
Khea menyimak berita-berita yang ada di televisi, setelah dari kemarin membaca berita di internet. Khea tidak memberikan reaksi apa-apa. Dia bahkan menonton berita itu seperti menonton film di bioskop, menikmatinya dengan segelas jus strawberry dan cemilan.
Berita itu benar-benar terus dibahas tiada henti. Dari satu stasiun televisi, ke stasiun televisi lainnya. Dari satu media sosial ke media sosial lainnya.
Di dalam kamarnya, Rissa benar-benar malu. Dia jadi teringat dengan Khea. Apa seperti ini yang dulu dirasakan oleh Khea? Harus menanggung aib, padahal aib itu tidak pernah sengaja Khea lakukan, berbeda dengan dirinya.
Rissa tertawa, tapi juga menangis.
Dulu dia menyebarkan aib orang, kini aibnya sendiri yang tersebar.
Persis seperti itu pun yang orang-orang pikirkan.
Karma!
Karma itu nyata, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk tiba pada orang yang harus mendapatkan semuanya.
Semua yang pernah dia lakukan pada Khea dulu, kini hampir semuanya juga berbalik padanya.
Ternyata rasanya seperti ini.
Merasa ditelanjangi di depan orang-orang tanpa sensor.
💕💕💕
__ADS_1
Vara pun sama. Dia terus melihat berita-berita itu. Namanya juga ikut terseret-seret sebagai orang yang menjadi—dulunya, sahabat Rissa. Bagaimana dia pun dianggap bodoh karena memelihara racun dalam kehidupannya. Menghancurkan persaudaraan dengan adiknya karena lebih mempercayai orang lain daripada saudara kandung sendiri.
Foto-foto mereka—Vara, Rissa, Ken, Nio dan Marco.
Ya, bukan hanya Vara saja, para pria itu juga pasti ikut disebut-sebut. Bagaimana dulu begitu akrabnya mereka. Ke mana-mana sering berlima. Selalu menjadi satu kelompok jika ada tugas kelompok.
Semua dikulik habis. Masuk ke semua berita gosip di televisi atau pun di media online. Bahkan seorang artis pun, kalah dengan berita tentang Rissa dan kawan-kawannya.
Vara, Ken, Nio dan Marco, kini menjadi semakin terkenal. Bukan karena prestasi dalam pekerjaan, tapi karena perbuatan Rissa.
Pintu kamarnya terbuka, menghadirkan sosok Ken, Nio dan Marco.
"Ngapain ke sini?" tanya Vara.
"Dari tadi diketuk gak dibuka-buka."
Ken membuka lebar pintu kamar Vara, agar tidak ada yang salah paham dan menjadi fitnah.
"Ck, harga saham di perusahaan kita, merosot," ucap Marco.
"Sekarang aku tahu rasanya menjadi Nio. Dia kan sering masuk berita gosip dengan artis-artis," sambungnya.
"Ini beda, Marco."
__ADS_1
"Hampir sama. Ya ampun, aku pasti akan ditertawakan oleh Ara habis-habisan karena pernah membela dan bersahabat dengan perempuan rendahan itu."
Marco juga terlihat sangat stres saat ini.
"Apalagi aku! Dunia menertawakan aku," ucap Vara.
"Ck, sekarang kita tahu kan, bagaimana rasanya menjadi Khea. Oh tidak, ini bahkan belum apa-apanya dibandingkan perasaan Khea." Nio ikut berkomentar.
Mereka menghela nafas berat. Nio ingin bicara lebih banyak lagi, tapi tidak tega melihat wajah sahabat-sahabatnya yang sudah kusut dengan lingkaran hitam di sekitar mata.
Badan mereka juga mendadak terlihat kurus, padahal baru dua hari berita ini beredar.
"Aku tidak bisa menghilangkan berita-berita itu. Pasti ada lagi, ada lagi."
"Siapa kira-kira yang menyebarkan berita ini? Sampai detail begitu informasinya."
"Khea?"
"Jangan asal tuduh. Jangan lagi cari masalah."
"Ayo makan. Kamu sudah beberapa hari ini kurang makan, Vara. Jangan sampai sakit." Perkataan Vanya menginterupsi pembicaraan mereka.
Bukan hanya mereka. Vanya juga terlihat lebih kurus dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.
__ADS_1