Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
20 Darah


__ADS_3

20 DARAH


Dokter akhirnya keluar dari dalam UGD.


“Dok, gimana keadaan anak saya?”


“Dia kehilangan banyak darah, harus melakukan transfusi darah, dan darah yang dibutuhkan sangat banyak. Sedangkan stok darah di rumah sakit ini sudah habis. Apa ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien? Kami harus segera melakukan transfusi darah.”


Tubuh Khea bergetar, ketakutan. Dia memandang teman-temannya, yang dia tahu tidak ada satu pun dari mereka memiliki golongan darah yang sama dengan Gean.


“Mana ponselmu!” Khea merebut ponsel yang ada dalam genggaman Marco.


“Iya, aku ....”


“Cepat ke rumah sakit! Ke rumah sakit sekarang!” teriak Khea histeris.


“Gean ....” Belum sempat Khea menyelesaikan perkataannya, terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Ken datang dan langsung memeluk Khea.


“Darahmu, berikan darahmu pada anakku! Aku akan mengijinkan kamu bertemu dengan Gean, tapi berikan darah kamu padanya. Aku tidak mau kehilangan Gean. Aku tidak mau!”


Golongan darah Khea pun tidak sama dengan Gean, itu berarti darah Gean mengikuti golongan darah Ken. Meski tidak mau, tapi Khea terpaksa melakukan ini, daripada anaknya kenapa-kenapa. Lebih baik mengesampingkan rasa benci itu dulu.


Gean adalah segalanya.


“Jangan takut, aku akan memberikan darahku pada anak kita.”


Di situ, hanya Ken saja yang golongan darahnya cocok untuk Gean. Dulu, Khea pernah memeriksakan golongan darahnya dan Gean, dan ternyata Gean mengikuti golongan darah Ken.


Vara dan Rissa datang, melihat orang-orang yang sudah berkumpul. Ada kedua orang tuanya, juga ada keluarga Ken. Bahkan Nio dan Marco juga ada.

__ADS_1


Lagi-lagi, aku yang selalu diberitahu belakangan.


Padahal bukan karena diberitahu belakangan, tapi memang jarak Vara saat itu, dengan rumah sakit ini lebih jauh daripada keberadaan Ken, kelurganya dan kedua orang tua Vara saat diberi tahu. Jadi ya tentu saja dia yang datangnya paling belakangan.


Ara menatap sengit pada Vara dan Rissa.


“Kenapa kalian berdua ada di sini?” tanyanya ketus.


“Aku menghubungi Ken,” ucap Nio. Dia memang hanya menghubungi Ken, karena bagaimana pun juga, Ken adalah daddy Gean. Dan nyatanya, memang tepat Nio menghubungi pria itu, jadi Gean bisa cepat mendapatkan donor darah.


“Hmm ... aku yang menghubungi Vara. Bagaimana pun juga, kan Vara saudara Khea.”


“Saudara? Saudara rasa musuh?”


“Ara, please, jangan sekarang. Jangan menambah tegang suasana. Ini bukan waktu yang tepat untuk saling jambak!” ucap Marco.


Ken lalu datang, dengan bekas suntikan. Seharusnya pria itu istirahat lebih dulu, karena baru saja melakukan transfusi darah, tapi dia tidak mau menunggu dengan perasaan cemas. Dia ingin berada di sisi Khea, memberikan ketenangan untuk ibu dari anaknya.


Khea menggigit kukunya, dia masih saja panik. Matanya melirik kiri kanan.


“Seharusnya aku ... seharusnya aku ...,” ucapnya berulang.


“Gean melindungi aku ... Gean ... Gean ....”


“Ck, ibu macam apa kamu, yang tidak bisa menjaga anaknya? Lihat, karena kelalaian kamu, Gean sampai kecelakaan seperti ini. Ken, Om, Tante, kalian bisa merebut hak asuh Gean, karena perempuan ini tidak becus menjaga anaknya.”


Plak


Khea menampar wajah Rissa dengan sangat keras.

__ADS_1


“Apa kamu bilang? Tidak becus menjaganya? Kalau aku tidak becus menjaganya, Gean tidak akan tumbuh sampai sebesar ini. Tidak ada yang boleh merebut Gean dariku, tidak boleh. Langkahi dulu mayatku!” teriak Khea.


“Kamu ini, kenapa selalu saja mencari masalah! Pergi dari sini,” bentak Ara.


Rissa melihat Khea yang menggigit kuku-kukunya. Bagi Rissa, Khea terlihat seperti orang gila.


“Lihat, dia bersikap seperti orang gila!”


Sebelum yang lainnya bereaksi atas perkataan Rissa itu ....


Plak plak plak


Jessica—sahabat Dhea—menampar Rissa. Dari tadi dia sudah berusaha menahan diri. Tapi mendengar—apalagi secara langsung—sahabatnya dikatakan gila, sudah habis kesabaran dia.


“Jaga bicara kamu!”


Ken menekan dagu Rissa dengan kencang.


“Dengar Ris, aku tidak peduli kamu sahabat Vara atau bukan. Tapi kalau kamu berani menghina Khea, aku sendiri yang akan membalas kamu!” Ken menghempaskan Rissa hingga tubuh perempuan itu membentur tembok.


Perempuan itu juga mendapatkan tatapan tajam dari keluarga Ken dan keluarga Vara.


Bukannya menenangkan, malah memperkeruh suasana. Bukankah seharusnya di saat seperti ini, mereka semua saling merangkul, saling menguatkan, bukan malah menyalahkan orang lain dan menghina seperti itu.


Ara menatap kesal pada Marco, karena secara tidak langsung, pria itu yang sudah membawa genderuwo perempuan itu datang.


Ingin sekali Ara memberi nama-nama penghuni kebun binatang pada sahabat Vara itu. Atau mencakar wajahnya biar operasi plastik sekalian.


Udah jelek, kurang ajar, hidup lagi!

__ADS_1


__ADS_2