
14 MEREKA SEMUA TAHU
“Kalian baru pulang?” tanya Ken di depan pintu unit Khea.
Pria itu berdiri di depan pintu, menunggu kedatangan mereka. Sudah sejak tadi dia menunggu kepulangan Gean dan ibu dari anaknya itu. Di tangannya banyak kantong berisi makanan untuk keluarga kecilnya.
“Ayo masuk,” ucap Ken.
Khea mendengus, kenapa dia yang malah dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya sendiri?
Apa aku dan Gean harus mencari tempat tinggal baru lagi?
Ken masuk setelah Khea membuka pintu. Pria itu melihat isi apartemen Khea, yang terlihat lebih mewah dari tempat tinggal Khea sebelumnya.
Dia sangat tahu kalau sejak dulu, Khea menyukai barang-barang mahal dan berkelas. Sekarang kalau dia pikir-pikir, itu hal yang wajar. Siapa sih yang tidak menyukai barang-barang mahal dan mewah? Jangankan perempuan, laki-laki saja menyukainya.
Khea juga tidak munafik. Tidak berpura-pura tidak suka dan tidak mau, padahal dalam hati menginginkan.
Ken semakin menyesali dirinya yang dulu.
Dia jadi teringat dengan Vara. Teringat bukan karena merindukannya atau berharap akan kembali padanya, tapi mengingat dengan penampilan gadis itu.
Tidak ada satu pun barang Vara, yang murah dan abal-abal. Entah itu karena tuntutan pekerjaan atau karena menjaga nama baik keluarga untuk berpenampilan menarik.
Maafkan aku.
“Pulang, sana!”
__ADS_1
“Aku masih mau di sini. Ini untuk Gean. Bagaimana kalau hari Sabtu nanti, kita jalan-jalan? Gean mau ke mana? Ke pantai? Puncak? Kebun binatang? Kita bisa menginap satu malam.”
Gean memalingkan wajahnya. Entah apa yang anak laki-laki itu pikirkan dan rasakan.
“Kita juga bisa ke mall, belanja. Hmm, atau ke taman bermain? Kita bisa bermain banyak permainan.”
Apa seperti ini rasanya diajak piknik oleh seorang Daddy?
Gean dulu sering bertanya-tanya, bagaimana rasanya piknik bersama kedua orang tua yang utuh. Bagaimana berkemah, membeli mainan, ke kebun binatang, bermain air di pantai, dan tentu saja saat pulang, akan membawa banyak barang yang dibelikan oleh kedua orang tuanya.
“Mau?”
“Tidak.”
Ken menghela nafas, tapi dia tetap tersenyum. Dia tahu kesalahan fatalnya di masa lalu, tidak akan memudahkan jalannya.
“Sampai kapan kamu mau di sini? Kami mau tidur.”
“Makan dulu.”
“Pulanglah.”
“Baiklah. Khea, aku mohon, tolong jangan larang aku untuk dekat dengan anakku. Aku akan menebus semua kesalahanku pada kalian.” Ken lalu pergi meninggalkan Khea.
Gean diam mendengarkan di balik pintu kamarnya. Setelah Ken pergi, dia menutup pintu kamar dan segera berbaring di atas kasur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
💕💕💕
__ADS_1
“Ma, apa mama dan papa tahu tentang penyakitku?”
Vanya menghela nafas. Dia tahu, pasti Vara akan menanyakan hal ini, dan tidak ada yang boleh ditutup-tutupi lagi, hanya demi menjaga hati anaknya, yang nantinya juga pasti akan tahu.
“Kami semua sudah tahu, Vara.”
“Kami semua?”
“Ken dan keluarganya, juga Vana.”
“Apa?”
“Lalu, apa yang akan Ken dan keluarganya katakan? Apa Vana menertawakan aku?”
“Ken dan keluarganya tidak mengatakan apa-apa. Mereka juga ikut bersedih dengan apa yang kamu alami. Sedangkan Vana, dia juga sedih.”
Tidak mungkin Vanya mengatakan pada Vara, kalau Vana sempat tertawa—menertawakan karma yang harus mereka tanggung.
“Ma, Ken tidak mungkin meninggalkan aku karena hal ini, kan?”
Bahkan mama rasa, tanpa masalah ini, dia akan tetap meninggalkan kamu. Maafkan mama, Sayang. Mama tidak bisa membantu kamu. Kamu dan Vana sama-sama anak mama. Mama tidak bisa memihak. Kenapa kalian berdua harus terlibat masalah seperti ini? Kenapa kalian harus ada di antara pria yang sama?
Kalau boleh jujur, Vanya berharap anak-anaknya tidak perlu mengenal Ken. Tapi bagaimana mungkin, sedangkan Ken adalah anak dari sahabat dia dan suaminya.
Tidak ada yang menyangka kalau kedua putrinya akan seperti ini. Jika tahu begini, dari awal dia sudah menolak Ken menjadi calon menantunya.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau menyesal bagaimana pun, sudah tiada arti. Yang harus dilakukan sekarang adalah, jangan sampai melakukan kesalahan lagi.
__ADS_1