
Ronald sedang menemui pengacara keluarga. Dia ingin pengacara itu mengurus surat-surat pengalihan warisan untuk Gean, sebagai cicit satu-satunya, ya setidaknya hingga saat ini. Tidak akan ada cicit lain yang dia akui selain yang terlahir dari rahim Khea. Mau siapa pun perempuan itu, tidak akan pernah dia akui.
Ini bukan obsesi, bukan juga keegoisan— menurutnya. Dia hanya mempertahankan apa yang menurutnya terbaik untuk Ken, sebagai cucu satu-satunya.
"Hubungi mereka sekarang!"
"Baik, Tuan."
Ronald sadar apa yang akan dia lakukan ini mungkin akan ditentang oleh anak dan cucunya, tapi dia tidak akan peduli. Toh mereka juga telah melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan semua ini jadi serumit ini.
Andai saja dulu anak laki-lakinya itu menceritakan semuanya—entah apa yang dikatakan oleh Vana benar atau tidak.
Kalau sudah begini, apa yang mereka dapatkan?
Hubungan Ken dengan Vara kandas, hubungan Ken dengan Vana pun sangat buruk. Dsn yang lebih buruk, Gean membenci. Bahkan Ronald dan istrinya yang tidak terlibat dalam pertunangan dulu, jadi ikut dijauhi oleh Khea dan Gean.
Mengingat itu, emosi Ronald jadi meningkat. Dia benar-benar marah karena merasa tidak dianggap. Bisa-bisanya mereka menjodohkan Ken dan Vara, bahkan melakukan pertunangan tanpa meminta restu padanya. Mereka anggap apa dirinya?
Entah dari mana sikap bodoh itu mereka dapatkan?
💕💕💕
__ADS_1
Mereka saat ini sedang berada di salah satu restoran bintang lima, lebih tepatnya di ruangan VVIP.
"Ada apa, Opa?" tanya Khea.
Dia hanya menatap opa Ronald, tanpa perduli dengan yang lain.
Bukan hanya ada opa dan Oma dari Ken saja, tapi juga ada Ken dan kedua orang tuanya, kedua orang tua Khea, bahkan keluarga besar.
"Begini Khea, Opa ingin mewariskan semua harta kekayaan opa, kepada kamu dan Gean."
Opa bukan orang yang suka berbasa-basi, jadi langsung mengatakan ke tujuannya.
"Ya, semua. Tanpa terkecuali!"
"Aku tidak mau. Apa Opa sengaja sengaja menjebak aku agar aku terjerumus dengan cucu opa?"
Ronald tersenyum, bahkan kini tertawa.
"Kamu memang selalu menjadi perempuan yang pintar dan ceplas-ceplos, Khea."
Ronald menghela nafas sesaat.
__ADS_1
"Opa hanya ingin memberikan apa yang seharusnya menjadi hal kalian berdua. Tolong Khea, ini benar-benar tulus dari Opa. Ini juga demi kebaikan kamu dan Gean."
Otak cerdik Khea langsung bekerja cepat. Katanya melirik kiri kanan.
"Gean?" tanya Khea.
"Lakukan apa pun yang bisa membuat Mommy bahagia."
Hati Ken jadi terenyuh mendengarnya.
"Aku akan menerimanya, tapi dengan banyak syarat yang harus dipenuhi oleh semua pihak yang terlibat, tanpa terkecuali."
Feeling mereka sudah tidak enak, terutama kedua orang tua Ken. Khea tersenyum, senyuman licik dan penuh kepuasan saat melihat wajah-wajah yang gelisah.
Opa memandang Khea. Bagaimana pun juga, saat kecil dulu, Khea sering ada dalam pangkuannya. Dia juga yang ikut membentuk karakter Khea menjadi anak yang tidak kenal takut dan tegas. Ronald yang membentuk Khea karena memang sudah berencana menjadikan gadis itu cucu menantunya. Tidak akan heran sekarang Khea berani menyatakan keinginannya tanpa rasa takut. Bahkan wajahnya terangkat tinggi dengan penuh kesombongan.
Suasana begitu hening.
Khea mampu membuat orang-orang itu bungkam, padahal perempuan cantik beranak satu itu belum mengatakan satu pun persyaratannya.
"Syarat apa yang mau kamu ajukan?"
__ADS_1