Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
22 Batin Yang Menjerit


__ADS_3

"Ara, aku pergi dulu ya. Aku tidak mau Gean merasa tidak nyaman."


Ara mengangguk, meski dia masih ingin bersama sen sahabatnya itu.


"Ayo Gean, pamit pada aunty Ara."


"Gean pergi dulu, Aunty."


"Gean, boleh aunty memeluk kamu?"


"Ya."


Ara langsung memeluk tubuh Gean. Hal itu tidak lepas dari perhatian keluarga Ken dan keluarga Vara. Bagaimana bisa Ken menghamili Vana? Itulah yang ada dalam pikiran mereka.


Ken sendiri juga masih dilanda kebingungan, meski hatinya ... yang sulit dia utarakan, mengatakan kalau anak kecil itu memang benar anaknya.


Kenapa jadi begini?


Ken hanya bisa menatap kepergian dua orang itu, yang diiringi bisik-bisik persis enam tahun yang lalu.


Setelah melihat Khea dan Gean menghilang dari pandangannya, Ara langsung menghampiri Ken.


Plak


Plak

__ADS_1


Gadis itu menampar wajah pria itu dengan sangat kencang, hilang tidak terduga sama sekali.


"Dasar bajingan keparat. Kamu sudah menghamili sahabatku lalu tidak mau mengakuinya, membuat dia harus menanggungnya seorang diri. Dasar pria brengsek, mati saja kau!"


"Ara, jangan begitu," ucap Marco.


"Diam kamu! Jangan-jangan kelakukan kamu juga sama dengannya!"


"Jangan asal bicara, Ara."


Acara pertunangan itu akhirnya menjadi kacau karena Ara yang marah dan pergi meninggalkan acara tersebut.


"Aku tidak menyangka kamu seperti itu, Ken," ucap Nio.


"Sebagai sahabat, aku sangat kecewa padamu. Kamu sudah menelantarkan seorang perempuan yang kamu hamili, dan menelantarkan anak kandung kamu sendiri dan malah berbahagia di atas penderitaan orang lain."


Bugh


Pria itu menghajar Ken dengan kuat


"Rasa sakit kamu tidak ada apa-apanya dengan apa yang kalian semua lakukan padanya. Semua orang yang ada di sini menjadi saksi, kalau apa yang dia katakan enam tahun yang lalu memang benar."


Para tamu mulai membubarkan diri, menatap sinis pada pria yang selama ini terkenal dan sangat dikagumi berbagai kalangan itu.


"Ada yang harus kita luruskan di sini!" ucap Bryan tegas.

__ADS_1


Mamanya Vara dan Ken terus saja memegang dada mereka. Wajah Khea dan Gean memenuhi pikiran mereka. Kalut, itukah yang mereka rasakan saat ini.


Ternyata mereka sudah punya cucu laki. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk mengetahui kebenaran ini.


Sekarang, apa yang harus mereka lakukan?


Sebagai perempuan, mereka sangat paham apa yang Khea alami.


Dan itu ... salah mereka.


Kedua perempuan paruh baya itu tidak berhenti menangis, terutama mama Vara. Vara berusaha menenangkan mamanya, meski hati dan pikirannya juga sedang sangat kacau.


Adiknya, keponakannya? Dan ayah dari anak itu ternyata memang benar Ken, pria yang selama ini sangat dia cintai. Pria yang sangat dia percaya. Pria yang dia anggap sempurna dan sangat setia.


Sekarang dia harus bagaimana?


Tentu saja dia merasa dikhianati. Sudah enam tahun berlalu, dan hari ini mereka baru tahu kebenarannya, meski belum semuanya.


Sakit sekali mendapati kenyataan ini. Ini bagai mimpi buruk. Lalu bagaimana dengan nasibnya nanti?


Bagaimana dengan Vana yang sekarang sudah tidak mau lagi menggunakan nama pemberian orang tuanya. Juga baga dengan anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Ken?


Anaknya, tidak bis dipungkiri lagi. Melakukan tes DNA akan semakin membuat Khea marah, dan pandangan buruk dari orang-orang. Masihkan Ken tidak mau mengakui semua itu?


Tapi apa yang Ken lakukan tadi, sudah menunjukkan kalau pria itu mengakuinya. Mengakui darah dagingnya.

__ADS_1


Aaaaaa


Batin Vara menjerit


__ADS_2