Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
18 Dulu dan Sekarang


__ADS_3

18 DULU DAN SEKARANG


“Apa? Jadi Ken melakukan itu padamu?” tanya Rissa, terlihat sangat kesal.


“Iya, dia memutuskan pertunangan kami begitu saja. Dan sekarang, setelah tahu tentang kesehatanku, dia semakin tidak mau menikahi aku. Begitu juga dengan keluarganya, yang mendukung keputusannya.”


“Jangan mau diperlakukan seperti itu, Vara.”


“Jadi, apa yang harus aku lakukan?”


“Dia tetap harus menikah dengan kamu. Lagian kan, dia sudah punya anak, tidak masalah dong, kalau kamu tidak bisa memberikan dia anak.”


“Itu juga yang sudah aku katakan padanya, tapi tetap saja dia menolak.”


“Heleh, pasti dia sudah dipengaruhi oleh Vana. Vana kan senang, melihat kamu menderita, jadi bisa membalas dendam padamu.”


“Vana?”


“Iya, siapa lagi. Sejak kedatangan dia dan anaknya, hidup kalian dan keluarga kalian menjadi kacau, kan?”


Vara terdiam. Memang harus dia akui, sejak kedatangan Vana dan anaknya, semuanya menjadi kacau. Hidup damai dan tenang itu, kini tak ada lagi.

__ADS_1


Semuanya berubah, termasuk orang-orang yang ada di sekitarnya.


Kedua orang tuanya berubah, tak lagi mendukungnya.


Kedua orang tua Ken berubah, tak lagi memihak padanya.


Nio dan Marco pun berubah. Lebih tepatnya Marco, karena sejak dulu, Nio bersikap baik pada Vana. Marco yang dulu selalu kesal dengan Vana, kini terlihat mendukung Ken untuk mendekati Vana.


Ken, pria itu pun berubah. Seratus delapan puluh derajat. Vara seolah tak lagi mengenalinya. Ke mana Ken yang dulu sangat mencintai dia dan selalu mendukungnya?


Tidak mudah untuk mendapatkan pria seperti Ken. Ken setia dan tidak mudah jatuh cinta. Dia akui itu. Kesalahan terbesar Ken ada di masa lalu, yang tidak mengakui kesalahannya. Terlepas dari itu semua, Ken benar-benar pria yang baik. Jika dia sudah mengambil keputusan, maka itu yang akan dia lakukan.


Dan sekarang, haruskah dia melepaskan pria sesempurna Ken dari versinya?


“Jangan mau kalah dari Vana. Kamu lebih segala-galanya dibandingkan dia. Dia hanya menang karena punya anak saja. Kalau tidak punya anak, mana mau kedua orang tua kamu, Ken dan keluarganya memandang dirinya.”


Benar juga, dulu mana mau mereka mendukung Vana. Semuanya serba aku. Dia selau nomor dua, bahkan kadang tak dianggap. Hanya karena dia punya Gean saja saat ini, jadi orang-orang mulai memperhatikan dirinya.


“Pertahankan apa yang seharusnya memang menjadi milik kamu!”


Di lain tempat, Ken bisa mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Dia begitu bersemangat bekerja meski harus terus dicemberuti oleh Khea.

__ADS_1


Ken tersenyum, tapi juga bersedih.


Dulu, setiap kali kamu ikut aku mengerjakan tugas bersama teman-temanku, aku juga selalu merasa kesal. Selalu menganggap dirimu pengganggu. Padahal kamu hanya duduk diam menunggu aku selesai belajar.


Hati Ken merasa sesak. Dia benar-benar merutuki dirinya sendiri. Merasakan kebodohan dirinya di masa lalu. Kini dia sendiri yang merasakan bagaimana perasaan Vana dulu.


Diam-diam Ken mengusap sudut matanya.


Gean menghela nafas berat. Dia mengintip Ken di belakang pintu.


Mommy, apa Gean harus memaafkan mereka semua?


Gean menggelengkan kepalanya, dia tidak mau lagi mengingat mimpi kelam itu. Bagi anak sekecil itu, mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalu seperti menerima ribuan jahitan tanpa obat bius.


Ken kembali melanjutkan pekerjaannya, sesekali melirik Khea yang fokus menggambar.


Di masa lalu, aku sudah banyak melakukan kesalahan. Aku sadar, betapa bodohnya aku saat itu. Hanya melihat dari satu sudut pandang, sudut pandang anak remaja yang apa yang dia pikir bagus, maka itulah yang bagus.


Sekarang aku sadar, dan aku mengerti, kenapa opa lebih menyukai dirimu daripada Vara. Hal yang aku anggap kekurangan kamu saat itu, sebenarnya adalah kelebihan kamu. Apa yang aku anggap jelek dari kamu saat itu, menjadikan kamu lebih baik saat ini.


Bisakah orang bodoh ini memiliki kamu selamanya?

__ADS_1


Biarkan sekarang aku yang berjuang mendapatkan maaf dan pengakuan dari kalian. Hanya kamu perempuan yang pernah aku sentuh, meski itu tanpa sadar. Biarkan sekarang aku bertanggung jawab, meski cukup terlambat.


__ADS_2