Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
107 Anak Broken Home


__ADS_3

Guru-guru membawa ketujuh anak itu menuju ruang kepala sekolah. Bagaimana bisa anak sekecil mereka sedah bertengkar seperti ini? Memakai kekerasan bahkan keroyokan. Tadi ada dua anak yang membantu Diaz, anak yang mem-bully Gean.


"Anak-anak, kenapa kalian bertengkar seperti ini? Apa kalian tidak pernah mendengar nasihat ibu guru untuk rukun dengan teman, saling menolong dan tidak bertengkar?"


"Kami dan Diaz rukun, Bu Guru. Kami juga tad sudah membantu Diaz," jawab salah satu anak itu.


"Bukan itu yang dimaksud dengan saling menolong. Seharusnya kalian memisahkan, bukan ikut berkelahi."


Jika yang tiga menunduk, maka yang empat lagi menegakkan wajah mereka.


"Ibu akan menghubungi orang tua kalian."


"Bu, ini urusan anak-anak, orang tua tidak perlu ikut campur!" Mereka langsung menikah pada anak yang berkata itu. Chiro menegakkan wajahnya, dan kembali berkata lantang.


"Urusan anak-anak, biar anak-anak yang menyelesaikannya. Mereka tidak perlu ikut campur, nanti ikut-ikutan berantem juga." Guru dsn kepala sekolah mengerjapkan mata mereka, kehilangan kata-kata karena perkataannya Chiro.


Memang benar, anak yang bertengkar, nanti orang tua juga biasanya ikut bertengkar dengan orang tua anak lain.


Gean melirik Chiro, yang dengan lantang menyatakan keberatannya. Siapa anak itu? Apa dia anak raja yang dengan seenaknya menolak perkataan guru?


"Ibu akan tetap menghubungi kedua orang tua kalian."

__ADS_1


Yang pertama dihubungi adalah orang tua ketiga anak yang menyerang Gean, lalu mommy Gean, ketika akan menghubungi orang tua Chiro, Radhi dan Raine ... Chiro langsung mematikan telepon itu.


"Jangan menghubungi Daddy, Bu Guru." Gana kembali melirik Chiro.


Setengah jam kemudian, orang tua ketiga anak itu dan Gean datang. Khea meringis melihat wajah anak-anak itu yang memar.


"Gean, kamu kenapa, Sayang?" tanya Khea penuh khawatir.


"Heh, kamu ajarkan dong anak kamu, kenapa main kasar kepada anak-anak kami."


"Bu, anak saya tidak mungkin melakukan tindakan kekerasan lebih dulu kalau tidak ada yang menyulutnya."


"Benar."


"Apa kamu bilang."


"Tuh kan, benar kata aku. Bagaimana kalau orang tua kita juga ikut datang, kasti mereka lebih marah lagi," ucap Chiro pada Radhi dan Raine, tapi masih bisa didengar oleh yang lain.


Mereka melihat Chiro, dsn Khea masih sangat ingat dengan wajah Chiro, Radhi dan Raine.


"Kalian bertiga, ke mana kedua orang tua kalian? Kenapa mereka tidak datang?"

__ADS_1


"Mereka berempat ini kan, anak-anak broken home. Jangan biarkan anak-anak kita berteman dengan mereka berempat, bisa-bisa anak-anak kita menjadi rusak."


Mereka berempat mengepalkan tangannya.


"Eh, tante ondel-ondel, jangan menjelekkan kedua orang tua kami. Mommy Gean cantik, bunda Radhi dan Raine juga cantik, mommy aku apalagi, yang tercantik." Khea mengulum senyumnya, merasa gemas dengan Chiro.


Gean yang mendengar dia dan ketiga teman sekelasnya dibilang anak broken home, menoleh pada Chiro, Radhi dan Raine.


Apa mereka juga sama seperti aku, tidak punya daddy? Orang tua mereka bertiga tidak ada yang datang. Atau mungkin tidak akan datang, makanya anak itu melarang Bu guru untuk menghubungi kedua orang tua mereka?


"Kalian berempat ini memang anak-anak yang tidak jelas. Pantas saja kelakuan kalian urakan sekali."


Mereka berempat mengepalkan tangannya, menatap benci pada orang-orang itu.


"Bu, jaga mulut Anda. Anda tidak pantas mengatakan hal itu pada anak-anak ini," ucap Khea. Hatinya sangat sakit mendengar anaknya di hina, bukan hanya di depan dirinya saja, tapi juga di depan guru, kepala sekolah, juga teman-teman sekelas Gean.


"Suka-suka saya, dong. Saya ini donatur tetap di sekolah ini, memangnya kamu siapa?" Sebelum Khea menjawab, Chiro sudah lebih dulu menjawab.


"Aku anaknya yang punya sekolah ini, dong! Weeee!"


Guru dan kepala sekolah menghela nafas. Menghadapi para orang tua ini, maka urusannya akan semakin panjang.

__ADS_1


__ADS_2