
Ken tidak pernah meninggalkan Khea dan Gean selama di rumah sakit. Dia masih terus memikirkan perkataan Khea tentang berbagai peristiwa yang menimpa dia dan anaknya.
Siapa sebenarnya orang itu? Dan apa tujuannya?
Kalau memang dia musuhku, dia pasti akan memanfaatkan Khea dan Gean untuk menjatuhkan ku. Tapi kenapa dia tidak pernah sekali pun mengusik Vara?
Ken tidak bisa tidur, dia terus memikirkan berbagai macam kemungkinan. Ken juga teringat dengan perkataan Khea tentang ancaman untuknya, yang membuat Khea saat itu berdiri di depan unit Ken untuk membicarakan tentang hal itu, namun mereka malah pingsan bersama.
Ken menghampiri brankar Khea yang berukuran besar, dan di sebelahnya ada Gean. Kedua orang kesayangannya itu tidur bersama, membuat Ken juga ingin ikut tidur di sana.
Ken duduk di atas brankar di sisi Khea. Mengusap dengan pelan rambut Khea yang begitu halus. Lalu ditatapnya wajah teduh Gean, yang terlihat nyenyak tidur di sebelah Khea.
Ken menyandarkan tubuhnya, dan tidak lama kemudian dia ikut tertidur, seperti terbius oleh aroma dari tubuh perempuan yang ada di sebelahnya itu.
Ketiganya tidur bersama tanpa ada yang menyadari satu sama lain. Gean memeluk tubuh Khea, begitu juga dengan Ken yang tanpa sadar memeluk tubuh perempuan itu.
Ken tidurnya sangat nyenyak saat itu. Tidak gelisah apalagi bermimpi buruk. Aroma menenangkan yang ada di sebelahnya, nyatanya mampu untuk membuai dirinya ke alam mimpi yang menenangkan.
Khea membuka matanya, menggeliat pelan dan melihat sosok anaknya dalam versi dewasa, yang wajahnya begitu dekat dengan dirinya.
"Aaa!"
Bruk
__ADS_1
"Aw!"
Khea mendorong Ken sehingga laki-laki itu jatuh terjerembab ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan padaku?"
"Memangnya aku melakukan apa padamu?"
Ken memang tidak mengingat apalagi sadar apa yang terjadi tadi malam. Pria itu bangun dari jatuhnya, dan segera ke kamar mandi. Melihat sikap Ken itu, membuat Khea mendengus. Untung saja masih ada Gean di dalam kamar rawatnya. Tubuh Khea sedikit gemetaran, tapi dia berusaha menenangkan dirinya, begitu juga dengan jantung yang berdetak tak karuan.
Jam sembilan, Arka datang ke rumah sakit untuk mengantarkan berkas. Laki-laki itu melihat tuannya yang terlihat lebih segar.
"Anda terlihat lebih segar, Tuan."
"Ya, aku merasa tidurku lebih nyenyak tadi malam."
"Benarkah? Itu sangat bagus, Tuan."
Bagaimana bisa, aku tidur sangat nyenyak tadi malam.
Ken mencoba mengingat-ingat, apa yang terjadi tadi malam. Wajahnya tersenyum tipis saat berpikir, mungkin saja tadi malam dia tidur di sebelah Khea.
"Arka?"
__ADS_1
"Ya, Tuan?"
"Kapan jadwalku bersama dokter?"
"Dua hari lagi, Tuan."
"Apa tidak bisa sekarang saja?"
"Sekarang?"
"Iya, sekarang saja. Ayo cepat!"
Arka melihat bosnya yang begitu semangat menemui dokter. Biasanya orang akan malas untuk bertemu dengan seorang dokter, kecuali mungkin dokter kandungan untuk pasangan suami istri.
Hari ini, untuk yang pertama kalinya, Arka melihat Ken yang begitu antusias.
Ken masuk ke dalam ruangan dokter begitu saja.
"Oh, Anda."
"Ada yang ingin saya bicarakan."
Ken mulai menceritakan apa yang terjadi tadi malam. Untuk yang pertama kalinya, sejak beberapa tahun belakangan ini, dia begitu nyenyak tidur. Tidak merasakan gelisah sedikit pun. Tidak bermimpi buruk juga terbangun dalam keadaan fresh.
__ADS_1