
Khea dan Gean sudah kembali ke Jakarta setelah melakukan syuting iklan. Perempuan itu langsung ke butik untuk bertemu dengan seorang pelanggan yang akan memesan gaun padanya.
Pesan masuk ke dalam ponselnya, dan Khea membaca pesan dari orang tak dikenal itu.
[Jauhi Ken, atau aku akan membalas kamu dan menyakiti anak haram mu itu!]
[Cih, sinting! Pasti kamu orang yang ditolak pria itu, kan? Dasar gak laku, aku pasti lebih segala-galanya dari kamu.] Balas Khea di pesan itu.
Orang itu salah besar kalau dengan pesannya itu, bisa membuat Khea ketakutan dan merasa terintimidasi. Khea bukan perempuan yang lemah yang akan ketakutan dan menangis di pojokan.
Siapa dia? Vara?
Tentu saja nama Vara yang akan langsung terbersit di pikiran Khea. Hanya Vara saja yang sangat menginginkan Ken, selain dirinya—dulu.
Tapi apa mungkin dia yang mengirim pesan ini? Kenapa tidak mengatakannya saja secara langsung?
__ADS_1
Pesan kembali masuk, dan Khea membacanya.
[Aku tidak main-main dengan kata-kataku.]
Khea mendengus. Mana mungkin dia akan membiarkan ada orang yang akan menyakiti Gean, tapi bukan berarti dia juga akan langsung ketakutan mendapatkan ancaman seperti itu. Khea bukan perempuan bodoh yang mudah ditekan oleh orang lain. Itu sebabnya dia bisa sampai di posisi ini.
💕💕💕
"Ken, aku masih sangat mencinta kamu, tidak bisakah kita kembali bersama?"
"Aap rasa cinta kamu padaku sudah hilang sama sekali?"
"Ini bukan masalah masih atau sudah tidak. Seandainya pun aku masih mencintai kamu, aku akan tetap melepaskan kamu. Ada yang lebih penting dari sekedar cinta. Aku bisa melakukan apa pun demi darah dagingku. Kesalahanku di masa lalu sangat fatal. Aku sudah menyia-nyiakan darah dagingku sendiri, meskipun aku tidak sengaja melakukan itu. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana bencinya seorang anak kepada orang tua yang pernah menyia-nyiakan dirinya? Aku hanya manusia biasa yang punya perasaan takut. Takut karma, takut dosa, dan takut menyesal. Karena itu, aku ingin memperbaiki semuanya selagi masih bisa. Aku tidak mau hanya bertobat di saat nyawa sudah berada di ujung ubun-ubun."
"Menebus kesalahan bukan berarti Haris menikah dengan Vana, Ken. Bagaimana kalau nanti Kalina menikah, tapi ternyata tidak cocok? Ujung-ujungnya, kalian malah akan berpisah juga, atau saling menyakiti, kan?"
__ADS_1
"Aku akan menanggung resiko itu. Aku tidak akan lagi menyakiti hati Vana. Kalau Lin dia yang akan menyakiti aku, tidak masalah."
"Kenapa sekarang kamu menjadi bodoh?"
"Ya, aku memang bodoh. Kalau saja sejak dulu aku pintar, maka kejadian ini tidak akan ada."
Ken tidak akan terpengaruh oleh kata-kata Vara. Mau bagaimana pun Vara berkata, hatinya tidak akan goyah.
Keputusan Ken sudah sangat bulat. Bahkan jika Khea tetap menolaknya, di tidak akan menikah dengan siapa pun. Toh dia sudah punya anak, jadi keluarganya tidak akan memaksa menikah dengan alasan agar memiliki keturunan. Lagipula, opanya juga lebih setuju dengan Vana, bukan perempuan lain, termasuk Vara meski mereka berdua sama cantik dan kakak beradik.
"Ken, jangan merendahkan diri kamu hanya untuk mengejar-ngejar dia."
Ken menatap manik mata Vara, perempuan yang pernah menjadi tunangannya selama bertahun-tahun.
"Pada akhirnya, kita bertiga merasakan hal yang sama. Miris, ya!"
__ADS_1
"Maksudnya?"