Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
121 Seharusnya Aku


__ADS_3

Gean memijat-mijat pelan tangan Khea yang tidak diperban. Dia melakukannya dengan hati-hati, takut membuat tubuh Khea yang diperban itu semakin sakit.


"Gean akan merawat Mommy, seperti Mommy yang selalu merawat Gean seorang diri saat Gean sakit."


Lagi, air mata itu menetes. Vara yang mengintip dari balik pintu, merasa hatinya terenyuh.


Gean mengambil wadah berisi dan waslap. Mulai membasuh apa yang bisa dia basuh meski hanya sedikit saja.


Sungguh, Ken tidak kuat lagi melihatnya. Gean melakukan semua itu seorang diri seolah tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Dia tidak terlihat kaku, sangat luwes saat melakukan semuanya.


Seharusnya aku yang merawat mereka saat mereka sakit. Seharusnya aku yang menjadi tempat mereka bersandar.


Khea tersenyum, merasa bersyukur karena sudah memiliki anak sebaik ini. Mungkin, anak lain yang memiliki keluarga yang sempurna belum tentu bisa seperti Gean.


Perlahan mata Khea tertutup, efek dari obat yang belum lama dia minum. Meskipun Khea sudah tidur, tidak berarti Gaan juga berhenti. Anak itu merapihkan posisi banyak Khas agar lebih nyaman. Menarik selimut dan memeluk Khea.


"Cepat sembuh, Mommy. I love you."


Ara menggigit bibirnya, dia sudah tidak kuat lagi. Dia keluar, melihat Vara yang berdiri. Ara mendengkus, menyenggol bahu perempuan itu dengan kencang.

__ADS_1


"Ara!" tegur Marco.


"Apa? Kau menyalahkan aku?"


"Kalau dia punya Rissa si dedemit itu, maka Khea punya aku yang akan membelanya mati-matian. Gara-gara dia, Khea dan Gean jadi terluka. Dulu gara-gara dia juga, Khea dan Gean tidak diakui oleh keluarganya, bahkan diusir. Dia memang pembawa sial untuk Khea dan Gean!"


Ucapan itu tentu saja sangat menohok, apalagi diucapkan di depan orang-orang. Ara benar-benar benci pada Vara, seperti Rissa yang benci pada Khea.


Kali ini tidak ada yang membela Vara, semua diam. Mungkin mereka berpikir, benar apa yang dikatakan oleh Ara. Dulu terlalu membela Vara dan menyakiti Khea. Mengutamakan satu anak dan menelantarkan anak lainnya. Mungkin tidak akan lama lagi juga akan begitu, membela satu anak dan mengorbankan anak lainnya.


...🌼🌼🌼...


"Kami ini sahabat Khea, jadi kami yang lebih pantas menjaga Gean."


"Kalian hanya sahabatnya, kami ini keluarganya."


"Aku daddy Gean, aku yang akan menjaga Gean, bahkan untuk selamanya."


"Keluarga? Daddy? Keluarga yang mengusirnya? Daddy yang tidak mau mengakuinya?"

__ADS_1


"Benar, untuk apa sekarang kalian mengaku-ngaku? Mau nyari perhatian? Mau dianggap baik oleh orang-orang. Mau diakui?"


"Tidak bisakah kalian tidak lagi mengungkit masa lalu?"


"Benar kami tahu kami salah. Kami ingin memperbaiki semuanya."


"Kalau mau memperbaiki semuanya, jangan lagi mengganggu hidup mereka. Jalani semuanya masing-masing."


"Tidak, aku tidak akan pernah menjauh dari anakku."


Gean yang mendengar itu dari balik pintu, diam saja.


...🌼🌼🌼...


"No, jangan paksa aku, aku tidak mau ikut orang-orang jahat itu. Aku mau tetap dengan mommy!"


"Mommy kamu sekarang masih di rumah sakit, nanti kalau sudah keluar dari sini, kamu akan bersama mommy lagi."


"Tidak mau. Kenapa kalian membela orang-orang jahat itu? Kalian semua juga jahat."

__ADS_1


__ADS_2