Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
112 Playing Victim


__ADS_3

Pengacara Ronald menemui Khea di butiknya. Mereka meminta agar Khea mau melakukan mediasi pada Ken dan mengijinkan Ken dan keluarganya untuk bertemu, dan melakukan semua hak dan kewajiban mereka pada anak itu.


Orang-orang dari perlindungan dan gak anak juga dihadirkan di sini, membuat Khea geram.


"Dengar, kalian datang ke sini seolah aku ini berbuat jahat pada anakku. Memang hak apa yang tidak aku berikan kepada anakku?"


"Hal untuk bertemu, mengenal, dan mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya, juga dari opa Oma dan eyangnya," ucap kepala tim kuasa hukum Ronald.


"Apa Anda sadar saat bicara seperti itu? Apa Anda pernah menonton video yang tersebar beberapa bulan yang lalu? Mereka sendiri yang tidak pernah mau mengakuinya! Kenapa sekarang ... di saat anakku sudah tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan terkenal, mereka malah sibuk meminta pengakuan dan playing victim? Kenapa baru sadar sekarang? Ke mana saja mereka selama beberapa tahun ini? Kenapa tidak mencari ku? Apa harus tunggu nyawa mereka di ubun-ubun baru mereka mau insyaf? Seharusnya aku yang menuntut kalian! Sekarang keluar dari tempatku. Keluar!"


"Nona, dengar dulu ...."


"Keluar! Atau aku yang akan menuntut kalian. Ayo kita bertemu di meja hijau!"


"Nona ...."


"Kalian sudah benar-benar membuat kesabaranku habis. Bersikap kalau akulah penjahat di sini, jadi mari aku tunjukkan seberapa jahatnya aku pada kalian! Aku akan melawan pria itu, dan kamu ...." Khea menunjuk pengacara Ronald.


"Kamu akan berhadapan dengan pengacaraku!"


"Pergi, dan jangan pernah kembali lagi."

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


Ken kembali ke rumahnya. Keluarga dia langsung menghampiri Ken, antara merasa lega tapi juga kesal.


"Kamu ke mana saja sih, Ken?"


"Maaf Mom, aku sedang menenangkan diri dulu."


"Kamu tahu kan, sebentar lagi kamu akan menikah." Ken diam saja, dia langsung ke kamarnya membaut yang lain mendengus kesal. Semakin ke sini, pria itu lebih pendiam lagi.


Ken masuk ke kamarnya, dia lalu membuka ponselnya untuk yang pertama kalinya. Begitu ponselnya menyala, ratusan pesan masuk dan panggilan tak terjawab memenuhi ponselnya.


Pria itu membaca lebih dulu pesan masuk dari Nio dan Marco. Dia membelalakkan matanya saat membaca pesan-pesan itu.


Vara, kamu baru saja mengacaukan semuanya.


Ken langsung keluar dari kamarnya.


"Ken, opa mau bicara."


"Nanti saja opa, Ken ada urusan penting."

__ADS_1


"Ini jauh lebih penting daripada urusan kamu itu!"


"Tapi ...."


"Duduk!"


Mau tidak mau Ken duduk juga di hadapan opanya.


"Opa sudah meminta tim pengacara opa untuk melakukan mediasi dengan Khea untuk memberikan hak dan kewajiban kita pada Gean."


Deg


"Apa?"


"Perlindungan anak pun sudah turun tangan, tapi tidak mudah mendapatkan semua itu. Khea membawa ini ke meja hijau."


"Apa?" Sekali lagi Ken bertanya, dan sekali lagi dia kesal karena secara berturut-turut mendapatkan kabar yang bagi dia, ini merupakan boomerang untuk dirinya.


"Opa, kenapa Opa melakukan semua ini membicarakannya lebih dulu kepadaku? Khea itu bukan orang yang bisa dikerasin, Opa. Semakin kita keras padanya, semakin dia menentang kita."


"Jadi kamu menyalahkan opa?"

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi ...."


"Apa sua usaha kamu ini ada hasilnya? Tidak, kan! Opa hanya mau Khea dan Gean mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan sejak awal. Opa melakukan ini bukan untuk merebut Gean dari mamanya, tapi memperkuat statusnya agar tidak dipandang rendah oleh masyarakat."


__ADS_2