
Yang pasti-pasti saja, yang sudah ada di depan mata?
Anak adalah anugerah, jangan menyia-nyiakannya.
Kalimat-kalimat itu terus saja terngiang-ngiang di telinga Ken.
Khea adalah ibu dari anaknya, sedangkan Vara adalah perempuan yang dia cintai.
Khea telah memberikan dia keturunan, sedangkan Vara baru tunangannya.
Masalah hati yang akan tersakiti, pasti akan ada, tapi bukankah lebih baik sakit di awal daripada menderita belakangan?
"Saya tidak ada maksud apa-apa mengatakan ini kepada Anda, hanya berbagi pengalaman saja. Apa jadinya kalau ayah saya yang meninggalkan mama saya? Apa jadinya kalau saya ditelantarkan oleh ayah saya karena perempuan lain? Itulah yang saya pikirkan saat itu. Saya tidak mau anak saya hidup menderita dan pada akhirnya membenci saya, karena korban dari perceraian adalah seorang anak."
Benar, Gean sudah menjadi korban, apa dia akan tetap mengorbankan anaknya? Lagi pula, dia sungguh tidak rela kalau Gean memanggil daddy pada pria lain.
Gean adalah anaknya, darah dagingnya, dialah yang lebih layak memberikan kasih sayang seutuhnya sebagai seorang daddy, bukan orang lain.
__ADS_1
Dia tidak bersama Gean saat itu, bukan karena dia tidak menyayanginya, hanya saja dia tidak mengetahuinya, dan itu dia akui sebagai kebodohan terbesarnya, dan kesalahan fatalnya.
Lalu saat ini, di saat dia sudah mengetahui semuanya, tidak ada alasan baginya untuk menyia-nyiakan anugerah itu.
Rasa benci Khea mungkin akan menjauhkan dia dari Gean, tapi dia tidak akan menyerah. Bukankah manusia layak mendapatkan kesempatan kedua, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Jika peluang maaf dan diterima itu belum ada, maka dia akan membuatnya menjadi ada.
Bukankah batu akan terkikis jika sering terkena air? Seiring waktu, dia yakin ibu dan anak itu akan melunak.
"Bukannya aku sok tahu, tapi aku tahu apa yang Anda pikirkan dsn rasakan saat ini. Banyak-banyaklah berdoa, agar Tuhan memberikan jalan keluar untuk masalah Anda."
Juna melihat anak-anak dan istrinya, yang sedang membakar sosis.
Ya, hidup Ken pun akan sempurna jika bersama dengan Khea dan Gean, kan?
"Semua akan indah pada waktunya. Tidak ada penderitaan yang akan berlangsung selamanya, jika kita mau mengubah diri menjadi lebih baik. Aku bukannya mau menggurui, tapi ini pengalaman diriku sendiri."
Ken menoleh pada Juna.
__ADS_1
"Aku yakin pasti akan ada jalan keluarnya, yakinlah siapa pun yang mendampingi Anda nanti, itulah yang terbaik."
Ken kembali merenungi semuanya.
Di antara Vara dan Khea, memang Khea lah yang lebih berhak atas dirinya.
Khea yang lebih membutuhkan dia.
Bayang-bayang tentang Vana yang dulu mengejar-ngejar dia, serasa seperti film yang diputar cepat. Dia sangat menyesal dulu tidak pernah mempedulikan perasaan perempuan itu, membuatnya seperti pengemis cinta.
Sekarang dia sendiri yang merasakannya. Mengejar-ngejar, bahkan memohon. Dia seperti budak cinta yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hati perempuan itu.
.
.
.
__ADS_1
Sepi amat sih ini, jadi gak semangat aku mau lanjutnya. Pada ke mana ini pembacanya?🥺
Udah dua bab loh, hari ini. Dukungannya, ya🤗