Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
47 Konsultasi


__ADS_3

Dokter mendengarkan cerita Ken dengan teliti. Dokter yang bernama dokter Patrick itu juga memperhatikan raut wajah Ken yang terlihat lebih cerah dan fresh.


"Apa tidak ada sedikit pun atau hanya sekelebat mimpi yang kamu ingat?"


"Tidak. Tidak sedikit pun."


"Menurut analisa saya, alam bawah sadar kamu mendesak untuk mengingat apa pun yang terjadi di masa lalu. Sesuatu yang penting yang tanpa kamu sadari, justru kamu lupakan."


"Apa masih tidak mengingat sedikit pun apa yang terjadi saat itu?"


"Tidak. Hanya saat tidur saja aku bermimpi hal-hal yang sepertinya pernah terjadi. Seperti dejavu, atau hanya mimpi buruk karena aku kelelahan? Aku juga tidak terlalu yakin."


"Tadi malam, kamu tidak minum obat kamu?"


Ken tersentak. Dia baru ingat kalau tadi malam dia tidak meminum obatnya, bahkan dia lupa sama sekali dengan obat itu.


Dua jam lebih Ken melakukan konsultasi dengan dokter Patrick. Dia memang pasien VVIP dokter Patrick, jadi tidak masalah mau selama apa pun dia bersama dokter itu.


Ken kembali ke dalam kamar Khea. Ibu dan anak itu sedang tidur siang, terlihat tenang dan menggemaskan bagi Ken.

__ADS_1


Aku ingin tidur bersama kalian setiap hari.


Ken nekad merebahkan dirinya di sebelah Gean, dan tidak lama kemudian tertidur. Ken tidak pernah tidur siang. Selain karena sibuk dengan pekerjaan, dia juga biasanya menghabiskan waktu luangnya bersama dengan teman-temannya atau hanya menyibukkan diri di apartemen.


Tempat tidur itu memang berukuran besar. Ruangan VVIP ini memang ingin membuat pasien dan keluarga yang menunggu merasa nyaman, seolah berada di rumah sendiri.


Vara membuka pintu kamar Khea. Dilihatnya tempat tidur yang diisi oleh ketiga orang yang membuat hatinya teriris.


"Gak usah dilihatin terus, nanti kejang-kejang!" ucap Ara ketus di belakang Vara.


Melihat itu, Ara juga kesal. Bukan karena cemburu, tapi kesal karena Ken memanfaatkan keadaan.


"Lah, justru karena Vana sahabat aku, makanya aku membelanya. Sama aja kan, kaya si kuntilanak itu, yang mati-matian membela kamu."


"Stop, jangan bertengkar di sini," ucap Nio yang datang bersama Marco.


Nio dan Marco membawakan makanan untuk Ken dan Gean. Rasa persahabatan ketiga pria itu memang sangat tinggi. Mereka tahu bagaimana perasaan Ken saat ini. Lagipula, mereka memang harus berada di sana untuk menjadi penengah antara kedua kubu.


Ketiganya sama sekali tidak terusik. Khea yang nyenyak karena pengaruh obat, Gean yang selalu nyaman jika tidur bersama ibunya, dan Ken yang belum pernah merasakan tidur di sebelah anaknya. Entah apa jadinya kalau Gean bangun nanti dan melihat ada Ken tidur di sebelahnya.

__ADS_1


Semua hanya diam melihat pemandangan itu. Vara tidak beranjak dari kamar itu. Terus menatap meski itu membuat hatinya sangat sakit.


Nio dan Marco sudah meminta Vara untuk pulang, agar gadis itu tidak bersedih, namun Vara justru menganggap keduanya hanya memikirkan Ken saja.


"Tidak ada yang memikirkan aku."


"Dulu juga tidak ada yang memikirkan Khea. Kalau aku jadi Khea, pasti sudah aku sumpah-sumpahi kalian."


Diam-diam Ken mendengar itu. Dia sudah bangun dari lima menit yang lalu, tapi tidak mau bangkit karena merasa nyaman ada di sebelah anaknya.


"Kata-kata kamu nyakitin, Ara."


"Tidak semenyakitkan kalau Khea yang bicara, kan?"


Marco meringis, karena apa yang dikatakan oleh Ara memang benar. Mulut Khea memang selalu tajam.


Ken perlahan bangkit dari pembaringannya, jangan sampai Gean keburu bangun dan melihat ada dia di sebelah Gean.


"Ara, aku tahu aku sudah menyakiti hati sahabat kamu, tapi aku sama sekali tidak pernah bermaksud seperti itu."

__ADS_1


__ADS_2