
"Katakan, apa kalau anak, adik, atau saudara kalian yang menjadi korban kalian akan menghakiminya? Apa jika itu kalian sendiri, kalian akan bergandengan tangan dengan mereka? Memaafkan mungkin mudah, hanya cukup keluar dari mulut seperti muntahan, tapi melupakan itu susah. Apa salah jika aku membenci mereka? Apa kalian harus merasakan dulu bagaimana menjadi aku baru bisa mengerti? Mereka dan kalian itu manusia sok suci yang bersikap seperti korban. Dengarkan, kalian para sekutu Ken apa yang kalian tanam, itulah yang kalian tuai! Jadi, puaskan lah diri kalian untuk menghakimiku."
"Hai Ken dan keluarganya, juga Vara dan keluarganya ... bagaimana rasanya tidak diakui oleh Gean? Sakit bukan? Jangan menyalahkan aku atau anakku. Ini adalah karma yang harus kalian tanggung. Seperti itu juga yang aku rasakan dulu, sakit saat tidak diakui. Bukan aku yang mempengaruhi anakku, tapi dia punya pemikiran yang dewasa, yang bisa menilai sendiri arti ketulusan. Ya, seperti itulah rasanya tidak diakui. Rasanya dibuang dan tak dianggap. Aku dan Gean sudah bahagia sekarang, jadi jangan ganggu kami lagi."
Para wartawan tidak ada lagi yang berani bertanya. Mereka merasa tertohok dengan perkataan Khea.
Begitu konfirmasi dari Khea diliput, mereka langsung memberikan komentar. Khea hanyalah satu dari korban yang terekspos. Para psikolog pun ikut mengomentari masalah ini. Para pembaca ekspresi wajah pun ikut menanggapi. Berita ini benar-benar viral dan semakin diperbincangkan.
"Arka."
"Ya, Tuan?"
"Siapkan acara konferensi pers."
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya, Arka langsung melakukan apa yang diminta oleh atasannya itu.
...🌼🌼🌼...
Para wartawan sudah berkumpul di ruang yang telah disiapkan oleh Arka. Tidak lama kemudian Ken masuk ke ruangan itu. Pria tampan itu duduk tegap, melihat ke depannya yang ada banyak wartawan dengan wajah penasaran.
Pria itu memejamkan mata sesaat, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia akan mengambil satu keputusan besar dan penting saat ini.
Ken bisa merasakan sudut matanya yang basah. Arka yang berdiri di belakang Ken, hanya diam menunduk. Pria itu bisa merasakan kesedihan Ken. Acara yang disiarkan secara langsung ini menarik jutaan penonton.
Keluarga Ken dan Vara pun tidak percaya dengan apa yang Ken lakukan. Dia melakukan konferensi pers ini tanpa memberi tahu dulu kepada mereka.
"Tuan Ken, apa Anda akan tetap menikah dengan nona Vara?"
__ADS_1
Ken menghela nafas, dia sendiri juga tidak tahu apakah nanti akan tetap menikah dengan Vara atau tidak. Dia tidak bisa menjawabnya, biarlah waktu yang akan menjawab. Masih ada sekitar tiga bulanan lagi, apa saja bisa terjadi.
Takdir siapa yang tahu?
Melihat keterdiaman Ken, membuat mereka menerka-nerka, tapi dari terkaan itu, mereka berpikir kalau ada sesuatu yang akan terjadi, kalau ada kejutan-kejutan yang tidak pernah disangka ....
.
.
.
Bab sebelumnya lama banget ya review-nya, semoga bab yang ini bisa cepat, jadi hari ini bisa dua bab🙂
__ADS_1