Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
57 Memberikan Sugesti


__ADS_3

Semakin besarnya perut Vana, semakin besar juga tingkat depresi yang dirasakannya.


"Tolong jangan seperti ini, Vana. Pikirkan bayi kamu juga."


Vana mulai bersikap tenang. Setiap kali ada yang menyebut tentang anaknya, dia akan sedikit tenang.


"Sepertinya, anak yang ada dalam kandungannya menjadi penyemangat hidupnya. Aku yakin, dia akan menjadi ibu yang baik, tidak akan seperti yang dia takutkan selama ini."


Tubuh itu semakin kurus kering, dan tidak ada pancaran sinar di matanya. Vana yang dulu selalu ceria dan aktif, selalu melakukan apa saja yang dia sukai tanpa peduli apa pun, kini bagai mayat hidup.


Mereka semakin dendam dengan pria yang telah melakukan hal bejat itu kepada Vana. Rasanya ingin menghancurkan Ken, juga keluarga Vana. Tidak peduli kalau itu keluarga kandung sahabat mereka, toh dia orang-orang itu juga tidak bersikap layaknya keluarga kandung. Semua bergantian menjaga Vana saat mereka harus kuliah dan lainnya.


"Begini, Saya dan suami saya harus pergi ke Indonesia, karena ada urusan yang tidak bisa kami jelaskan. Sebagai gantinya, biar anak saya saja yang mengurus Vana."


"Apa anak dokter bisa dipercaya?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa. Dia juga seorang dokter, harus menjaga kode etik. Selain itu, dia juga usianya tidak terlalu jauh dari kalian. Kalian bisa berteman baik dengannya nanti. Sebentar lagi dia datang."


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, seorang pria datang. Usianya masih muda, mungkin hanya selisih beberapa tahun saja dari mereka.


"Selamat sore, saya Austin, anak nyonya Irma."


Irma merupakan seorang psikolog, dan suaminya—dokter Surya, adalah psikiater yang menangani Vana.


Sejak saat itu, Austin yang menjadi dokter pribadi Vana, dan mereka semua menjadi sahabat.


Pandangan mata Vana hanya menerawang jauh. Tidak ada kata yang terucap.


"Oya, besok kita akan melakukan USG, kita akan tahu apa jenis kelamin anak kamu nanti."


Wajah Vana tersenyum, hanya sedikit saja, tapi matanya mengeluarkan air mata. Dia mengusap perutnya dengan tangan yang tidak terikat.

__ADS_1


"Cepatlah sembuh, demi anak kamu, juga demi kami."


"Vana, kamu harus banyak makan, agar bayimu juga tidak kurus saat dilahirkan nanti." Yuri mulai menyuapi Vana.


Perempuan itu mulai membuka matanya.


Setelah melakukan USG, yang diketahui jenis kelamin anaknya adalah laki-laki, Vana kembali kumat. Entah apa yang perempuan itu pikirkan dan rasakan. Mungkin saja dia jadi teringat dengan ayah biologis anaknya.


Apa takut wajah anaknya akan mirip dengan pria itu?


Takut sifat bejat pria itu menurun pada anaknya.


"Vana, Vana, tenanglah. Anak kamu akan menjadi anak yang baik. Kamu akan menjadi ibu yang baik untuknya. Kalian berdua akan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Kita semua akan membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang dan pengawasan. Dia akan menjadi laki-laki hebat yang membanggakan kamu sebagai ibunya."


Segala sugesti positif selalu Austin berikan pada Vana. Mereka dengan penuh kesabaran membantu proses kesembuhan perempuan itu. Memang sangat berat apa yang perempuan itu alami, mereka saja belum tentu kuat menjalaninya.

__ADS_1


"Kamu dan anak kamu, akan menjadi orang hebat."


__ADS_2