
Terjadi keributan antara Khea dan para orang tua lainnya.
"Maaf Pak, Bu, sebaiknya masalah ini dibicarakan dengan cara kekeluargaan saja. Tidak baik bertengkar di depan anak-anak, lagi pula, kita belum mendengar penjelasan dari mereka, kenapa mereka berkelahi."
Tanpa menunggu ditanya, Chiro langsung mengatakan semuanya. Gean melirik anak itu yang menurutnya jujur. Tidak melebih-lebihkan, tidak juga mengurangi sedikit pun.
"Tapi apa yang dikatakan oleh anak saya itu, memang benar, kan."
"Pantas saja anaknya tidak bisa menjaga sikap begitu, ternyata menurun dari orang tuanya."
"Apa kamu bilang."
Para orang tua anak itu menolak untuk meminta maaf. Mereka bahkan membawa pulang anak-anak mereka, padahal jam belajar masih berlangsung.
Khea menatap Chiro, Radhi dan Raine.
"Kalian bertiga tidak apa-apa? Apa orang tua kalian tidak datang?"
"Tidak apa. Orang tua kami sangat sibuk, jadi tidak perlu datang. Kami bertiga akan menyelesaikan masalah kami sendiri."
Khea tersenyum mendengar perkataan Chiro. Dalam hati, Khe bertanya, apa benar apa yang orang-orang tadi katakan, kalau mereka mereka adalah anak-anak broken home?
__ADS_1
Khea bisa melihat kemandirian dalam sikap mereka bertiga, sama seperti Gean. Andai saja mereka berempat bisa menjadi taman yang akrab, sayangnya Gean sangat tertutup, begitu juga dengan Chiro, Radhi dan Raine yang kelihatannya hanya ada mereka bertiga saja dalam pertemanan mereka.
"Kalian berada kembar?" tanya Khea pada Radhi dan Raine.
"Iya, kami berdua kembar."
"Kami bertiga bersaudara," jawab Raine menambahkan perkataan Radhi.
Khea tidak langsung pulang, dia masih membicarakan tentang masalah Gean dan teman-temannya, sedangkan keempat anak itu hanya duduk di taman. Chrio mengayunkan ayunan untuk Raine, sedangkan Gean hanya menatap saja.
Hingga akhirnya jam pulang sekolah tiba.
"Chiro!" Panggil seorang pria.
"Chiro, kenapa kamu terluka? Siapa yang menyakiti kamu?"
"Ini urusan laki-laki, Daddy tidak perlu tahu."
"Daddy juga laki-laki, Chiro."
"Daddy juga laki-laki, Chiro."
__ADS_1
"Tapi Daddy sudah tua."
"Sembarangan!"
"Uncle!" panggil Radhi dan Raine.
"Ya ampun, kalian berdua juga terluka? Kenapa tidak ada yang menghubungi Daddy? Apa guru-guru di sini tidak becus bekerja?"
Arby langsung menuju ruang kepala sekolah sekolah dengan diselimuti emosi.
Gean menunduk, memikirkan apa yang dia tangkap dari penglihatannya.
Apa anak yang bernama Chiro itu tidak punya mommy? Kalau aku tidak punya daddy, sedangkan dia tidak punya mommy. Radhi dan Raine juga apa tidak punya orang tua?
Gean kembali melihat anak-anak lainnya yang dijemput oleh kedua orang tua mereka dengan lengkap, meski ada juga yang hanya dijemput oleh sopir atau pengasuh. Tapi sejak bersekolah di sini, perhatian Gean tetap saja tertuju pada ketiga anak itu.
Di rumah
Berita infotainment menyiarkan tentang rencana pernikahan Ken dan Vara, dua anak konglomerat yang telah lama menjalin kasih. Pernikahan itu digadang-gadang akan menjadi pernikahan termewah tahun ini, dsn yang paling dinantikan, karena pernikahan mereka yang sudah beberapa kali ditunda.
Khea menonton berita itu dengan tatapan datar. Dia tidak merasa sedih, tapi juga tidak mengalihkan perhatiannya dari siaran itu yang terus memamerkan kemesraan keduanya yang pernah tertangkap kamera.
__ADS_1
Gean, anak itu juga menonton berita itu dari tablet miliknya. Pandangannya kosong, tapi pikirannya terus dipenuhi oleh perkataan orang-orang yang ada di sekolah tadi, dan kini saat dirinya pulang, harus mendengar berita tentang pria yang secara biologis adalah ayahnya itu, akan menikahi perempuan lain.