
"Mommy, orang asing ini menyentuhku, aku tidak suka. Itu membuat aku jijik!"
Khea lalu mengusap pundak Gean yang tadi disentuh oleh Ken.
"Sudah mommy bersihkan."
"Vana, kamu ... dia ... aku ...." Ken begitu bingung apa yang harus dia katakan. Melihat Khea dan Gean, membaut jantung Ken berdetak tak karuan.
Diperhatikannya lekat-lekat wajah Gean. Perasaannya campur aduk. Antara sedih, senang, bingung, dan takut. Timbul rasa sayang untuk anak itu. Ingin sekali dia peluk. Tanpa bisa dicegah, dia langsung memeluk erat tubuh Gean.
"Aaa ... lepaskan aku!" teriak Gean.
"Jangan sentuh anakku! Bukankah Anda tadi mendengar sendiri, kalau anakku jijik disentuh oleh orang asing!" bentak Khea.
Deg
Orang asing?
"Orang asing? Tapi aku ... aku daddy-nya, Vana."
__ADS_1
Mendengar itu, Khea langsung tertawa.
"Sejak kapan aku menikah denganmu dan melahirkan anakmu?"
"Vana, mama ...." Mama Khea mendekati anaknya itu. Wajahnya sudah sangat pucat.
"Mama? Maaf Nyonya, aku Sidah tidak punya orang tua. Hanya anakku satu-satunya keluarga kandung yang aku miliki."
Sakit, itulah yang Vanya rasakan.
"Vana, Papa ...."
"Jangan seperti itu Vana. Walau bagaimana pun juga, kamu adalah orang tua kamu."
Khea kembali tertawa, lalu dia menatap Ara.
"Kamu tahu Ara? Enam tahun yang lalu, aku mendengar cerita tentang suatu keluarga yang tidak mengakui anak keduanya. Mereka mengusirnya, menghinanya, memaki dan mengatakan tidak mengakuinya lagi sebagai anak. Perempuan diusir tanpa membawa apa-apa."
Kedua orang tua Khea memejamkan mata mereka.
__ADS_1
"Perempuan itu pasti merasa sangat terhina saat itu. Tidak ada yang mempercayainya."
Khea kembali teringat hari itu. Hari di mana hatinya sangat hancur karena di usir dari keluarganya. Sejak saat itu, dia tidak ingin lagi peduli dengan keluarganya. Dia mengganti namanya, dan melepaskan semua yang berhubungan dengan keluarga yang tidak mempercayai.
Bukan dia yang meninggalkan mereka, tapi mereka lah yang mengusirnya. Bukan dia yang memutuskan ikatan keluarga, tapi merekalah yang tidak lagi mengakuinya. Mereka lebih peduli dengan anak pertama mereka. Lebih percaya pada pria bajingan yang sudah merusak hidupnya.
Hidupnya semakin hancur sejak saat itu. Khea berjanji, akan membalaskan semua sakit hati ini pada mereka. Tidak peduli mereka keluarga atau bukan.
Kheara nama yang dia pilih sebagai langkah awal menghapus jejaknya.
Malam itu, setelah meninggalkan hotel dengan hati yang hancur, Khea berjalan sendirian. Dia mengusap perutnya yang masih rata. Meski gak burik ini terjadi dalam hidupnya, tapi dia berjanji akan membesarkan anaknya dengan baik.
Kedinginan dan kelaparan, itulah yang dia rasakan saat itu. Dia dipermalukan dan direndahkan.
Rasa dendam itu menguasai hatinya.
Aku bersumpah, suatu saat nanti kalian semua akan menyesali apa yang telah kalian lakukan padaku. Berbahagialah kalian semua saat ini. Jika nanti waktunya tiba, kalian sendiri yang akan mengemis dan meminta maaf padaku.
Sejak saat itu, tidak mudah Khea menjalani hari-harinya. Banyak hal yang tidak menyenangkan yang terjadi padanya, tapi itu semakin membuat dirinya kuat. Khea juga tidak peduli lagi pada Ken. Tidak pernah mencari tahu lagi tentang pria yang menorehkan luka yang sangat besar untuknya itu.
__ADS_1
Hiduplah dengan tenang sampai nanti aku kembali lagi di hadapan kalian. Bukan untuk meminta maaf apalagi mengemis cinta, tapi aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih bahagia dari kalian.