Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
34 Sindiran Pedas


__ADS_3

"Selamat, ya."


Beberapa ucapan selamat Khea dapatkan dari orang-orang berbagai profesi. Bukan hanya ucapan selamat, tapi mereka juga memeluk Khea, menunjukkan kalau hubungan Khea dengan orang-orang itu sangat dekat.


"Bagaimana kalau sekarang kita berpesta?"


"Bagaimana, Gean?"


Tentu saja Khea juga harus bertanya pendapat anaknya itu, meski Gean masih kecil. Khea tidak mau Gean nantinya akan merasa tidak nyaman.


"Ya, Mommy memang harus banyak bersenang-senang setelah bekerja keras."


Mereka tertawa mendengar perkataan Gean yang terdengar sangat dewasa, padahal umurnya baru lima tahun.


"Oya, Ara. Perkenalkan, ini sahabat-sahabat aku yang sudah aku anggap saudara, sama seperti kamu."


Ara tersenyum dan menyalami mereka satu persatu.


"Dan ini Bunda."


Wanita paruh baya yang tadi ikut duduk di kursi VVIP itu, memeluk Ara layaknya anak sendiri. Setelah Ara perhatikan, selain dia dan kedua orang tuanya, mereka semua memang berada di bangku VVIP itu. Dia jadi teringat sesuatu.

__ADS_1


"Berarti, yang merancang gaun pertunangan aku itu, kamu?"


"Hahaha, kamu benar. Sejak dulu aku ingin memberikan kamu gaun rancangan aku, tapi aku bingung bagaimana memberikannya tanpa kamu curiga. Tidak mungkin kan, tiba-tiba aku mengirimkan gaun ke rumah kamu begitu saja."


"Lalu gaun-gaun di butik itu?"


"Tentu saja itu memang untuk kita. Kamu salah satu member VVIP aku, kan."


"Sejak dia mendirikan Crystar, aku Sidah tidak mau memakai brand lain lagi," ucap salah satu sahabat Khea.


"Ya sudah, jangan banyak bicara lagi. Ayo kita ke restoran dan bersenang-senang di sana."


Saat mereka akan pergi, seseorang menghampiri Khea.


"Maaf Nyonya, kalau ingin membicarakan masalah gaun, Anda bisa menghubungi asisten saya."


Vanya memejamkan matanya, merasa sakit akan penolakan anaknya.


Vara dan Rissa melihat kepergian Khea, designer yang selama ini mereka kagumi.


"Apa sekarang kamu berhenti untuk ngefans padanya, karena sebenarnya dia adalah Vana? " tanya Nio pada Rissa.

__ADS_1


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Karena orang pada dasarnya akan membenci apa pun yang berhubungan dengan orang yang tidak dia suka. Kamu menyukai Crystar, karena kamu tidak tahu siapa orang di baliknya. Kalau sejak awal kamu tahu, apa kamu akan mengaguminya? Apa sekarang kamu akan menganggap gaun-gaun rancangannya biasa saja, tidak sebagus designer lainnya? Apa kamu akan menjadi haters-nya? Sejak dulu kan kalian tidak pernah menganggap ada hal baik dari Vana."


Sindiran yang sangat telak. Dulu mereka memang menganggap Vana itu enggak ada bagus-bagusnya sama sekali.


"Orang yang dulu kalian bully, sekarang kalian puji."


Nio tertawa mengejek. Saat ini bukan hanya ada Nio, Ken, Vara, Rissa dan Marco saja, tapi juga ada keluarga mereka.


Nio memang bicara tanpa perasaan, itu untuk membuka hati dan pikiran mereka tentang apa yang dulu pernah mereka lakukan.


Ayah Nio hanya tertawa renyah, yang langsung ditepuk oleh istrinya.


"Aku rasa Khea akan menjadi incaran banyak pria. Dia sangat cantik dan cerdas, apalagi mempunyai anak laki-laki yang menggemaskan. Aku jadi ingin punya cucu seperti itu," ucap ayah Nio lagi.


Entah kenapa ada yang merasa tidak nyaman dengan perkataan pria yang sudah berumur itu.


"Kalian lihat sendiri kan, bagaimana banyak pria yang terpesona saat melihatnya. Aku pun begitu," ucap ayah Nio kembali tertawa.


"Honey!" ucap mama Nio.

__ADS_1


"Jangan cemburu, Sayang. Kamu juga tadi sangat terpesona dengan dirinya, kan? Dia tambah cantik, ya?"


Miranda, mamanya Nio tertawa.


__ADS_2