Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
19 Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

19 PERASAAN TIDAK ENAK


Setiap kali memikirkan Khea dan Gean, Ken menjadi begitu bersemangat bekerja. Perusahaan semakin berkembang, banyak proyek yang dikerjakan. Khea dan Gean benar-benar memberikan energi positif baginya.


Dia membuka tabungan lain, masing-masing untuk Khea dan Gean. Membeli banyak properti untuk keduanya, atas nama Khea dan Gean. Anggap saja ini adalah ganti bertahun-tahun, yang seharusnya dia berikan sejak dulu sebagai nafkah untuk mereka berdua.


Memang tidak bisa diganti, bukan juga menilai sesuatu dari materi. Tapi Ken benar-benar ingin memberikan Khea dan Gean yang terbaik, apa pun itu.


Jujur saja, jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar bersyukur karena dulu ada saja hal yang menyebabkan pernikahan doa dan Vara ditunda.


Terserah mau mengatakan dia jahat, tapi dia merasa lega. Kalau saja dia sudah menikahi Vara sebelum Khea dan Gean datang untuk yang pertama kalinya dulu, pasti akan lebih rumit lagi.


Pasti hati akan lebih sakit lagi.


Lagi-lagi, Ken membandingkan dirinya yang dulu—saat bersama Vara—dengan dirinya yang sekarang.


Vila dan tanah yang dulu pernah dia beli di daerah pengunungan dan pantai, untuk Khea dan Gean, masih ada. Tidak pernah dia datangi, tapi tentu saja dirawat dengan baik.


Aku akan bekerja dengan lebih keras lagi, agar kamu dan anak kita bisa hidup lebih baik tanpa harus bekerja keras.


💦💦💦


Perasaan Khea tidak enak hari ini. Rasanya dia sangat malas untuk keluar rumah, tapi dia sudah terlanjur janji kemarin malam untuk menemani Gean jalan-jalan ke taman pagi ini.


“Ayo Mom, nanti keburu siang.”


“Oke.”


Perasaan Ken tidak enak hari ini. Rasanya dia sangat ingin bersama dengan Gean dan Khea. Ingin bersama mereka sepanjang hari, besok dan seterusnya.


Ken menekan tombol unit Khea, tapi tidak ada yang membukakan.


“Ke mana sih, mereka?”


Gean duduk di taman seorang diri, melihat anak-anak yang sedang bermain dengan teman-temannya, orang tua, atau kakak adiknya. Ada juga yang bermain dengan pengasuhnya.

__ADS_1


Anak itu lalu membeli gulali dan es krim. Membelinya sendiri, dan menikmatinya sendiri. Dia sudah terbiasa seperti ini.


Khea sedang membeli burger yang ada di sudut taman yang lain. Sesekali melihat Gean yang masih duduk di bangku taman.


“Dua, ukuran jumbo. Pakai saos yang banyak.” Khea lalu menerima burger itu, kemudian membeli orange juice yang juga dengan ukuran besar.


Menikmati waktu ala Khea dan Gean cukup simpel, yang penting dilakukan bersama.


Gean melihat seorang anak kecil yang berlari ke jalan mengejar bolanya.


“Awas,” teriak Gean mengejar anak itu.


“Ini.” Gean memberikan bola itu kepada si anak, dan kedua orang tuanya yang tadinya sibuk mengobrol, mengucapkan terima kasih.


Gean berjalan, melihat ada penjual kue tradisional yang jarang berjualan. Tapi Khea sudah membeli burger.


“Gean, sedang apa kamu di sini? Kenapa tidak menunggu mommy di bangku?”


“Maaf, Mom.”


“Tapi sudah ada burger.”


“Tidak apa, nanti kuenya bisa buat di rumah. Ini, Gean pegang ini dan duduk di sana. Jangan ke mana-mana lagi, oke. Mommy yang beli.”


Gean melihat ada mobil yang mendekat, melaju dengan cukup kencang ke arah Khea.


“Mommy, awas!”


Bruk


Benturan keras dan teriakan itu mengalihkan perhatian orang-orang.


Khea terjatuh, merintih kesakitan dan melihat ada darah di kaki dan tangannya. Khea menoleh kiri kanan, mencari keberadaan Gean.


“Gean! Gean!” teriak Khea.

__ADS_1


Perempuan merangkak, tidak peduli dengan keadaan dirinya sendiri. Tidak peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan saat ini, meski darah mengalir dari keningnya.


“Geannn!”


“Panggil ambulans!” teriak seorang bapak yang tadi anaknya ditolong oleh Gean.


“Gean, jangan tinggalkan mommy, Sayang.” Khea menangis, memeluk tubuh Gean yang bersimbah darah dengan mata terpejam.


Mobil yang menabrak itu sudah kabur. Orang tua yang anaknya ditolong oleh Gean, merasa bersalah. Posisi duduk Gean dengan tempat ini sebenarnya cukup jauh. Kalau bukan karena menolong anak mereka, pastinya Gean masih duduk dengan tenang di tempatnya sendiri.


Ambulans datang, Khea langsung masuk ke dalam dengan keadaan gemetaran. Keluarga kecil itu juga ikut ke rumah sakit, merasa ikut bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.


Perawat langsung membawa Gean ke ruang UGD.


Ponsel Khea berbunyi, perempuan itu langsung mengangkatnya dengan tangan gemetaran.


“Halo, kamu di mana?”


“Ara ... Gean, Gean kecelakaan, sekarang di rumah sakit.”


“Apa? Baiklah, aku ke sana sekarang. Aku hubungi yang lain juga.”


Khea menggigit jarinya. Tubuhnya gemetaran, darah masih menetes di keningnya. Berdenyut kencang, tapi dia seperti tidak merasakan semua itu.


Selamatkan Gean, selamatkan Gean.


Ara, dan serta sahabat-sahabat Khea, serta Marco dan Nio datang.


“Khea, kamu terluka?”


“Gean ... Gean ....”


“Dia akan baik-baik saja. Gean anak yang kuat. Tadi aku sedang bersama Marco dan Nio.”


Khea diam saja. Bagi dia yang terpenting saat ini adalah Gean. Tidak peduli dengan rasa sakit yang begitu besar, yang dia juga rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2