Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
25 Di Mall


__ADS_3

Khea terbangun saat merasakan pergerakan di sebelahnya. Wajah tampan anaknya itu selalu bisa menghangatkan hatinya. Bukan, bukan karena Gean mirip dengan laki-laki brengsek itu, tapi karena wajah Gean yang sangat polos. Wajah polos yang selalu menatapnya dengan pandangan kasih sayang.


Khea mengusap rambut anaknya, mengecup keningnya, dan membenarkan selimutnya. Khea lalu pergi mandi, dan setelah itu menyiapkan sarapan untuk anak laki-lakinya.


Gean anak yang baik. Dia tidak pernah meminta apa-apa pada Khea. Di usianya yang masih lima tahun, anak itu tumbuh dengan baik, bahkan sangat cerdas.


"Morning, Mommy."


"Morning, Honey."


Khea mengacak gemas rambut Gean. Kalau itu orang lain, sudah pasti anak itu akan marah-marah. Gean memang tidak suka jika ada yang menyentuhnya, apalagi mengacak rambutnya, terutama jika orang itu orang asing atau orang yang tidak disukainya.


Gean duduk di ruang makan, membaca dia dan segera makan bersama sang mommy. Tidak susah untuk menyuruh Gean makan atau melakukan aktivitas lainnya. Anak itu tahu dengan sendirinya apa yang harus dia lakukan.


Khea sangat terharu memiliki Gean, lagi-lagi bukan karena siapa ayah anak itu, tapi karena Gean adalah satu-satunya keluarga kandungnya yang ada. Khea sudah tidak lagi menganggap kedua orang tuanya dan kakaknya, toh mereka sendiri yang memutuskan ikatan keluarga mereka.


Selapis sandwich, telur rebus dan kentang tumbuk. Minumannya adalah teh hangat. Bukan karena Gean tidak suka minum susu. Hanya saja dia berpikir, tidak ingin sang mommy harus memaksakan diri untuk membeli susu untuknya. Mommy-nya penikmat teh, jadi dia juga suka minum teh.

__ADS_1


Padahal Khea tidak keberatan membelikan Gean susu. Baginya, pertumbuhan dan kesehatan anaknya yang terpenting, tidak peduli jika dia harus bekerja keras.


"Nanti mommy akan belikan susu. Maaf ya, mommy sampai lupa belum membelikan kamu susu."


"No, Mommy."


"No, Gean. Kamu harus minum susu, ya. Mommy punya banyak uang untuk membelikan kamu susu, baju, mainan, buku."


"Ya, lakukan apa pun yang bisa membuat mommy senang, asal jangan meninggalkan aku."


Khea tertawa mendengar perkataan Gean. Dia seperti sedang dirayu oleh pria dewasa saja.


Khea teringat kalau dia belum mengabari Ara.


[Ara, ayo kita jalan-jalan ke mall.]


Tidak membutuhkan waktu lama, Ara langsung membalas pesannya.

__ADS_1


[Ayo, jangan lupa bawa keponakan tersayangku.]


"Gean, ayo kita ke mall bertemu dengan aunty Ara."


"Ayo, Mommy."


Ibu dan anak itu langsung pergi. Keduanya terlihat sangat menggemaskan dengan menggunakan pakaian kasual yang sama.


Sesampainya di mall, keduanya langsung menjadi pusat perhatian.


"Wahhh, kalian berdua sangat menggemaskan. Aku jadi iri," teriak Ara heboh.


Dia langsung mengambil ponselnya, memotret mereka bertiga dan langsung mengunggahnya di sosial media, tanpa meminta ijin pada Khea lebih dulu, dengan caption:


❤️ Bersama sahabat baikku Khea dan keponakan tersayangku Gean ❤️


Di lain tempat, orang-orang yang melihat postingan Ara langsung berdetak kencang. Di sana, wajah cantik Khea dan wajah tampan Gean membuat yang lain berdecak kagum. Ada juga yang merasa sedih dan bersalah.

__ADS_1


Hanya bisa memandang, tanpa ada keberanian untuk menghampiri dan meminta maaf. Bukan karena tidak mau mengakui kesalahan, hanya bingung bagaimana cara memulainya.


__ADS_2