
"Bry, Van, maksud kedatangan kami ke sini, ingin menjodohkan Ken dengan anak kalian," ucap Hendrick dengan santai.
Deg
Jantung Ken dan Vara berdetak kencang. Apa benar yang dikatakan oleh Vana, jika Ken akan dijodohkan dengan Vana?
"Dengan anak kami?" tanya Bryan pelan.
"Benar, kami ingin melamar Vara untuk Ken."
Deg
Deg
Deg
Bukan hanya jantung Ken dan Vara saja yang berdetak kencang, tapi juga kedua orang tua Vara. Sebenarnya mereka senang Ken dan Vara bersama, tapi bagaimana dengan Vana yang juga sangat menyukai Ken.
"Kamu yakin ingin menjodohkan Ken dengan Vara?"
"Kenapa tidak? Vara cantik, mandiri, pintar dan mengerti bisnis. Bukankah sangat cocok bersanding dengan Ken? Mereka akan menjadi perpaduan yang tepat untuk perusahaan kita."
Mendengar itu, dalam hati Ken dan Vara sama-sama berbunga-bunga. Vanya dan Bryan terdiam, tidak langsung menjawab. Inilah masalahnya punya dia anak gadis yang terlibat dengan pria yang sama.
"Bagaimana Bryan?"
__ADS_1
"Aku terserah bagaimana Vara saja. Bagaimanapun juga, dia yang akan menjalani," ucap Bryan sambil menghela nafas pelan.
"Bagaimana Vara?"
Ingin sekali Vara langsung menjawab iya, tapi bagaimana dengan Vana.
"Maaf, Vara tidak bisa."
Deg
Jantung Ken berdetak kencang, dan terasa sangat sakit. Apa baris saja dirinya ditolak?
"Apa kamu tidak menyukai Ken, Vara?"
"Ini bukan hanya masalah suka atau tidak, tapi aku juga memikirkan perasaan adikku, Vana."
"Begini saja ... Ken, apa kamu setuju untuk menikah dengan Vara?" tanya Hendrick.
"Tentu saja," jawab Ken dengan sangat yakin dan cepat.
Mendengar itu, betapa senang hati Vara. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Tapi Ken, bukankah kamu sedang menyukai seorang perempuan?"
"Ya, benar. Dan gadis itu adalah kamu, Vara. Aku sudah menyukai kamu sejak lama. Vara, maukah kamu menikah denganku?"
__ADS_1
Lagi-lagi Vara tidak langsung menjawab. Dia bimbang, di satu sisi dia ingin bersama dengan pria yang sangat dia cintai, tapi di sisi lain, dia juga memikirkan perasaan adiknya.
Jadi dia harus bagaimana?
Haruskah dia egois dan mengabaikan perasaan adiknya?
Atau haruskah dia mengorbankan perasaanya demi kebahagiaan adiknya?
"Tapi Ken, Vana ...."
"Var, bukan Vana yang aku cintai, tapi kamu. Haruskah aku menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai? Jika kami menikah, aku dan dia sama-sama tidak akan bahagia. Aku tidak bisa berpura-pura mencintai dia, apalagi seumur hidup. Pada akhirnya, mungkin saja kamu akan berpisah dan itu pasti akan lebih menyakitkan untuknya."
Benar apa yang dikatakan Ken, pikir Vara. Tapi tetap saja ada keraguan dalam hati Vara.
"Vara, aku tahu kamu sangat menyayangi Vana. Tapi kamu tidak selalu harus mengalah pada dia, apalagi ini masalah hati dan pernikahan. Ada saatnya kamu harus egois dan mengutamakan kebahagiaan kamu sendiri."
"Apa yang dikatakan oleh Ken itu benar, Vara. Apalagi kamu sebagai orang tua Ken juga memilih kamu sebagai menantu kami. Kamu adalah menantu terbaik pilihan kami."
"Apa?"
Suara nyaring itu mengalihkan perhatian mereka. Vana datang dengan memegang kantong belanjaannya yang sangat banyak. Bisa dilihat kalau dia baru saja menguras rekening untuk berfoya-foya.
"Siapa yang dimaksud menantu pilihan di sini?" teriak Vana dengan wajah merah menahan kesal.
"Vana, orang tua Ken baru saja melamar kakak kamu untuk Ken," ucap Vanya.
__ADS_1
Deg
Kali ini jantung Vana yang berdetak merasakan nyeri di hatinya.