
"Ayo Gean, makan," ucap Khea.
Gean menatap Khea, sedangkan Khea memberikan anggukan kepala.
Mereka makan dengan diam. Ken tersenyum, merasa bahagia mereka bisa makan satu meja makan meski kaku dan tidak ada pembicaraan sama sekali.
"Kalian berdua tidak akan ke mana-mana, kan?"
"Tentu saja kami akan ke mana-mana."
Ken menoleh, melihat Khea yang menikmati sarapan paginya.
"Aku harus bekerja, dan Gean mana mungkin jauh dariku."
Ken tersenyum, setidaknya mereka berdua tidak keluar negeri lagi. Ken lalu berdiri, menyiapkan makanan lain untuk bekal Khea dan Gean. Kali ini dia membuat menu yang lebih komplit. Ada sayuran dan daging panggang. Bahkan dia juga memasak nasi merah.
Aroma masakan itu begitu menggiurkan. Gean masuk ke kamarnya untuk pergi mandi, sedangkan Khea menyiapkan tas kerjanya. Sudah cukup selama satu minggu ini dia beristirahat di rumah bersama Gean.
💕💕💕
Khea memikirkan banyak hal, terutama Gean. Tentang masa depan anaknya. Ditatapnya wajah Gean yang sedang serius dengan laptopnya, entah kesibukan apa yang sedang dilakukan.
Khea memposisikan bagaimana kalau dirinya yang menjadi Gean, agar tahu langkah apa yang tepat, yang harus dia lakukan.
Kalau aku menjadi Gean?
__ADS_1
Kalau aku menjadi Gean? Apa yang aku inginkan? Apa yang akan aku lakukan?
"Mom? Mommy?"
"Ya? Ya Sayang?"
"Kenapa mommy melamun? Apa yang mommy pikirkan?"
"Tidak ada."
"Kenapa mommy berbohong pada Gean? Kita ini soulmate."
Khea tertawa mendengar perkataan Gean. Anaknya itu memang selalu bisa mengubah suasana hatinya yang tadinya bad mood atau resah, menjadi terhibur.
Khea menghela nafas. Gean pun akan selalu seperti itu. Akan selalu mencari tahu apa yang membuat Khea resah.
"Mommy tidak boleh banyak pikiran, nanti sakit."
Senyum Khea kembali merekah. Bagaimana bisa dia tidak bahagia memiliki anak secerdas ini.
Ya ... memang selalu ada hikmah di balik semuanya. Karena tragedi itu, aku jadi bisa memiliki Gean, hartaku yang paling berharga. Masa depan yang tidak ada dalam list impianku, tapi ternyata Tuhan memberikannya untukku. Gean adalah anugerah, bukan petaka. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya, seperti Gean yang selalu berusaha memberikan aku yang terbaik, membuat aku tertawa dan selalu menutupi kesedihannya sendiri.
Khea lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Gean pun sama, dia kembali sibuk dengan laptopnya. Tangannya bergerak lincah, sedangkan matanya bergerak kiri kanan atas bawah.
__ADS_1
💕💕💕
Vara menghela nafas berat. Dia menatap langit malam dari balkon kamarnya. Tangannya terkepal erat, dengan air mata yang mengalir.
Semua ini mengajarkan dia banyak hal, bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa benar-benar dipercaya, bahkan diri sendiri bisa menipu.
Seperti Ken yang membohongi dirinya sendiri, entah sadar atau tidak.
Seperti Rissa yang membohongi dirinya dengan cara yang paling menyakitkan.
Entah mana yang lebih menyakitkan, dibohongi oleh Rissa, atau Ken. Berapa kali pun Vara menghela nafas, tetap saja hatinya tidak merasa lega. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya. Semakin lama semakin kencang. isak tangisnya pun semakin keras. Air matanya semakin deras.
Tak juga lega.
Tak juga terasa lapang.
Rintihan itu semakin memilukan.
Sakit, sakit sekali rasanya!
Tak ada yang mendengar. Tidak ada yang mengusap kepalanya, mengulurkan tangannya, bahkan mengatakan, "Kamu bisa, kamu kuat. Tak apa, semua akan terlewati dengan baik. Semua akan berlalu, dan kembali normal."
Jangan berharap lebih, karena dulu pun Khea merasakannya. Tidak ada keluarga yang melakukan itu untuknya.
Vana ... Vana ....
__ADS_1