Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
31 Ingin Bertemu Mereka


__ADS_3

Khea pulang ke apartemennya, tanpa sadar ada orang yang mengikutinya. Dia adalah anak buah Ken yang bertugas untuk mencari tahu di mana Khea tinggal dan ke mana saja perempuan itu akan pergi.


"Ya?"


"Tuan, saya sudah mendapatkan alamat tempat tinggal nona Vana."


"Tetap awasi mereka."


Ken menutup teleponnya dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya sekarang dia sudah tahu di mana Khea dan anaknya tinggal.


Malam ini Ken tidak pulang ke mansion-nya, tapi ke apartemen. Di tempat ini, dia bisa menenangkan diri, karena tidak banyak orang di sini, hanya dirinya saja. Tapi di tempat ini juga, Ken akan selalu teringat apa yang sudah dia lakukan pada Khea.


Ken membuka laptopnya, mencoba mengalihkan pikirannya pada pekerjaan. Selama ini, tapi dak ada yang bisa mengalihkan perhatian Ken dari pekerjaannya. Tapi sejak kedatangan Khea dan anaknya, semuanya jadi berubah. Pikiran Ken kini bercabang.


Ken membaca alamat di mana Khea dan Gean tinggal. Juga memandangi foto-foto ibu dan anak itu yang terlihat sangat bahagia. Ya, mereka tetap bahagia meski tanpa dirinya.


Memikirkan itu, entah kenapa hati Ken merasa sakit. Bukankah seharusnya mereka bertiga bersama, menjadi keluarga yang harmonis?


"Ya ampun, aku ini kenapa, sih?"

__ADS_1


Memikirkan mereka bertiga bersama dan menjadi keluarga yang bahagia, membuat Ken merasa dirinya sangat bodoh. Tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, Ken memutuskan untuk tidur saja.


Ternyata tidak mudah. Tidur pun dia tidak bisa.


"Ck, menyebalkan sekali!"


Ken mengganti pakaiannya, dan segera pergi dari apartemennya.


Tiga puluh menit kemudian, Ken menekan bel pintu apartemen seseorang.


Khea yang mendengar bel apartemennya diketuk, membuka pintu dan menatap datar orang yang berdiri di hadapannya.


"Maaf Tuan, Anda salah alamat. Saya bukan Vana, dan di sini bukan tempat penitipan anak, apalagi anak Anda!"


Brak!


Pintu ditutup dengan Kencang tepat di hadapan Ken. Pria itu kembali menekan bel, bahkan sampai mengetuk pintu, namun selama apa pun dan sekeras apa pun dia mengetuk, pintu itu tetap tertutup.


Ken masih saja berdiri di depan sana. Berharap kalau hati Khea akan melunak dan mau bicara dengannya. Mengijinkan dia bertemu dengan anaknya dan memeluknya.

__ADS_1


Di rumah keluarga Vara, suasana tidak secerah biasanya. Biasanya Vara akan bercanda bersama papa dan mamanya. membahas masalah pekerjaan bersama Bryan dan membahas masalah masakan bersama Vanya.


Rasa bersalah menghinggapi hati keluarga itu. Vanya kini lebih sering sakit, membuat Bryan dan Vara menjadi sangat khawatir. Bahkan sekarang perempuan yang tidak muda lagi tapi masih terlihat cantik itu lebih kurus hanya dalam waktu beberapa hari saja.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit," ajak Bryan pada istrinya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bertemu dengan Vana dan cucuku. Di mana mereka tinggal? Apa mereka baik-baik saja?"


"Nanti kita akan bertemu dengan mereka, hanya menunggu waktu yang tepat saja."


"Benarkah? Mereka mau menemui kita, kan?"


"Tentu saja, Sayang. Mereka adalah anak dan cucu kita. Sebelum bertemu dengan mereka, kamu harus sembuh dulu."


"Ya, aku pasti akan cepat sembuh agar bisa bertemu dengan mereka."


"Kalau begitu, kamu harus makan yang banyak. Jangan lupa minum obat dan istirahat yang teratur. Juga yang paling penting, jangan banyak pikiran."


Bryan mengecup kening istrinya itu. Meski sudah tidak muda lagi, mereka masih saja romantis dan saling mencintai. Vara yang melihat keromantisan kedua orang tuanya itu, merasa terharu, dan berharap dia dan Ken. juga akan seperti itu sampai kapan pun. Apa bisa?

__ADS_1


__ADS_2