
"Jadi aku harus bagaimana, Marco?" Ken menghela nafas panjang.
"Apa kamu sungguh menginginkan Gean?"
"Tentu saja. Bagaimana pun juga dia adalah anak kandungku, darah dagingku."
"Kamu menginginkan Gean saja, atau sama mamanya juga?"
Ken tidak menjawab. Apa kalau ingin bersama Gean, harus bersama mamanya juga? Tapi bagaimana dengan Vara? Apa Vara akan bisa menerima pilihannya?
Apa Khea juga akan menerimanya begitu saja? Ken merasa seperti ada di dua persimpangan jalan. Mana yang harus dia pilih?
Apa dengan tetap bersama Vara, maka dia akan bahagia?
__ADS_1
Apa dengan bersama Khea, semuanya akan menjadi baik-baik saja?
Ken mengacak rambutnya. Penampilannya saat ini sudah tak karuan.
"Apa kamu sudah mulai mencintai Khea?"
Ken menghela nafas berat, bingung harus menjawab apa.
Kenapa, kenapa aku harus terjebak dalam kisah rumit kakak beradik itu? Duku, tanpa sadar dan tidak sadar, aku telah menyakiti Vana. Dan sekarang, secara sadar aku akan menyakiti salah satu di antaranya lagi, bahkan mungkin diriku sendiri*.
Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin memperbaiki semuanya. Bahkan kalau bisa tidak perlu mengenal keduanya. Khea benar, akulah yang kini menyesal. Bagaimana caranya aku bisa bersama mereka tanpa menyakiti hati siapa pun.
"Kalau kamu benar mencintai Khea, jangan sampai salah melangkah lagi. Ambil semua keputusan sebelum kamu menikah dengan Vara. Setidaknya gagal menikah jauh lebih baik daripada bercerai. Keadaan akan semakin rumit kalau kamu sudah menikah dengan Vara nanti, apalagi kalau ternyata kalian cepat memiliki anak. Ingat, jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama untuk perempuan yang berbeda."
__ADS_1
Ken meresapi kata-kata Marco. Dia tahu apa yang dikatakan oleh Marco itu memang benar.
"Renungkan semuanya. Kamu juga mungkin butuh waktu untuk memikirkan dengan tenang. Ambilah liburan, dan resapi. Siapa yang akan membuat kamu paling kehilangan, dengan siapa kamu paling merasa rindu, dan dengan siapa kamu merasakan debaran itu. Pada siapa kamu merasa cemburu jika dia bersama orang lain? Semuanya, pikirkan semuanya! Bagaimana dulu kamu ke Vara dan Vana, dan bagaimana sekarang kamu ke Vara dan Khea. Apakah semuanya masih sama? Vara mungkin masih Vara yang sama. Tapi Vana dan Khea, meskipun mereka orang yang sama, tapi kini tak lagi sama. Vana adalah gadis yang dulu sangat tergila-gila padamu, sedangkan Khea adalah perempuan yang sekarang sangat membenci kamu."
Kalimat terakhir Marco itu mencubit hati Ken. Menyadarkannya kalau dulu dan sekarang sudah tidak sama lagi. Wajah boleh sama, tapi hati yang kini berbeda.
Wajah semakin cantik, tapi hati juga semakin keras.
"Carilah tempat yang nyaman untuk berlibur, dan setelah kembali lagi, kamu sudah siap dengan semua keputusan yang kamu ambil."
...🌼🌼🌼...
Dampak lain dari film ini, yaitu perhatian dari para psikolog anak. Mereka justru lebih menilai sikap Gean yang sepertinya butuh perhatian lebih besar mengenai psikisnya. Bagaimana pun juga Gean adalah korban, anak yang lahir dari hasil pe le ce han sek su al. Anak yang menjadi korban dari perceraian orang tua saja butuh perhatian, apalagi yang seperti Gean?
__ADS_1