Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
26 Tidak Akan Dihasut


__ADS_3

26 TIDAK AKAN DIHASUT


Rasa sesak itu semakin membesar, dan hanya dua orang saja yang mampu menyembuhkannya.


...💦💦💦...


Gean sudah boleh pulang, tapi menggunakan kursi roda. Kakinya masih sangat sakit untuk digerakkan meski tidak mengalami patah tulang.


Khea juga menjadi sangat over protective sekarang.


"Kami akan tinggal di sini," ucap Ara.


Kami yang dimaksud adalah Ara dan Jessica. Keduanya ingin membantu Khea menjaga Gean, apalagi Khea juga masih sakit.


"Terima kasih, untung saja ada kalian. Deo dan Austin juga."


"Jangan memikirkan banyak hal. Gean anak yang kuat, dia pasti akan cepat sembuh. Mana mau dia melihat kamu bersedih terus.


Jessi dan Ara membuat makan siang untuk mereka. Deo dan Austin sudah kembali bekerja setelah mengantar mereka.


💦💦💦


Polisi sudah menemukan pelaku tabrak lari itu. Deo dan Austin, beserta Ken, Nio dan Marco, pergi ke kantor polisi. Mereka ingin segera tahu tentang kecelakaan itu, dan menuntut hukuman semaksimal mungkin.


"Bagaimana? Apa kecelakaan itu disengaja?"

__ADS_1


"Dari pengakuan pelaku, ini memang murni kecelakaan, tapi kami tetap akan menyelidikinya. Pelaku saat itu diduga sedang mabuk saat pulang dari club malam. Dari ponsel pelaku yang kami sita, pelaku ini sedang memiliki masalah. Dia memiliki hutang dengan rentenir, juga diputuskan sepihak oleh calon istrinya. Jadi kemungkinan itu menjadi faktor utama pelaku mabuk-mabukan di malam sebelum tabrakan itu terjadi.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya, Pak."


Kedua kubu tidak saling mengobrol, meski punya tujuan yang sama, yaitu ingin menjaga Khea dan Gean.


Dalam hati, Ken merasa salut, tapi juga iri dan bersalah. Dia salut, Khea memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Dia iri, tidak bisa sedekat itu dengan Khea dan Gean.


Dan dia merasa bersalah, karena seharusnya, dialah yang menjaga Khea dan Gean dengan baik, yang memberikan perhatian dan perlindungan, bukan orang lain.


Merasa bersalah, karena orang lain saja bisa melihat Khea dari sudut pandang yang lain. Tidak seperti dia dan keluarga Khea atau keluarga Ken di masa lalu, yang hanya menganggap Khea adalah gadis manja pembuat masalah, yang egois dan mau menang sendiri.


💦💦💦


"Gean, mommy mau bicara."


"Begini ...."


Khea menimbang, apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Gean, atau tidak.


"Bicara saja, Mom. Tidak apa."


"Saat Gean kecelakaan, Gean kehilangan banyak darah ...."


"Apa pria itu yang mendonorkan darahnya untuk Gean?" Tidak perlu berbasa-basi, Gean cukup tahu apa yang ingin dikatakan oleh Khea.

__ADS_1


"Iya."


"Apa mereka menuntut mommy untuk melepaskan Gean? Ingin merebut Gean dari Mommy?"


"Tidak, tidak, mommy tidak mungkin membiarkan itu terjadi."


"Mommy tidak mau Gean mendengar ini dari orang lain. Jadi, mommy mengatakannya pada Gean. Gean tidak perlu memikirkan apa pun, cukup tahu saja. Mommy tidak akan pernah membiarkan mereka membawa Gean pergi."


"Iya, Gean tidak akan membiarkan orang lain menghasut Gean."


"Ck, kenapa anak mommy ini pintar sekali? Mommy juga mau Gean bersikap seperti anak kecil pada umumnya."


"Gean memang akan selalu menjadi anak kecil Mommy, kan?"


Khea tertawa pelan, lalu mengusap kepala Gean dan mencubit gemas pipinya. Perempuan itu lalu menghela nafas, mau bicara seperti apa pun, Gean memang selalu memiliki jawabannya sendiri.


"Terima kasih, selalu ada untuk Mommy."


"Terima kasih, selalu ada untuk Gean."


Ibu dan anak itu berpelukan, saling menyalurkan kasih sayang yang bisa membuat orang di depan unit mereka itu merasa iri dan ingin juga.


Ken menatap rekaman CCTV yang ada di depan pintu UNIT Khea. Berharap perempuan itu keluar dari unitnya.


"Aku kangen sekali dengan kalian berdua."

__ADS_1


Ken menghela nafas berat. Pria itu akhirnya nekat pergi ke tetangganya. Tidak sanggup dia menahan rindu, meski tadi pagi sudah bertemu.


Rasanya ada yang kurang kalau tidak melihat mereka.


__ADS_2