawa dengan pembicaraan itu. Sudah pasti bibir Khea yang akan menjadi sorotan iklan nanti, jadi dia harus memastikan bibitnya akan terlihat bagus saat di depan kamera atau di foto nanti.


"Ayo kita ke lokasi syuting. Mana Gean?"


"Gean, ayo pergi."


"Ya, Mom."


Ketiganya pergi ke lokasi syuting pagi itu. Hari ini dimulai dengan penuh semangat, karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sepanjang hari.


"Di mana lokasi syutingnya?"


"Restoran."


Seandainya di restoran, Khea mengganti busananya dengan gaun berwarna hitam. Sutradara menjelaskan tentang konsepnya, dan Khea mengangguk mengerti.


"Mengerti?"


"Ya."


"Oke, semuanya siap-siap."


Lima menit kemudian.


"Action!"


Khea memotong steak dengan pelan. Lalu mengunyah steak itu. Terakhir, dia meminum segelas air, dan menunjukkan di jelas itu tidak ada noda lipstik sedikit pun, sedangkan warna merah di bibirnya tetap merah merona.


Adegan menunjukkan Khea yang tetap melakukan aktivitas seharian, tapi bibirnya masih tetap terlihat segar dan merah.


Terakhir, Khea memberikan kiss bye, tersenyum, dan mengedipkan matanya.


"Cut! Perfect, Khea. Perfect!"


"Gila, keren banget, Khea!"

__ADS_1


"Mommy cantik."


"Terima kasih anak ganteng."


"Aunty Jessica cantik, tidak?"


"Tidak."


"Ish, Gean ini."


Khea mengganti bajunya, rasanya lelah, tapi juga senang. Mereka lalu makan malam bersama. Syuting yang dimulai sejak lpagi, tapi tetap saja selesainya malam.


"Ayo kita makan malam bersama."


Mereka pergi ke restoran Korea, yang lokasinya juga tidak jauh dari lokasi syuting.


Tiba di restoran, Dhea bertemu dengan Rissa. Kedua perempuan itu sama-sama memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mengenal.


Sialan juga yang mau kenal sama dia, batin Khea.


Sok tenar! Batin Rissa.


Pihak perusahaan sudah memesankan makanan yang paling mahal yang ada di restoran ini. Mereka bisa makan sepuasnya tanpa perlu memikirkan harga.


"Ini daging sapi kualitas terbaik. Ayo kalian makan."


Mereka menikmati makan malam itu. Memang sudah menjadi buah bibir di antara para sutradara, kalau bekerja sama dengan Khea akan sangat memuaskan. Mereka tidak perlu melakukan banyak take ulang. Sehingga tidak perlu membuang banyak waktu. Bisa cepat kembali ke rumah dan istirahat. Ternyata semua itu benar, dan mereka sangat puas.


"Khea, berapa banyak tawaran iklan yang kamu dapatkan?"


"Kenapa, Bang?"


"Aku akan mempromosikan kamu untuk produk baru makanan Korea. Mau?"


"Mau, kalau bayarannya gede."


"Hahaha, bagus, bagus. Jadi orang memang tidak boleh munafik. Jangan pedulikan apa kata orang yang mengatakan kamu sok jual mahal atau sombong."


"Ya, aku tidak peduli apa kata orang. Selama mereka tidak menggangu Gean, aku hanya akan menganggap angin lalu."


"Nona Khea sering dibicarakan yang tidak-tidak," ucap salah satu kru yang langsung disikut oleh temannya.


"Hm, aku tahu. Tidak masalah, anggap saja mereka sedang mempromosikan diriku."


Mereka semakin kagum dengan sikap Khea yang kalau bicara ceplas-ceplos dan pastinya tidak munafik. Walaupun dia terkesan sombong dari mimik wajah, tapi toh pekerjanya juga profesional dan memuaskan. Apalagi Khea bisa seperti ini bukan mendompleng nama keluarga atau memanfaatkan skandal untuk naik pamor seperti artis lainnya.

__ADS_1


__ADS_2