Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
88 Aku, Kamu, dan Dia


__ADS_3

[Bisakah kita bertemu?]


[Mau apa?]


[Ada hal penting yang harus aku katakan. Kumohon! Aku akan mengirimkan alamatnya.]


Dua jam kemudian


Khea dan Gean memasuki sebuah ruangan. Di dalamnya, sudah ada Vara dan keluarga besar, Ken dan keluarga besar, Nio dan keluarga besarnya.


"Ada apa? Ingin menghakimi aku lagi?"


"Tidak, bukan begitu, Vana. Aku ... ingin meminta maaf padamu." Vara menatap dalam mata Khea. Mata yang ketika masih kecil dulu terlihat sangat menggemaskan saat menatap Vara jika ingin meminta sesuatu.


"Maafkan aku, yang sudah membuat aku, kamu dan dia menjadi seperti ini. Ini salahku."


Kini giliran Khea yang menatap dalam mata Vara, seseorang yang mengajaknya untuk bertemu.


"Gean, tolong maafkan aunty. Karena aunty, hidup kamu jadi menderita."


Tangan Gean terkepal di bawah meja. Dia menatap dalam mata Vara, lalu menatap Ken.

__ADS_1


"Pa, Ma, tolong maafkan Vara. Ken, maafkan aku." Vara meminta maaf kepada semuanya.


Mereka diam, larut dalam pikiran masing-masing.


Rasanya Khea ingin menampar perempuan di hadapannya itu, menjambak, bahkan menyiksa. Tapi apa dengan begitu hatinya akan menjadi puas?


"Sudah bicaranya?"


Vara terdiam, rasanya ada banyak hal yang ingin dia sampaikan, tapi lidahnya kelu.


Tidak mendapatkan jawaban, Khea lalu berdiri. Gean ikut berdiri, sambil masih menatap Ken dan Vara bergantian. Biasanya anak itu akan memalingkan wajahnya dari orang-orang itu.


Media sosial sedang dihebohkan dengan berita terbaru. Seorang perempuan muda yang menjadi simpanan pria-pria kaya. Bukan karena kayanya, tapi pria-pria itu telah tua dan pastinya telah memiliki anak istri.


Tidak lama dari berita itu beredar, para istri dari pria-pria itu mendatangi rumah si perempuan.


"Hei, keluar kamu pelacur!"


Rissa memastikan kalau pintu telah terkunci rapat. Sedangkan para pria-pria itu harus menanggung malu. Dimaki-maki oleh anak istri, bahkan dicemooh oleh rekan kerja.


Orang-orang, terutama para wartawan, mulai mencari tahu identitas Rissa.

__ADS_1


Di kampungnya, kedua orang tua Rissa dan adik perempuan Rissa sangat malu. Para tetangga berteriak memanggil mereka dengan kalimat-kalimat kasar. Tidak hanya itu, bahkan mereka menuntut untuk mengusir keluarga itu agar tidak membuat malu kampung mereka dan memberikan aib.


"Katanya kerja di perusahaan sebagai manager, ternyata hanya seorang perempuan simpanan. Dasar pelacur! Apa kalian tidak mendidik anak kalian dengan baik? Pasti rumah ini dibangun dari uang hasil menggoda pria-pria beristri!"


Bug


Jendela pecah karena salah satu warga melempari dengan batu. Kedua orang tua Rissa dan adiknya hanya bisa menangis sambil berpelukan.


"Pergi kalian dari sini! Kami tidak sudi memiliki tetangga yang menjijikkan seperti kalian!"


Rossa, adik Rissa menutup telinganya dengan kedua tangan. Mereka sama sekali tidak menyangka, kalau keluarga mereka akan melakukan tindakan memalukan seperti ini. Padahal bapak dan ibunya sudah mewanti-wanti agar Rissa tidak melakukan hal yang bisa membuat malu keluarga, apalagi dia tinggal di kota besar dan jauh dari keluarga.


Rissa sendiri juga merasa sangat ketakutan di tempat tinggalnya. Dia bisa melihat sosial media yang isinya menggunjing dirinya. Bahkan di televisi pun membahas tentang dirinya.


Lengkap


Di mana dia bersekolah, bahkan dia pun pernah tertangkap kamera saat sedang bersama dengan Vara dan kawan-kawan.


Ya, keinginan Rissa kini telah terwujud.


Dikenal oleh orang-orang bukan karena mendompleng pertemanan dengan Vara.

__ADS_1


__ADS_2