
"Berhenti!"
Ken terus mendekat padanya, lalu menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya. Vana memberontak, menendang Ken dengan sekuat tenaga. Saat akan menuju pintu, Vana ditarik hingga bajunya sobek dan punggung mulusnya terlihat.
Ken kembali mendekati Vana dan mencium gadis itu tanpa ampun. Tangannya menarik baju Vana yang masih tersisa. Vana berteriak, menangis kencang dan meminta pertolongan, tapi tentu saja tidak ada yang mendengar dan menolongnya. Ken mulai membuka bajunya dan kembali menjamah Vana dengan tangannya. Ken berusaha membuka celana panjangnya dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain memegang tangan Vana yang mencoba memberontak. Kakinya menjepit kaki Vana, hingga gadis itu kesulitan untuk bergerak. Perlahan, celana ya g dipakai Ken mulai terlepas ....
"Cukup! Matikan!"
Mereka sangat syok dengan apa yang mereka lihat.
Plak
Plak
Bugh
Bugh
"Bajingan kamu, Ken! Kenapa kamu melakukan hal sehina itu?"
"Aku ... aku sungguh tidak ingat soal kejadian, itu. Maafkan aku."
__ADS_1
"Ivan, apa kamu dan bawahanmu melihat semua isi video itu?"
"Tidak, Tuan. Kami tidak melakukan kelancangan itu."
Apa jadinya jika ada yang melihat aksi bejat itu. Khea kah yang pastinya akan sangat malu.
Orang tua Khea dan Vara yang lebih syok. Anaknya menjadi korban pemerkosaan oleh calon kakak iparnya sendiri. Dan apa yang mereka lakukan? Mereka malah tidak percaya dan menghinanya, bahkan mengusirnya.
"Bisa saja Vana memanfaatkan keadaan itu untuk menerima Ken dengan tangan terbuka. Tali tidak, gadis itu mencoba melindungi dirinya sendiri. Dan apa yang kalian lakukan, hah? Kalian malah membuat cicitku lahir tanpa ayah!"
Menyesal, itulah yang mereka rasakan saat ini. Bukan hanya menyesal, tapi rasa malu yang membuat mereka diam.
Plak
Plak
Plak
"Teganya kamu menghancurkan hidup putriku dan membuat kami mengusirnya."
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf."
__ADS_1
"Tapi bagaimana Vana bisa ke tempat Ken malam itu? Apa yang dia bawa?"
"Ini salahku. Aku yang memaksa Vana untuk mengantar berkas kerja sama perusahaan keluarga kita. Vana menolaknya, aku yang selalu memaksanya."
Vara menyesal, seharusnya malam itu dia tidak memaksa Khea mengantar berkas itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa yang telah terjadi, tidak bisa diperbaiki lagi.
"Temui Vana, aku tidak mau cicitku terlantar. Keturunanku harus hidup dengan layak!"
Berkata memang mudah, tapi dalam hati mereka tahu, bahwa semua itu tidak akan mudah. Setelah menyakiti begitu dalam, apa kata maaf itu bisa dengan mudah diterima oleh mereka?
Di lain tempat
Khea selesai membersihkan dirinya. Dia menatap wajah anaknya, yang sialnya sangat mirip dengan pria laknat itu.
"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Gean. Hanya kamu yang mommy punya. Lihat saja jika mereka berani mengusik kehidupan kita. Kamu hanya milik mommy seorang."
Khea sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan mereka. Baginya, orang-orang di masa lalunya itu tiada artinya, kecuali para sahabatnya dan orang yang membantu dia di saat dia terpuruk sangat dalam.
Tidak mudah untuk dia bertahan selama enam tahun ini.
Khea merebahkan dirinya di samping anaknya. Mengusap kening anak itu dan mengecupnya. Gean langsung menghadap Khea, memeluk mommy yang sangat dia sayangi di dunia ini.
__ADS_1
Perlahan mata Khea terpejam, untuk menyambut esok hari. Dan bila besok Khea terbangun dengan hati yang bahagia saat melihat pelipur laranya itu masih memeluknya, maka bagi yang lain, pagi itu adalah pagi pertama dari awal hari-hari mereka yang suram.