Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
50 Tentang Rissa


__ADS_3

"Kamu mengikuti aku?"


"Enggak, aku ada meeting di sini."


"Jauh banget, meeting di sini."


"Kamu juga, syuting jauh banget sampai ke sini."


Bukannya Ken tidak mau jujur, tapi dia tidak mau membuat gosip baru. Setidaknya bukan saat ini. Dia juga tidak berbohong, karena sudah meminta rekan bisnisnya untuk mengadakan meeting di sini. Pria itu sedikit bernafas lega saat melihat Khea yang sudah berganti pakaian. Kali ini Khea hanya memakai dress biasa. Di sebelahnya, Gean memakai celana pendek dengan kaos tanpa lengan. Terlihat menggemaskan, Ken jadi ingin memeluk dan mencium anaknya itu.


"Bagaimana kalau kita sekalian liburan bersama? Ayo!"


Ken memegang tangan Khea, tapi langsung ditepis oleh perempuan itu.


"Sebentar saja, ada yang mau aku tunjukkan pada kalian."


"Silahkan, Nona dan Tuan Muda."


Arka menunduk dalam, sebagai permohonan agar kedua orang itu mau ikut bersama Ken.


"Please!" Ken benar-benar memohon, terlihat sangat menyedihkan.


"Aku ingin jalan-jalan bersama Gean. Kalian juga bisa mendapatkan ide untuk gaun dan lukisan baru."


"Tapi tidak bertiga saja."

__ADS_1


"Ya, Arka akan ikut bersama kita."


Mereka masuk ke mobil masing-masing. Ya, mobil masing-masing karena Khea menolak satu mobil dengan Ken.


Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ada satu vila yang sangat besar dan terlihat sangat indah. Letaknya dekat dengan pantai namun cukup privasi. Beberapa gazebo dan dan payung pantai terletak di depan vila itu, yang menghadap ke arah pantai. Posisi vila dari segi alam pun bagus. Bisa melihat sunset dan sunrise dengan pas.


"Punya kamu?"


"Kok tahu?"


"Gak mungkin kamu mau pamerin punya orang, kan?"


Ken meringis dan tapi juga tertawa. Ya, seperti itulah Khea yang dia kenal. Selalu bicara semaunya dan apa adanya.


"Kapan pun kalian mau, kalian bisa berlibur ke sini. Entah hanya untuk mencari inspirasi atau murni liburan."


Ken menatap Khea.


Naluri bisnisnya ternyata sangat kuat.


Ken kembali teringat, saat dulu Khea selalu dimarahi oleh papanya karena sangat malas belajar bisnis. Yang perempuan itu lakukan selalu shopping dan bergaya. Yang dia pelajari hanya berias diri, jalan berlenggak-lenggok dan foto sana-sini.


Semua yang Khea lakukan selalu bertentangan dengan keluarganya, menjadikan Vara menjadi anak kesayangan keluarga mereka.


Ken menghela nafas.

__ADS_1


Dia kembali melihat Khea yang—akhirnya—tetap melakukan apa saja yang dia mau, meski masa lalu yang buruk, dan dialah penyebab masa lalu yang buruk itu.


Khea lalu membuka ponselnya, ber-selfie dan mengunggahnya ke sosial media. Diam-diam Arka memfoto ketiga orang itu. Bukan hanya satu, tapi banyak.


💕💕💕


Dokter sedang memeriksa data kesehatan Ken. Dia juga berkonsultasi dengan dokter lainnya yang pernah memeriksa pria itu di luar negeri. Hasil tes darah dan urine sudah ada di tangan.


Hasilnya sangat mencengangkan, dia kembali menganalisa dan menghubungkan antara satu masalah dengan masalah lainnya.


Aku akan menanyakan ini padanya nanti.


Di lain tempat, Vara dan Rissa sedang bersama di salah satu kafe. Kedua gadis itu membicarakan tentang hubungan Vara dan Ken.


"Jangan membicarakan itu lagi, aku jadi pusing. Ngomong-ngomong, kapan orang tua kamu kembali dari luar negeri?" tanya Vara.


"Entahlah, mereka sangat betah berada di sana. Aku sendiri lebih suka ada di sini."


"Jam tangan kamu baru?"


"Iya, baru beli kemarin."


"Padahal baru empat hari yang lalu, kamu beli jam tangan baru."


"ya namanya juga anak kesayangan, mereka akan memanjakan aku dengan barang-barang mewah," jawab Rissa.

__ADS_1


Vara diam saja, karena selama ini, Rissa tidak pernah mengeluh tentang keluarganya. Dia terlihat enjoy-enjoy saja dengan apa yang dia jalani.


__ADS_2