Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
37 Batuk


__ADS_3

37 BATUK


Khea dan Gean tiba di tempat penyiaran setelah menempuh perjalanan hampir satu jam.


"Halo Khea, Gean."


"Hai."


Mereka bersalaman, yang perempuan tentu saja cipika-cipiki.


"Duduk dulu. Silahkan di nikmati minuman dan cemilannya."


"Oke."


"Jadi begini, nanti saat on air, kami bakalan nanya beberapa hal ke kamu. Santai saja, ya."


"Ini daftar pertanyaannya, tapi mungkin nanti bisa saja salah satu dari kami punya pertanyaan dadakan, atau ada dari para pendengar juga yang akan mengajukan pertanyaan."


"Tidak masalah."


Gean mengambil kue yang ada di atas meja. Dia bingung melihat kue itu.


"Ini apa, Mom?"


"Itu getuk. Enak, Gean."


Mereka tersenyum, mereka pikir Khea dan Gean hanya suka dengan kue-kue mahal yang ada di kafe atau restoran.


"Lima belas menit lagi kita on air."


Akhirnya salah satu penyiar membuka acara setelah lagu pembuka selesai.


"Oke sahabat pendengar semua. Hari ini kita kedatangan tamu istimewa, ada yang tahu siapa kira-kira orangnya?"

__ADS_1


"Sebelum kita ngobrol-ngobrol dengan tamu kita hari ini, kita dengarkan dulu sebuah lagu yang sudah sobat request."


Setelah lagu selesai


"Nah, kita akan beritahu siapa bintang tamu kita hari ini. Dia adalah seorang perempuan, cantik, mandiri, dan pastinya sukses. Ada yang sudah bisa menebak?"


"Dia ini, multitalenta banget, orangnya."


"Klu selanjutnya. Dia seorang ibu dari anak laki-laki yang ganteng banget. Gantengan anaknya malahan ...."


"Daripada kamu!"


"Nah itu, daripada aku."


Mereka tertawa.


"Ya, mungkin tebakan kalian ada yang benar. Dia adalah Khea."


"Halo sobat semuanya, ketemu lagi dengan Khea di sini."


"Gombal, gombal."


Ken, yang selalu mendapatkan laporan tentang apa saja aktivitas Khea di luar sana, ikut mendengarkan.


Arka menghela nafas. Bosnya itu seperti seorang fans yang akan terus memantau, bahkan menyimak segala kegiatan idolanya.


Penyiar mulai bertanya-tanya tentang aktivitas Khea.


"Ada sih, beberapa tawaran pekerjaan di Indonesia ini. Salah satunya seperti yang sudah orang-orang tahu, yaitu jadi model produk minyak wangi. Kalau yang lain juga ada, tapi aku belum bisa bicara saat ini, ya. Biar nanti pihak perusahaan sendiri yang mengatakannya."


"Wah, keren ini. Biasanya orang-orang, belum apa-apa sudah gembar-gembor duluan, ya."


"Yoi."

__ADS_1


"Eh, Khea. Aku penasaran nih. Kamu ini kan seorang designer. Main film sudah, jadi model iklan, juga sudah. Punya pikiran untuk jadi penyanyi gak, sih?"


"Hahaha, suaraku jelek."


"Coba-coba, kami mau dengar."


Tidak ada di skrip, tapi Khea akhirnya mencoba juga untuk bernyanyi.


"Jangan dibully, ya."


"Biasanya yang suka merendah begini, malah wow banget, loh."


Khea berdehem sebentar, lalu mulai bernyanyi.


Mereka terpana mendengar suara Khea, yang ternyata merdu.


Ken, sampai speechless.


Tentu saja banyak orang yang mengenal perempuan itu, ikut mendengarkan radio tersebut. Menambah rating siaran.


Uhuk uhuk


Khea terbatuk, membuat para penyiar sedikit panik.


"Dasar, malu-maluin," ucap Rissa, yang juga mendengar bersama Vara.


"Hahaha, ya ampun. Ya begini nih, kalau penyanyi kamar mandi malah disuruh minta nyanyi life. Untung bukan di atas panggung, ya. Bisa dilempari botol, aku. Suruh turun. Hahaha ...," ucap Khea sambil tertawa.


Bukan tawa yang dipaksakan, tapi memang tawa lucu.


Mereka yang ada di tempat siaran itu, merasa lega, juga kagum. Jiwa entertainment Khea memang tidak kaleng-kaleng. Biasanya orang akan panik, malu, nangis, nyari alasan dan sebagainya. Tapi Khea bisa menyikapinya dengan santai dan berkelas."


"Gila gila gila. Bagus banget suaranya, cuy!"

__ADS_1


"Kalau seandainya—tapi aku yakin pasti ada—ada produser musik yang menawarkan kamu jadi penyanyi, mau?"


__ADS_2