
Ken mendorong Rissa dengan sangat kencang, tidak peduli perempuan atau laki-laki. Toh kejahatan Rissa lebih fatal daripada apa pun.
"Jangan lagi menyakiti Khea Rissa. Baik fisiknya atau hatinya! Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, sampai kapan pun!"
Ken memeluk erat tubuh Khea, melindunginya dari pukulan dan cakaran Rissa yang ingin kembali menyerang Khea.
"Berhenti, Rissa!"
Mereka akhirnya bisa melepaskan keduanya. Keduanya sama-sama terlihat berantakan, dengan darah di sudut bibir dan wajah memar-memar.
"Aku sendiri yang akan memberi perempuan ini pelajaran. Kamu sudah membaut anakku menderita, maka aku pun akan melakukan hal yang sama padamu!"
"Aku akan memasukkannya ke dalam penjara, Khea."
"Penjara?"
"Ya, dia memang pantas mendapatkan hukuman penjara."
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mungkin membiarkan dia dipenjara!"
"Apa maksud kamu, Khea? Apa kamu akan memaafkannya?"
"Aku tentu saja tidak akan membiarkan dia hidup tenang di penjara. Makan dan minum gratis. Dia bisa saja memberikan tubuhnya agar bisa hidup tenang atau mungkin bebas. Ingat, jangan ada yang ikut campur! Kamu menggunakan aku untuk menghancurkan Vara, kan! Kamu menggunakan Ken untuk menghancurkan aku dan Vara. Baiklah, bagaimana kalau aku membalas kamu dengan cara yang sama. Kamu punya adik perempuan, kan? Bagaimana kalau dia menjadi aku?"
"Tidak! Apa maksudmu? Jangan libatkan dia. Dia tidak tahu apa-apa."
"Bukankah sama saja? Aku pun tidak tahu apa-apa soal kebencian kamu pada Vara. Aku tidak tahu apa-apa soal perasaan kamu pada Nio. Kita lihat saja, bagaimana adik kamu itu hancur, Rissa!"
"Kamu tidak pernah berpikir bagaimana kalau adik kamu yang seperti aku, kan? Apa kamu menyayangi adikmu?"
"Dan kamu! Kamu lihat, karena sahabat laknat kamu ini, aku dan anakku menderita!"
"Bukan hanya kamu dan Gean saja, tapi aku menderita, Vana!"
"Cih, kamu merasa menderita? Karena Ken tidak jadi bersama kamu? Atau karena kenyataan yang baru saja kamu dengar satu dua jam ini? Mengapa kamu itu bodoh sekali? Kalian yang berpikir aku memiliki pergaulan yang bebas, tapi tidak ada satu pun temanku yang menjerumuskan aku ke lubang penderitaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menikam ku dari belakang. Justru mereka, yang menggenggam tanganku, yang mambantu aku di saat aku paling terpuruk!"
__ADS_1
Vara dan kedua orang tuanya menunduk dalam.
"Maafkan aku. Aku yang memaksa papa dan mama—atas pengaruh Rissa—untuk berhenti mencari kamu. Aku yang salah."
"Ya, memang kamu salah dan begitu bodoh!"
Khea tidak peduli dengan jawaban Rissa. Dia langsung pergi meninggalkan hotel itu dengan tubuh yang sakit.
"Kamu serius, ingin menggunakan adiknya untuk balas dendam?" tanya Jessica.
"Ck, tentu saja tidak. Aku hanya menakut-nakuti dia saja. Biarkan saja dia selalu dihantui dengan perasaan cemas hingga dia menjadi gila karena perbuatannya sendiri."
"Kamu benar-benar melepaskan dia?"
"Tidak, lah. Aku tidak sebaik dan sebodoh itu, tahu! Aku akan membalas dia dengan sesuatu yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. Dia, akan benar-benar merasakan apa yang aku rasakan."
Jessica menuntun Khea berjalan. Di belakangnya, Ken berusaha mengikuti mereka. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Tapi belum sampai Ken mencegahnya, mereka sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1