Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
67 Pembayaran Yang Sama


__ADS_3

"Sekarang kalian begitu mudah meminta maaf seolah rasa sakit yang aku alami tidak ada apa-apanya dibandingkan kesalahan kalian. Yang benar saja!"


Khea mencibir mereka. Pandangan menghina itu dia berikan kepada orang-orang itu. Ingin sekali dia merobek mulut mereka yang sekarang begitu mudahnya meminta maaf tanpa memikirkan bagaimana selama enam tahun ini dia menjalani hidup.


Membesarkan anak tanpa suami dan keluarga. Hanya teman-temannya yang peduli dengannya. Teman-teman yang tidak memiliki hubungan darah tapi bersikap seperti seorang saudara yang saling menjaga.


Jangan salahkan Khea kalau dia semakin keras seperti ini pada mereka. Perempuan mana yang setelah dinodai akan melupakan semuanya begitu saja? Rasa sakit itu akan tetap ada. Bekas itu tidak akan pernah hilang. Traumanya bukan hanya setahu dua tahun, tapi seumur hidup.


Khea bahkan ingin sekali membunuh pria itu. Ken yang melihat kebencian dari mata Khea untuk dirinya, merasa terluka. Di mana tatapan yang dulu sangat memuja? Sikap manja dan selalu bergelayut di lengannya. Perhatian-perhatian yang selalu diberikan setiap saat setiap waktu.


Tidak ada.


Semaunya sudah hilang tak berbekas.


Sekarang Ken memohon, berdoa agar hati itu dapat kembali ke posisi awalnya. Agar hati itu kembali untuknya. Ken memejamkan matanya. Semai tidak lagi sama, meski orang itu masih sama.


Vana telah mengubah namanya, itu berarti dia sudah meninggalkan masa lalunya. Bagaimana bisa Ken meraih hati itu, jika hati yang ingin disentuh saja selalu menghindarinya. Bagaimana bisa dia menggenggam tangan itu, jika tangan itu itu tidak lagi mau merangkulnya.


"Khea, kami tahu kami salah, ijinkan kami menebusnya."

__ADS_1


"Dengan cara apa kalian menebusnya? Apa kalian bisa mengembalikan keperawanan ku? Apa kalian bisa mengembalikan masa remajaku yang seharusnya aku isi dengan bahagia? Apa kalian bisa membuat anakku saat itu lahir dengan ditunggui oleh papanya?"


"Kamu!" Khea kembali menunjuk Vara.


"Seharusnya kamu yang menderita, bukan aku!"


"Khea, aku tahu aku salah, tapi aku juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Siapa yang menduga hal buruk menimpa padamu."


"Gampang kamu bicara seperti itu karena bukan kamu yang merasakannya. Kalau aku yang bicara begitu, kalian pasti langsung menganggap aku ini egois dan berlebihan."


"Aku membenci kamu, Vara. Begitu juga dengan pria itu. Kalian memang pasangan yang ideal, sama-sama sampah!"


"Khea, jangan bicara begitu, bagaimana pun juga dia tetap kakak kamu."


Pembelaan orang-orang kepada Vara membuat Khea semakin kesal.


Plak


Plak

__ADS_1


"Aaaa!" jerit Vara.


Khea menampar Vara dan menjambak perempuan itu.


"Seharusnya sudah dari aku aku memukulmu seperti ini!"


Mereka berusaha memisahkan Khea dari Vara, tapi tenaga perempuan itu sangat kuat.


"Bagaimana rasanya? Apa sangat sakit? Seperti itulah yang aku rasakan dulu. Tapi rasa sakit kamu ini tidak ada apa-apanya. Aku dulu berteriak, menangis, dan meminta tolong. Memohon padanya agar dia tidak melakukan itu. Seharusnya kamu yang merasakan itu, bukan aku."


Khea melepaskan jambakannya.


"Bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan kami, Khea?"


"Aku minta pembayaran yang sama dari kalian semua, maka aku akan memaafkan kalian."


"Maksudnya?"


"Apa yang bisa kalian tawarkan kepadaku?"

__ADS_1


"Biarkan Ken bertanggung jawab padamu dan Gean."


Deg


__ADS_2