
"Kenapa kamu melakukan semua itu, Vara?"
"Maksudnya melakukan apa?"
"Kenapa kamu memberikan pernyataan itu kepada para wartawan?"
Wajah Vara yang tadinya cerah saat bertemu dengan Ken, langsung meredup. Saat Ken mendatanginya di perusahaan, dia tentu saja sangat senang. Pria yang lebih dari satu minggu ini menghilang, kini hadir mengunjungi dirinya. Tetapi pertanyaan Ken yang terkesan tidak suka itu, langsung mematahkan hatinya. Dia merasa disalahkan dan telah berbuat jahat saja.
"Me ... memangnya apa yang salah, Ken? Aku hanya menjawab dengan sejujurnya apa yang mereka tanyakan saja, kan."
"Kenapa kamu mengatakan kalau kamu tidak membutuhkan persetujuan orang lain untuk kita menikah, hah!" Vara tersentak saat Ken membentaknya.
"Kamu seharusnya memikirkan perasaan anakku, Vara! Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku, mendekatkan diri padanya, dan membuat Gean mau menerimaku. Tapi kamu malah mengacaukannya, kamu pasti sudah lihat sendiri kan, video yang diunggah Gean? Aku ... aku juga ingin memiliki anakku, Vara!"
__ADS_1
"Ken, aku ...."
"Kamu berkata seperti itu seolah Gean itu tidak penting. Jadi, bagaimana bisa kamu menerima anakku kalau nanti kita jadi menikah?"
Kalau nanti kita jadi menikah?
Ken mengatakan itu seolah-olah itu suatu pertanda kalau pernikahan mereka akan ditunda lagi, atau mungkin batal untuk selamanya.
"Bagaimana pun juga, aku ingin memiliki anakku, bagaimana pun juga caranya. Aku akan melakukan apa saja."
Ken diam saja, tidak menyimak pertanyaan Vara. Dia sibuk memikirkan Gean dan Khea. Ibu dan anak itu pasti sudah salah paham lagi padanya.
Pria itu lalu beranjak dari duduknya, ingin menemui ibu dari anaknya. Dia mau meluruskan semau ini. Dia tidak tahu apa-apa soal pernyataan Vara, juga tidak terlibat dengan apa yang opanya lakukan.
__ADS_1
Ken melajukan mobilnya dengan cepat, sudah tidak sabar bertemu dengan perempuan yang dulu pernah sangat mencintai dirinya, dan ternyata sudah memberikan dia keturunan yang sangat tampan dan menggemaskan, persis seperti Ken saat kecil dulu.
Ken tiba di butik milik Khea. Di dalam sana ternyata ada beberapa artis yang sedang memilih gaun, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, di sana juga banyak wartawan yang sedang meliput kegiatan artis-artis itu.
Kedatangan Ken tentu saja menarik perhatian mereka, terutama para wartawan. Sudah lama Ken tidak muncul di layar kaya. Meskipun Ken bukan artis, tapi dia salah satu pengusaha muda yang sering muncul di televisi, termasuk di berita infotainment.
"Tuan Ken ...."
"Maaf ya, saya sedang terburu-buru." Ken langsung menyela para wartawan itu.
"Kau mau bicara dengan kamu, Khea." Tidak mau menarik perhatian orang-orang, apalagi di hadapan para wartawan, Khea akhirnya mengajak Ken masuk ke ruang kerjanya.
Ken menghirup dalam-dalam aroma wangi yang keluar dari tubuh Khea. Ken tersenyum, aroma Khas seperti aroma bayi yang baru mandi. Apa ini karena Gean? Pikir Ken dalam hatinya. Dia jadi membayangkan kalau nanti setiap hari dia akan menghirup aroma menyegarkan ini, aroma yang sangat nyaman dan membuat hatinya tenang.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Pertanyaan Khea itu menyadarkan Ken dari lamunannya. Dia berdehem sebentar, menatap perempuan cantik yang jujur saja, semakin cantik di mata Ken. Ken mendadak gugup, kata-kata yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari, kenapa sekarang mendadak buyar dari otaknya?